Senin, 22 Desember 2008

khirnya Kusetubuhi Mertuaku


Pada suatu kesempatan keluarga besar isteriku mengadakan liburan bersama ke Puncak. Kami menginap di villa yang dibeli oleh almarhum bapak mertuaku. Karena kami cukup disibukkan oleh kegiatan kami masing-masing, kesempatan untuk berlibur bersama ini adalah kesempatan yang cukup lama. Villa tersebut letaknya di Cipayung, agak terpencil dan dijaga oleh sepasang suami-isteri yang cukup berumur, yang berasal dari kampung ibu mertuaku. Selain menjaga villa, mereka juga mencoba berkebun di tanah sekitar villa yang cukup luas itu. Atas usul salah seorang kakak iparku dan disambut dengan antusias oleh sebagian besar keluarga, direncanakan pada hari kedua ramai-ramai kami akan ke Taman Safari. Namun, isteri kakak iparku yang paling tua, yaitu Mbak Uci berkeberatan untuk ikut karena anaknya yang paling kecil baru berusia dua bulan. Padahal yang mengusulkan itu adalah suaminya sendiri, karena anak mereka yang pertama sangat ingin ke Taman Safari. Akhirnya diputuskan bahwa rencana itu tetap dijalankan. Tidak tega melihat Mbak Uci bersedih, ibu mertuaku akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat dan akan menemani Mbak Uci. Walaupun ada beberapa yang berkeberatan, tetapi karena bapak dan ibu penjaga villa tersebut sudah terlanjur diajak dan tampaknya mereka antusias sekali, akhirnya keinginan ibu mertuaku tersebut disetujui. Mengetahui rencana tersebut, terlintas di kepalaku rencana kotor untuk mewujudkan keinginan menyetubuhi ibu mertuaku. Sambil berjalan-jalan di kebun, kuhubungi Joko melalui handphone. Joko kaget menerima teleponku. Kuceritakan pada Joko keinginanku untuk memberikan imbalan atas kesempatan yang aku peroleh untuk tidur dengan Nina. Imbalan yang kutawarkan bukanlah kesempatan untuk meniduri isteriku, melainkan dengan isteri kakak iparku, yaitu Mbak Uci. Kukemukakan skenario yang kurancang sedemikian rupa kepadanya. Mulanya Joko agak ragu, tapi setelah kuyakinkan, akhirnya ia menyetujui hal itu. Ia sendiri pernah mengagumi wanita-wanita dalam keluarga isteriku yang memang cantik-cantik, ketika ia memperhatikan foto keluarga di ruang kerja kantorku. Berbekalkan persetujuan Joko itu, ketika makan malam kuungkapkan kepada keluarga bahwa aku tidak dapat ikut ke Taman Safari karena ada urusan pekerjaan mendadak yang aku harus selesaikan. Dan untuk itu aku besok harus bertemu dengan bawahanku di Bogor. Walaupun agak kecewa, akhirnya isteriku dan anggota keluarga yang lain dapat memahaminya. Dalam suasana riang, rombongan berangkat ke Taman Safari keesokan harinya. Setelah mencek posisi kamera video yang aku persiapkan untuk merekam rencanaku untuk menyetubuhi mertuaku, aku pun pamit pergi ke Bogor. Joko kutemui bersama dengan salah seorang temannya yang bernama Herman di salah satu rumah makan, sesuai dengan rencana yang kami buat kemarin. Di rumah makan itu, aku menjelaskan lebih rinci rencana yang aku rancang. Secara garis besar skenario yang aku rancang adalah situasi perampokan. Di mana Joko dan Herman pada mulanya hanya berpura-pura ingin merampok, tetapi kemudian tertarik untuk memperkosa Mbak Uci. Aku menegaskan bahwa mereka boleh menyetubuhi Mbak Uci tetapi tidak boleh menyetubuhi ibu mertuaku. Paling jauh mereka hanya boleh merangsang Ibu mertuaku. Kemudian aku datang, dan dengan rangkaian tertentu yang akan aku ceritakan nanti, aku dipaksa untuk menyetubuhi ibu mertuaku. Setelah merasa cukup jelas, kemudian mereka pergi untuk menjalankan rencana kami itu. Sepeninggal mereka, aku membayangkan hal-hal yang akan terjadi nanti. Aku berharap bahwa rencana tersebut dapat berjalan lancar. Di tengah lamunanku itu, yakni kurang lebih setengah jam setelah Joko dan Herman pergi, datanglah bawahanku. Setelah menandatangani surat-surat yang sebenarnya tidak harus aku tandatangani hari itu, kusuruh bawahanku pulang dan mengatakan bahwa surat itu harus diantar hari itu juga. Setelah membeli beberapa makanan ringan, akhirnya aku naik kembali menuju villa tempat kami menginap di Cipayung. Sesampainya di sana, kulihat suasana villa sepi. Setelah menekan gas mobil dengan agak kencang sebagai tanda yang telah kami sepakati, aku berjalan menuju ruang tamu villa tersebut yang dalam keadaan tertutup. Pintu kubuka dan bersamaan dengan masuknya aku ke dalam ruang tamu, tiba-tiba aku ditodong dengan pistol, yang sebenarnya aku tahu bahwa itu hanyalah pistol mainan walaupun bentuknya sangat mirip dengan pistol sungguhan. "Angkat tangan dan jangan ribut" kata Herman. Aku pura- pura kaget dan mengangkat tanganku. Kulihat di salah satu sofa ibu mertuaku duduk diam memandang ke arah kami dengan wajah ketakutan. Di seberangnya, kulihat Joko sedang duduk bertelanjang dada. Sementara itu mbak Uci terbaring di sampaingnya dalam keadaan hampir telanjang bulat. Dasternya kulihat tergeletak di bawah sofa tempat mereka berada, ia hanya memakai BH dan celana dalam saja. "Ahhh ... " gumamku lega dalam hati. "Ada apa ini?" tanyaku. "Diam! Jangan banyak tanya" jawab Herman dengan setengah membentak. Kemudian aku digiringnya untuk duduk di sebelah kiri mertuaku. Kemudian sambil mereguk minuman yang ada di meja, Herman berputar dan duduk di sebelah kanan mertuaku. Dengan wajah yang kubuat terlongong-longong kualihkan pandanganku ke arah Joko dan Mbak Uci, dan ke arah mertuaku bolak-balik. Kadang-kadang kupejamkan mataku, mengikuti apa yang dilakukan oleh mertuaku. Sementara itu, Joko sudah mulai aktif kembali menggumuli Mbak Uci. . Sesekali kudengar helaan nafas halus bergantian dengan isakan dari mulut mbak Uci. Kulihat juga mata mbak Uci berkaca-kaca. Sebenarnya kasihan juga aku melihat keadaannya itu. Tetapi, nafsu telah membutakan hati nuraniku. Tanpa kusadari, kemaluanku secara berangsur- angsur mulai membesar melihat situasi yang ada. "Hai perempuan tua .. buka matamu, jangan ditutup terus" kata Herman kepada mertuaku. "Apa kamu tidak mau menikmati tontonan yang seru ini" sambung Herman lagi. Mertuaku diam saja dan tetap memejamkan matanya. Kulihat butiran air mata menetes di wajahnya. "Sini kamu" kata Herman sambil menarik tubuh mertuaku hingga bersandar didadanya. Tangan kiri Herman mulai meraba-raba payudara mertuaku, sedangkan tangan kanannya tetap memegang pistol itu. Sambil mengarahkan psitol itu ke arahku, Herman berkata "Jangan macam-macam kamu, atau aku tembak". Dalam hati sebenarnya aku ingin tertawa. Tetapi aku diam saja. Ketika kulirik, Joko baru saja melepaskan BH mbak Uci. Kudengar lenguhan tertahan ketika Joko mulai menciumi buah dada mbak Uci. Kulihat Ibu mertuaku melirik ke arah mereka selama beberapa saat, kemudian memejamkan matanya lagi. Tangan Herman kulihat sudah berada di bagian bawah, di sekitar kemaluan mertuaku. Terkadang meremas, terkadang memutar. Sesekali kudengar helaan nafas mertuaku. Tiba-tiba terdengar tangis bayi. Kulihat Herman acuh saja. Sedangkan mbak Uci kulihat melirik ke arah mertuaku dan aku. "Tolong dong ... bayi saya bangun" kata mbak Uci. "Biar perempuan tua itu saja yang mengurus" kata Joko merasa terganggu. "Bajingan ini bagaimana" tanya Herman. "Ikat saja di kursi itu" kata Herman sambil mendongakkan dagunya ke arah kursi malas yang ada di ruangan itu. "Talinya ... tidak ada boss" komentar Herman. Setelah berpikir beberapa saat, kemudian Herman berkata "Bodoh ... telanjangi saja dia dan ikat pakai baju dan celananya". Wah ... ini sih tidak ada dalam rencana, kataku dalam hati. Sambil mengarahkan pistol ke arahku, lalu Herman menyuruhku membuka baju dan celana. Sementara aku membuka baju dan celanaku, tangis bayi semakin mengeras. Mertuaku yang bangkit berdiri, dibentak oleh Herman sambil menyuruhnya untuk menunggu dulu. Setelah tinggal celana dalam, kemudian Herman menyuruhku berbaring di kursi malas di sebelah sofa tempat kami tadi duduk. Kemudian ia meyuruh ibu mertuaku untuk mengikat kedua tanganku pada lengan kursi malas itu dengan mempergunakan baju dan celanaku. "Yang keras ya ... nanti aku periksa!" katanya. Dengan kebingungan, mertuaku melaksanakan apa yang diperintahkan Herman. Aku sempat merasa malu dan tidak enak hati kepada mertuaku, karena sambil mengikat ia sempat melirik ke arah celana dalamku. Aku yakin bahwa ia dapat melihat bahwa kemaluanku sudah tegang. Aku khawatir, ia curiga kepadaku bahwa dalam keadaan menegangkan seperti ini koq aku dapat terangsang. Dengan terlebih dahulu pura-pura memeriksa ikatan pada kedua tanganku, kemudian Herman menggiring mertuaku ke kamar di mana bayi berada. Kudengar Joko meminta mbak Uci untuk menciumi kemaluannya. Pada awalnya mbak Uci berkeberatan, kalau mau menyetubuhi, setubuhi saja aku katanya. Tetapi setelah diancam bahwa bayinya akan disakiti, dengan gerakan malas mbak Uci mulai melaksanakan apa yang Joko minta. Beberapa saat kemudian suara bayi tidak terdengar lagi. Sementara itu, sambil meremas-remas dada mbak Uci yang duduk di lantai, Joko meminta supaya mbak Uci lebih bersemangat lagi menciumi kemaluannya. Walaupun ada peningkatan, tetapi tidak perubahan yang berarti dari gerakan-gerakan mbak Uci. Kemaluanku sendiri menjadi semakin mengeras dan mulai menyembul keluar di bagian atas. Mendengar langkah-langkah berjalan datang dari arah kamar, mbak Uci menghentikan ciuman-ciumannya dan bertanya "Kenapa Bu?". "E'e" jawab mertuaku singkat. "Teruskan" kata Joko sambil menarik kepala mbak Uci ke arah kemaluannya. Ibu mertuaku agak terbeliak melihat keadaan Joko dan mbak Uci, dan kemudian melirik ke arahku. Kemudian mereka duduk lagi, dan Herman melanjutkan pelukan dan remasannya pada ibu mertuaku. "Cepatan dong boss, gantian ... "kata Herman. "Pakai saja itu perempuan tua" kata Joko. "Enggak minat. Pasti sudah kendor" kata Herman. Mbak Uci terlihat meringis kesakitan ketika Joko mulai memasukkan kemaluannya. Tidak terlalu lama mengayunkan pinggulnya, kemudian terlihat tubuh Joko mengejang dan akhirnya menelungkup lemas di atas tubuh mbak Uci. Sudah eyakulasi tampaknya dia. "Giliranku deh" kata Herman. Sambil berdiri Herman melirik ke arahku dan kemudian berkata "Gila ... ni bajingan ngaceng juga. Pengen ...?" katanya dengan gaya mengejek. Setelah menyerahkan pistol kepada Joko, kemudian Herman menarik mbak Uci berdiri dan menggiringnya ke arahku. "Buka celana tuh bajingan dan kamu masukin kontolnya ke memekmu" kata Herman. Aku terkejut tetapi senang. Sebenarnya ini tidak ada dalam skenario. Tapi malah aku jadi berkesempatan merasakan kemaluan mbak Uci. Dengan wajah bingung, mbak Uci menatapku dan kemudian menundukkan kepalanya. Dengan perlahan ia mulai menarik celana dalamku. Akhirnya bukan kepalanya saja yang menghirup udara segara karena menyembul dari balik celana dalam, seluruh selangkanganku juga jadi mendapat udara segar. Dengan agak ragu-ragu, mbak Uci jongkok di atas pinggulku dan kemudian memegang kemaluanku. "Halusnya tanganmu mbak" batinku dalam hati. Kemudian ia mengarahkan kemaluanku ke mulut kemaluannya. Terasa hangat, dan aku sebenarnya sudah tidak sabar lagi ingin masuk. Bless ... akhirnya kepala kemaluanku masuk ke dalam kemaluan mbak Uci. Terasa licin dan lembut dinding kemaluan mbak Uci. Boleh jadi maninya Joko yang menyebabkan kelicinan itu. Walaupun demikian, kemaluan mbak Uci tetap terasa rapat dan sempit. Mbak Uci menurunkan lagi pinggulnya, sehingga hanya sekitar seperempat bagian saja yang belum masuk. Terlihat mbak Uci memejamkan matanya. Sambil menahan nafas, akhirnya mbak Uci menekan lagi pinggulnya ke bawah sehingga seluruh kemaluanku masuk. Kulihat mbak Uci menggigit bibir bawahnya. Kutegangkan kemaluanku di dalam kemaluannya, sambil merasa bahwa mbak Uci mulai mengangkat pinggulnya lagi. Entah disengaja atau tidak, kurasakan kemaluan mbak Uci agak mengencang ketika pinggulnya turun lagi. Baru lima kali turun naik, tiba- tiba terdengar Herman berkata "Cukup ! Sekarang giliranku.". Kulihat mbak Uci terkejut dan menatapku sejenak. Belum hilang rasa kagetku, Herman telah menarik mbak Uci dari atas tubuhku dan menyeretnya ke sofa di mana tadi Joko mengerjai mbak Uci. "Sialan!" kataku dalam hati. Tanpa basa-basi, begitu berbaring Herman langsung memasukkan kemaluannya ke kemaluan mbak Uci dan mulai mengayunkan pinggulnya. Tidak terlalu lama kemudian terlihat kaki-kaki mbak Uci menegang dan kaki kanannya menjejak-jejak halus di sofa. "Masa sih orgasme?" tanyaku dalam hati. Kulihat ibu mertuaku juga agak mengernyitkan alisnya. Joko yang dari duduk dengan agak lemas tiba-tiba berkata kepadaku "hai bajingan, masih pengen?". Aku diam saja. Kemudian Joko melanjutkan "Hai perempuan tua, tunjukkan pengalamanmu ke bajingan itu" sambil menggoyang-goyangkan pistolnya ke arah ibu mertuaku dan ke arahku. Mertuaku terhenyak diam saja. "Cepat ... buka bajumu" kata Joko. Setelah terdiam beberapa saat, kemudian dengan terbata-bata mertuaku berkata "Saya mohon ... jangan paksa saya melakukan itu. Kami kan masih keluarga". "Wah, malah kebetulan, saya jadi malah ingin lihat" jawab Joko sambil mulai membuka kancing baju mertuaku dan kemudian menyusupkan tangan kirinya ke dada kiri mertuaku. Mertuaku berusaha menepis tangan Joko, tetapi tampaknya ia tidak cukup punya keberanian untuk menepisnya dengan keras, sehingga didiamkannya saja ketika Joko meremas-remas dadanya. "Lumayan untuk seorang wanita tua" kata Joko sambil menarik keluar tangannya dari BH mertuaku. "Cepat buka sendiri seluruh pakaianmu sampai bugil, kalau tidak aku sakiti cucumu!" kata Joko mengancam. Mendengar ancaman itu, ibu mertuaku dengan terpaksa mulai membuka baju dan roknya. "Pakaian dalamnya juga" perintah Joko melihat mertuaku berhenti membuka pakaiannya. Akhirnya terpampanglah tubuh bugil wanita idamanku. Walaupun sebenarnya secara fisik, tubuh beliau tidaklah semontok dan seindah kakak-kakak iparku, tetapi bagi saya tetap beliaulah yang lebih menjadi idaman. Joko mendorong tubuh bugil mertuaku ke arahku, sehingga beliau agak terjerembab jatuh di atas tubuhku. Seerrrrr ... rasanya ketika pinggir dada mertuaku menyentuh kemaluanku. "Buka ikatannya" perintah Joko pada mertuaku. Mertuaku tertegun sejenak, pandangan matanya beralih-alih dari tubuhku yang ada di bawahnya ke arah sofa dimana mbak Uci dan Herman berada. Dengan terpaksa, secara perlahan beliau membuka ikatan di tangan saya. Tangan kiri dulu, baru tangan kanan. Ketika membuka ikatan di tangan kanan, sekilas terasa puting payudaranya menyentuh perutku. Desiran halus terasa kembali di dadaku. Entah apa yang ada dipikiran dan hati mertuaku saat itu. Namun terlihat, beliau sangat galau sekali. "Sampai juga pada puncak rencana" gumamku dalam hati. Begitu ikatan di tanganku terlepas, aku bangkit duduk. Sempat juga tubuhku bersentuhan dengan tubuh telanjang mertuaku. Aku duduk termenung sebentar dan kemudian berkata "Bolehkah kami melakukannya tidak disini" pintaku kepada Joko dengan nada yang diatur sedemikian rupa sehingga terdengar memelas. "Tawar- tawaran lagi, cepat kamu kerjai tubuh perempuan ini" bentak Joko. "Kasihan mertua saya pak, kursi ini keras sekali. Lagipula, pengalaman ini akan sangat berat buat kami. Bolehkah kami melakukannya di tempat tidur" tawarku. Kulihat mbak Uci sempat melirik ke arah kami, sedangkan ibu mertuaku diam saja dengan kepala tertunduk. "Ya sudah sana, tapi jangan coba macam-macam" kata Joko dengan nada tinggi. Dengan tubuh bugil, kugandeng mertuaku menuju kamar dimana aku telah mempersiapkan kamera video untuk merekam kejadian yang akan terjadi. Joko mengikuti kami dari belakang. Sementara Joko berdiri di depan pintu, kami duduk di tempat tidur. "Apa yang harus kami lakukan" tanyaku pada Joko. "Ngentot ... goblok!" katanya. Dengan gaya ragu-ragu aku mulai membantu mertuaku berbaring sambil berbisik "Maaf bu ....". Lalu aku bangkit berdiri. Kupegang dengkulnya yang merapat satu sama lain, dan kemudian kurenggangkan. Walaupun akhirnya kedua dengkul mertuaku menjadi terbuka, tapi pada awalnya aku merasakan agak kencang kedua dengkul tersebut merapat satu sama lainnya. Sambil menciumi dengkul kanannya, aku kemudian bersimpuh di lantai sehingga posisiku cukup enak untuk menciumi selangkangan mertuaku yang terbaring di pinggir tempat tidur dengan kaki yang dapat menjuntai ke bawah. Di selangkangannya, aku tidak langsung menciumi kemaluan mertuaku, melainkan aku menciumi pangkal paha dan paha bagian dalam. Sesekali pinggul ibu mertuaku menggeliat. Mungkin karena geli. Aku terus menciumi pangkal paha dan daerah sekitar kemaluan, tetapi tetap tanpa menyentuh kemaluan mertuaku. Dari isteriku aku tahu bahwa ia sering penasaran kalau aku perlakukan begitu. Aku berharap ibu mertuaku juga jadi terangsang dan penasaran agar mulutku menyentuh kemaluannya. Entah karena kebetulan, entah karena sengaja, suatu saat geliat pinggul mertuaku menyebabkan mulutku menyentuh kemaluannya. Aku, yang sebenarnya sudah tidak sabar, langsung saja menciumi kemaluan mertuaku itu. Dengan tekanan ringan kutempelkan bibirku di bibir kemaluannya. Lidahku mulai berulang- ulang menyapu dengan lembut bibir kemaluan mertuaku. Aku mencoba menyelipkan lidahku di antara bibir kemaluannya. Kudengar rintihan halus tertahan dari mertuaku. Mendengar itu, aku menjadi semakin bersemangat. Ketika kurasakan ada benda kecil yang semakin membesar di sebelah atas kemaluan mertuaku, kujilat-jilat benda yang kira-kira sebesar kacang itu. Aku tahu bahwa itu adalah klitoris mertuaku. Dengusan nafas mertuaku semakin membuatku bersemangat, apalagi ketika kurasakan tangan kiri mertuaku menyentuh siku bagian dalam dari tangan kananku. Aku mengira bahwa beliau mulai terangsang. Aku makin cepat menggerak-gerakkan lidahku pada klitorisnya. Sesekali kukulum lembut benda itu. Terdengar kembali rintihan lirih dari mulut mertuaku. Setelah beberapa saat, aku merasa bahwa kaki mertuaku mulai bergetar lembut. Dengan penuh keyakinan, sebagaimana pengalamanku dengan isteriku maupun dengan Nina, kumonyongkan mulutku seperti huruf O, kusentuh klitorisnya lalu kuhisap lembut. Kemudian kukulum klitoris itu dengan lembut, makin lama makin keras. Pinggul mertuaku sesekali bergerak ke atas, seakan mendorong mulut dan wajahku. Kuikuti gerakan-gerakan pinggul mertuaku itu tanpa berusaha memaksa agar turun kembali ke bawah. Tiba-tiba kedua paha mertuaku menjepit dengan ketat kepalaku. Aku menduga bahwa beliau orgasme. Kubiarkan klitorisnya berada dalam mulutku beberapa saat sambil sesekali kusapu dengan lidahku. "Aaggghhh .... " kudengar erangan tertahan dari mulut mertuaku sambil memegang lebih keras siku tangan kananku. Dan secara berangsur jepitan pahanya pada kepalaku mulai mengendor, sehingga aku lebih dapat bernafas lega. Walaupun aku tidak tahu pasti, tapi aku agak yakin bahwa mertuaku baru saja mencapai orgasme. Sedikit kegembiraan dan kebanggaan hinggap di hati dan pikiranku. Ternyata, aku dapat membuat orgasme wanita idamanku, gumamku dalam hati. Kulirik wajah mertuaku yang sedang memejamkan matanya, dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit kelegaan jika dibandingkan dengan beberapa saat sebelumnya yang sangat tegang dan agak ketakutan. Dengan lembut, sesekali kuremas buah dada kiri mertuaku. Tidak ada perlawanan ketika kulakukan hal itu, bahkan kudengar lenguhan nafas terlepas. Kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, seakan menuntut untuk dipuaskan. Karena itu, aku mulai merayap naik ke tempat tidur sambil mengangkat dan mendorong kedua kaki mertuaku hingga berada di bahuku. Kulirik mertuaku, matanya tetap terpejam, namun gerakan didadanya yang seirama dengan desah nafasnya terlihat cukup cepat. Dengan menyandarkan kedua lututku ke pinggir tempat tidur, kudekatkan kemaluanku ke selangkangannya. Kugenggam kemaluanku dengan tangan kananku dan kemudian kutempelkan dengan lembut ke atas bibir kemaluannya. "Sseerrrr......" kurasakan desiran halus di dadaku. Kubelai-belai bibir kemaluannya dengan kepala kemaluanku. Lendir dari kemaluanku yang keluar dari kepala kemaluanku dari tadi turut membasahi bibir kemaluannya. Geli-geli hangat, dan nikmat rasanya. Ketika kuperlakukan begitu, beberapa kali terlihat pinggul mertuaku bergerak-gerak kecil. Setelah beberapa saat, kemudian kuturunkan kaki mertuaku dari atas pundakku, dan kemudian secara perlahan aku bergerak naik dan mulai mengangkangi tubuhnya dengan bertopang pada tangan kiriku saja. Sedangkan tangan kananku tetap menempelkan kemaluanku ke kemaluannya. Karena tangan kiriku terasa mulai pegal menopang tubuhku, kemudian kugunakan juga tangan kananku. Kemaluanku yang tetap menempel pada kemaluannya, mulai kugerakkan dengan menggerakkan pinggulku turun naik. Desiran demi desiran kurasakan di dadaku, seiring dengan nafasku yang semakin memburu. "Belum masuk saja sudah begini nikmat" batinku dalam hati. Kemudian kuturunkan tubuhku, sehingga dadaku menyentuh dadanya, dan akhirnya aku menindih tubuhnya. Kembali desiran halus dengan intensitas yang agak kuat kurasakan di dadaku. Kulihat mertuaku tetap memejamkan matanya. Karena kulihat tidak ada keberatan dan perlawanan, apalagi aku merasa telah berhasil membuat mertuaku orgasme, kemudian kuberanikan diri untuk memegang sisi kepalanya dengan kedua telapak tanganku. Mulai kuciumi kuping kiri mertuaku. Aku berencana ingin mencium bagian belakang daun telinga mertuaku, dengan harapan bahwa ia akan terangsang dengan cukup hebat, sebagaimana terjadi pada anaknya, yaitu isteriku. Ternyata harapanku itu bukan harapan kosong. Desahan dan lenguhan nafas mertuaku menjadi semakin seru. Aku menjadi tambah semangat, sambil terus menggesek-gesekkan kemaluanku ke kemaluannya. Kurasakan pergesekan kemaluanku dengan kemaluannya semakin menjadi mudah karena adanya cairan yang mulai membasahi kemaluan kami. Karena rangsangan yang kuperoleh sedemikian hebat, aku tidak tahan lagi. Dengan bantuan tangan kananku, kemudian kuarahkan kepala kemaluanku ke arah bibir kemaluannya. Setelah merasa pada posisi yang tepat, kemudian kudorong- dorong kepala kemaluanku berusaha memasuki kemaluannya. Usaha itu kemudian membuahkan hasil. Kepala kemaluanku mulai memasuki gerbang kemaluan ibu mertuaku. Jepitan hangat dan lembut dari dinding kemaluan mertuaku terasa di kepala kemaluanku. Kugoyang-goyangkan pinggulku ke atas ke bawah dengan gerakan-gerakan kecil, makin lama terasa kemaluanku makin dalam terbenam dalam kemaluannya, sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kemaluannya. "Akhirnya ...." gumamku dalam hati, sambil merasakan kenimatan, kehangatan dan desiran yang menjalar ke seluruh sudut tubuhku. Setelah kudiamkan beberapa saat, akhirnya kegerakkan pinggulku dengan gerakan memompa kemaluanku keluar masuk kemaluan ibu mertuaku. Kenikmatan semakin merajalela menjalar di seluruh tubuhku, terlebih rangsangan secara mental karena yang sedang kusetubuhi ini adalah ibu mertuaku, yang merupakan wanita idamanku selama ini. Desisan demi desisan yang keluar dari mulut mertuaku terdengar bergantian dengan deru nafasku sendiri. Kadang- kadang kurasakan gelinjang kecil dari pinggul mertuaku. Bagaikan lupa pada status hubungan kami dan kondisi yang sedang kami hadapi, yaitu di bawah paksaan penodong, kedua kaki mertuaku mulai kurasakan merangkul pinggul dan pinggangku. Kadang terasa hanya menempel saja, kadang terasa menjepit dengan keras. Sekali waktu, kedua kaki mertuaku membelit dengan keras kedua kakiku dan tubuhnya agak mengejang. Merasa kemungkinan bahwa mertuaku mengalami orgasme lagi membuatku menjadi makin bersemangat dan bernafsu, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi. Akhirnya, seraya mendorong sedalam mungkin muncratlah air maniku di dalam kemaluannya. Tubuhku mengejang ritmis beberapa kali diiring lenguhan nafas lega dari hidungku. Kupeluk erat tubuh mertuaku dan secara bertahap akhirnya aku terkulai beberapa saat di atas tubuh mertuaku.

AKU DAN PEGAWAI PART TIMER


Di kantor itu aku baru diterima sebagai pegawai tetap, sebagaimana biasanya proses beradaptasi dan berkenalan dengan pegawai yang lainnya, ada salah satu pegawai wanita yang tadinya sih biasa-biasa saja, tidak menarik perhatianku namanya Riri (bukan nama sebenarnya) dalam perjalanan waktu kami sedikit akrab karena kebetulan dia duduk di samping meja kerjaku, dari ceritanya ternyata dia hanya part time karena di rumah tidak ada kerjaan, lagi pula dia baru datang ke Jakarta ikut suami, tubuhnya kecil mungil putih agak sintal aku taksir umurnya baru tiga puluhan lebih dikit, dia selalu memperhatikan setiap gerakku dan suka curi pandang, kalau aku tatap dia tersenyum sedikit menggoda, karena itu aku coba berani bercanda mulai dari yang ringan sampai nyerempet-nyerempet porno ,dia selalu menanggapi, suatu saat aku bilang, "Ri, pergelangan kakimu seksi lho, coba aku pegang boleh nggak".
Dia bilang, "Boleh, kenapa gitu".
Aku lingkarkan jari tanganku dan kuukur, ternyata jempol dan jari tengahku bisa ketemu dan di belakang mata kakinya ada lekukan yang tegas. "Wah, gila ini perempuan pasti suaminya beruntung". Aku memang pernah dapat info bahwa ciri wanita yang demikian, istilah dengan teman temanku pokoknya tidak habis tiga rebo deh, (Saking enaknya) hal ini yang bikin aku ingin mencoba kalau bisa.

Kesempatan itu datang waktu dia bilang dia mau mengundurkan diri, aku tawarkan, "kita rayakan perpisahan dengan jalan berdua mau nggak". Eh, ternyata di bersedia, lalu sepulang kantor kuajak dia nonton bioskop, aku pilih cerita film yang sepi penontonnya dan memilih tempat strategis ,singkat cerita aku cuma sempat nonton seperempat cerita, karena kuberanikan pipiku kusentuhkan ke pipinya yang akhirnya berlabuh di bibirnya, terasa bergetar bibirnya yang tipis dan lembut itu.

Tanganku mulai membelai dan dia diam saja aku tahu dia menahan nafas ketika tanganku mulai mengunjungi sudut cita-cita laki-laki, semula pahanya bertahan namun renggang juga, lalu jemariku menerobos dari celah celana dalamnya, semula cuma lembab tapi sedikit sentuhan di titik celah bibir kemaluannya terasa licin dan segera membasahi permukaan dari bawah sampaihingga ke atas, kutekan sambil kugesek clitorisnya. Wow, kini clitorisnya mulai mengeras.
"Pulang yuk", bisiknya, aku setuju.
"Pulang ke mana?", pancingku.
"Ke motel ,yuk", katanya.


Amboi hatiku deg-degan badanku agak demam karena membayangkan apa yang akan terjadi.
"Kamu nakal ya", sambil mencubit burungku, aku tak bisa mengelak karena kedua tanganku memegang stir mobil. Dalam perjalan itu ruitsleting celanaku dibukanya dan dengan sigap dikeluarkannya rudalku, tanpa canggung diselusupkan kepalanya diantara stir dan perutku, dihisap dan dijilatnya.
"Aaah Gila kamu", kataku.
"Biar saja, rasakan pembalasanku, balasan yang tadi di bioskop", katanya.

Di motel, dia yang menyerangku.
"Sekarang kamu harus bertanggung jawab, dan harus dituntaskan di sini ya", katanya sambil mendengus bernafsu.
"Tenang, tenang pasti, aku kan juga siap", kataku.
"Ayo buktikan", katanya sambil meremas rudalku yang juga sudah siap launching, kulepas bajunya dan Bra, dan bukit susunya seperti tidak berubah walau tanpa BH kencang tergantung di dadanya dengan puting coklat mengeras, sambil kuhisap kumainkan lidahku berputar, dia merengek seperti anak kecil kegelian, kubuka roknya sekaligus celana dalamnya, kuturunkan ciumanku ke arah pusarnya dan kujilat lagi sekitar pusarnya.

Aku sengaja berhenti di situ walau aku tahu dia ingin lanjut, aku berdiri kini gantian dia yang melucuti pakaianku seperti yang kulakukan padanya, dia lakukan padaku tapi dia teruskan dengan menjilat penisku. Wuiih, rasanya, mulutnya kecil, giginya kecil rasanya geli sekali, ini permainan lihai rupanya, akupun tidak mau kalah. Ditariknya tanganku ke ranjang dan rupanya dia sudah ingin dimasuki oleh penisku, tapi tidak aku turuti, aku ajak dia main 69 dulu, kumainkan clitorisnya dengan lidahku, kuputar dan kupijat bagian sisi clitorisnya yang basah dan mengeras.

Tiba-tiba dia merenggang dan mengerang panjang terasa clitorisnya juga mengeras kejang, rupanya dia orgasme duluan tapi dia tidak bilang, Bukit bibir vaginanya kulihat mengembang, sambil kubiarkan dia istirahat untuk orgasmenya yang ke dua kuciumi paha bagian dalamnya, dia hanya bisa bilang, "Maaaas, maaaas".

Kini ujung rudalku kuletakan di gerbang vaginanya yang mulai basah lagi, dia menarik pantatku agar segera merasakan batangku yang sudah seperti kayu, kuturuti tapi aku masukan dengan perlahan sekali, aku ingin menikmati perjalanan batang penisku ke dalam lubangnya itu mili demi milimeter sepanjang batangku dan itu aku rasakan sangat licin, lengket pulen dan nikmat sekali, cairan vaginanya tidak banjir tapi agak lengket (Inilah rasa vagina perempuan dengan ciri pergelangan kaki kecil dan dekok), begitu perlahan dan Gentle aku masukan batangku sehingga =erasa denyutan dinding vaginanya melumat batang penisku, setengah batangku masuk, kuperintahkan dia agar melakukan penarikan otot vagina dan anusnya seperti orang habis selesai berak, dan dia lakukan, Auuuu..., batangku serasa tersedot ke dalam, kutarik cepat batangku dia merengek lagi.
"Maaaaas masukin donng", begitu lagi kulakukan sampai beberapa kali sampai dia menggeram karena nikmatnya, Teknik separoh masuk, tarik kemudian tusuk habis ini kulakukan berulang sampai dia bilang, "Ampuuuun Maaaas", dan pada saat kubenam habis batang penisku dan aku goyang angka 8, kurasa kepala penisku menyentuh mulut rahimnya dan dia muncratkan orgasme yang ke-2, shhhhah kepala penisku diguyurnya geli ngilu jadi satu, akupun tak tahan lagi dan, "Ssshaaaaah..., sreeeett..., sreeeet". Pantatku dikepitnya keras-keras seperti tidak mau dilepaskan, kami lemas dan berkeringat ,dia bisikan ketelingaku, "Maaas Kamu hebat kayak superman".

Pagi hari di kantor aku datang lebih dahulu, tidak lama kemudian dia baru muncul sambil tersenyum malu penuh arti, pada kesempatan jam istirahat makan siang dia curi bisik padaku, "Mas, aku nggak jadi mengundurkan diri", sambil tersenyum nakal.
"Lho, lalu", kataku.
"Besok kita nggak usah nonton, tapi langsung ke tempat enak..., aku kangen Maas", sambil berlalu. "Besok ya Mas".
Aku bilang, "Ya..., ya..., yaaaaa".

Aku dan anak majikanku

"Selamat malam," kata Sri Lestari, sepulang kami ke hotel, dan berpisah di koridor lantai 6, setelah sebelumnya rombongan kami makan malam bersama.

Saat itu Tari, staf public relations group perhotelan besar di Asia Pacific itu menjadi host kami, para wartawan pariwisata, meninjau hotel baru milik jaringannya di Manado.

Malam sudah menunjuk pukul 11.45. Besok siang kami ke Makassar. Makanya aku segara tidur. Kubiarkan TV menyala sebagai pengantar tidur. Tiba-tiba telepon berdering. Ternyata Tari. "Sebentar deh ke kamarku. Penting", katanya.
Kami memang sudah agak lama kenal, karena aku sering diundang oleh gadis chinese berambut sebahu ini. Kamarnya di sebelahku. Aku segera berganti jeans, dan ke kamarnya.

Saat itu Tari memakai kimono satin putih. "Temenin aku ya. Aku takut. Biasanya kalo nganter wartawan aku kan berdua dengan teman sekantor. Kali ini sendirian, jadinya ya takut".
Aku jengah juga. "Kamu nggak enak ya? Gini deh. Kamu tidur di sofa, aku di bed. Please...", katanya.
Aku sudah mengantuk. Segera aku membaringkan diri di sofa. Tari menyodorkan selimut.
"Aku mau mandi berendam dulu, biar tidurku gampang", katanya.
"Terserah", kataku.

Kudengar dia menyanyi di kamar mandi, sambil menunggu bathtub penuh. Setelah itu pintu tertutup. Aku bangun, melepas jeans-ku, aku gantungin di lemari, lalu berbaring dan berselimut, cuma memakai CD dan kaos dalam berlengan. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang menutupi hidungku. Aku gelagapan tidak bisa bernafas. Aku terbangun. Agak gelap pandanganku. Sekian detik kemudian aku sadar. Tari sudah membungkuk di mukaku, dengan jatuhan kain kimono di wajahku, dan rambutnya menutupi kepala dan wajahku.
"Aku nggak bisa tidur", bisiknya.
Aku bangun, duduk di sofa. Ternyata TV masih nyala. Video hotel memutar film hot, soft porn.

Tari menyingkirkan selimutku. Dia tidak bicara apapun selain berdiri di depanku dan meraih kepalaku. Naluriku mulai bicara. Aku tahu dia sedang birahi. Puting dari balik kimono satin putih itu tampak mengeras. Aku raba, makin terasa.

Aku raih gelas berisi air putih di meja kecil sebelah sofa, lalu aku minum supaya bau mulut sehabis tidur itu hilang. Setelah itu aku berdiri, memeluknya, menciumi pipinya, lalu bibirnya dengan lembut, kupingnya, lehernya, tengkuknya. Tari amoy cantik berumur 35 itu mulai merintih.

Aku pepetkan penisku yang masih terbungkus CD ke selangkangannya dan aku gosokkan naik turun. Terdengar bunyi keletek-keletek dari pinggulnya. Itu pertanda birahi perempuan mulai meninggi.

Selama percumbuan kami tidak bicara. Dia hanya memejamkan mata seolah minta diantar menuju tangga kenikmatan birahi. Akhirnya tali kain pengikat kimono itu pun lepas.

Wow!, Kulihat tubuh putih kencang seorang Sri Lestari yang putih mulus. Payudara mungil 32-nya kencang dan indah, dengan puting coklat tua. Aneh juga, amoy putih kok putingnya gelap. Aku sibak kimono itu sehingga sebelah bahu mulusnya terbuka. Aku ciumi bahunya, aku pegang lembut payudanya..., Tari mendesah.

Akhirnya kimono satin itu terhempas ke karpet. Wow!, Indah nian. Celana dalam hitam berukuran mini itu membuatnya tampak semakin sexy. Tapi aku masih bersabar.

Aku menciumi ketiaknya yang bersih dan licin, yang sepertinya belum pernah ditumbuhi bulu itu, sambil memainkan puting dan payudaranya. Dia cuma, "Ah.., uh.., ah.., uh". Apalagi setelah buah dada itu aku ciumi, jilatin, kecup, dan jelajahi. Dia terpejam terus.

Akhirnya aku duduk lagi di sofa, dia tetap berdiri. Aku ciumi pusarnya. Dia merintih dan melenguh. Akhirnya hidungku sampai pada CD-nya. Kucium aroma khas wanita terangsang. Jariku meraba bagian bawah celananya, basah. Aku masukkan jariku ke celananya lewat samping. Kurasakan bulu yang tebal. Kuraba labia majora yang menggembung, lalu clitorisnya yang mulai mengeras. "Auwwww!", dia berteriak tertahan.

Akhirnya aku tidak sabar. Aku perolotkan CD-nya. Wow, aneh sekali. Amoy cantik yang ketiaknya licin selah tak pernah ditumbuhi bulu itu ternyata vaginanya berbulu lebat!. Panjangnya sekitar 5-6 cm, tebal pula, dan tidak terlalu keriting. Padahal selama ini di internet, amoy-amoy itu berbulu vagina tipis.

Aku naikkan sebelah kakinya ke sofa. Aku berlutut. Wow!, vagina Sri Lestari ternyata tidak seperti cewek Jepang dan Chinese di BF dan internet yang cenderung kemerahan itu. Vagina Tari coklat tua menggelap. Clitorisnya, ya ampun, sebesar kacang mete. Labianya gelap. Setelah aku sibak, dinding vaginanya ternyata merah tua kegelapan. Kontras dengan kulitnya yang putih.

Aku cium lembut labianya. "Auhhhh...", desahnya. Aku sibak labia itu dengan jari, lidahku menyosor ke liang. "Ihhhhhssss", desisnya. Lalu lidahku menggarap clitorisnya. Dia berkelonjotan, tidak kuat berdiri, dan terduduk di sofa.

Aku terus menyerbu, mengangkangkan kedua kakinya tinggi-tinggi, lalu mengoral vagina superhebat itu dengan mulut, lidah, dan hidungku. Kurasakan cairan asin memasuki mulutku. Dia banjir. Makanya aku seruput sekalian vaginanya, sambil satu tanganku meremas payudaranya yang mungil. Dia menjerit kecil.

Aku makin nakal. Aku tusukkan jari telunjukku ke vaginanya. Maju mundur, berputar. Dia berkelonjotan. Cairannya membanjir. Lalu jari tengahku menemani jari telunjuk, menggarap liang vaginanya. Kubengkokkan ke atas kedua jariku, sehingga menyentuh G-Spot-nya. Dia menjerit kecil.

Aduh, aku sudah tidak tahan. Aku lepas kaosku. Lalu aku berdiri, dan aku lepas CD-ku. Tuing!, Penis besarkupun teracunglah di depan wajahnya. Tari tanggap. Dia pegang lembut penis Jawaku yang coklat tua kehitaman itu, lalu dia gosokkan ke ketiaknya. Geli dan nikmat. Lalu digosokkan ke putingnya yang kehitaman itu. Makin nikmat. Kalau misalnya payudaranya 38, pasti penisku dia jepit di celah hangat di antara dua bukit. Tapi berhubung payudaranya kecil, ya cukup di bukit kecil itu, lalu ke ketiak licinnya lagi.

Ahhhhh..., gila!. Maniku keluar barang dua tetes, bening, di ketiaknya. Dia tersenyum. Lalu dia gesekkan ujung penisku ke hidungnya, bibirnya, berkali-kali. Aku tidak tahan. Keluar lagi dua tetes, bening.

Kejam juga amoy yang njawani ini. Dibuatnya maniku bocor sedikit-sedikit. Akhirnya dia kocok penisku.
"Jangan Tari nanti muncrat, kamu kan belum dapet apa-apa".
Dia senyum lalu, "Slap!", penisku masuk ke mulutnya. Aku tidak tahan, takut kalau segera keluar mani. Makanya aku cabut penisku dari mulutnya.

Tari berdiri, menyeretku ke ranjang, dan langsung duduk menunggangi wajahku. Vagina berjembut tebal itu digosokkan ke mukaku, sampai aku kehabisan nafas, dan tersengal karena cairan vaginanya membanjir tanpa henti.

Pintar juga PuRel ini. Dia bisa mengejar birahi sambil mengistirahatkan penisku. Akhirnya diapun klimaks, klimaks, dan klimaks. "Aku!", cuma itu teriakannya, lalu menelungkup di atas tubuhku, dengan posisi serong, sehingga posisi tubuh kami seperti huruf T. Dalam ruang sejuk ber-AC itu dia tampak basah kuyup oleh keringat. Rambutnya agak acak-acakan. Tampaklah kecantikan alami sekaligus kejalangan seorang wanita karier smart yang selama ini tampil tegas dan tidak murahan.

Aku ambil handuk dari kamar mandi, aku keringkan keringatnya dan rambutnya yang basah. Aku ambilkan dia Coke dari kulkas. Aneh juga, kami tak banyak bicara dalam percumbuan ini.

Setelah keringat kering, begitu juga vaginanya yang aku keringkan dengan kimononya, diapun telentang di ranjang. Aku hampiri Tari, aku kangkangkan kakinya. Aku serang lagi vaginanya dengan mulut. Tapi cuma sebentar, dia berontak. Mengangkat kepalaku, lalu kedua kakinya menjepit bahuku, dan dengan cepat akupun terguling di sampingnya. Setelah itu menyergapku, menindihku, sambil memegang penisku.

Terlalu!, Penisku tidak langsung dia masukkan ke vaginanya, tapi dipakai buat mainan, seperti onani, di labia dan clitorisnya. Oh rupanya ini cara untuk memanggil cairan vagina agar keluar dari liangnya. Setelah itu, "Sleppppp", penisku pun masuk.

Di atas tubuhku dia terus bergerak. Kadang merapatkan tubuh kepadaku, sehingga aku bisa menciumi kupingnya. Kadang mengangkat badan, sehingga tanganku bisa meremas payudara kecilnya. Alangkah indahnya pemandangan itu. Matanya terpejam-pejam, payudara mungilnya bisa bergoyang-goyang, dengan puting yang berwarna gelap, sementara keringat membasahi tubuhnya. Ketika dia menyibakkan rambutnya yang acak-acakan dan basah, cahaya lampu ranjang menyorot ketiak licin yang mengkilap oleh keringat. Indahnya!

Akhirnya dia seperti kecapean. Aktivitasnya berkurang. Cuma menindihku rapat dan menekan penisku dengan vaginanya, lalu pinggulnya berputar pelan sekali.

Kemudian dia raih tangan kananku, dia ambil jari tengahku, dia kulum jari itu, lalu dituntuntunnya ke pantatnya. Ternyata jariku dimasukkan ke duburnya. Sempit juga, susah masuknya. Dia cabut jariku yang baru masuk 1/2 cm itu, lalu dia gosokkan ke sekitar vaginanya yang basah oleh cairan, lantas dimasukkan lagi ke anus.

Saat jariku masuk ke dubur itulah Sri Lestari jadi beringas lagi. Dia memutar-mutar pinggulnya, naik turun, sampai penisku serasa mau patah, dan akhirnya..., tubuh itu mengejang, putarannya berhenti, tapi terus menekan dan menindihku makin kuat, dan sampailah dia pada titik akhir perjalanan menuju puncak.

Dari tadi dia tidak banyak bicara. Ketika orgasme total menjemput dirinya, Tari pun seperti berteriak, "Memekku! Itilku!". Kemudian tindihan dan tekanan terhadap tubuhku pun melemah. Aku usap rambutnya, aku cium keningnya yang basah oleh keringat, dan aku katakan, "Terima kasih Sri Lestari amoyku. Inilah pembauran paling indah dalam hidupku...".
Dia tersenyum, mencubit hidungku, menjewer kupingku, lalu turun dari tubuhku. Tapi penisku masih tegang. Birahiku masih tertahan di dalam. Lantas akupun berlutut di sampingnya, mengocok penisku. Tari seperti menikmati live show.

Tanpa banyak bicara dia tahu keinginanku. Dengan kepala bertumpu pada bantal, dia angkat lengannya sehingga ketiak licin bersih tanpa bulu itu pun terentang, sementara tangan satunya memainkan payudara mini dan puting coklat tuanya. Indah dan merangsang.

Setelah itu dia bikin atraksi, menjilati ketiaknya!. Ketiak yang basah oleh keringat dan air iur itu semakin mengkilap. Akhirnya pada menit ketiga aku tidak tahan.
"Tari aku mau keluar...", kataku sambil memutar badan agar spermaku tak mengenai tubuhnya. Biar kena sprei saja mauku.

Kejutan terjadi pada momen yang tepat. Ketika sepersekian detik lagi mani mau muncrat, Tari menyambar penisku, kemudian mulutnya langsung menyosor. Begitu bibirnya terkatup, saat itulah maniku muncrat.

Tari tampak buas. Mani kentalku tak tertampung oleh mulut mungilnya, sehingga menerobos keluar, berceceran dari bibirnya. Sudah begitu tangannya terus mengocok penisku. Akhirya habis sudah maniku sampai tetes terakhir. Semuanya tertuang di mulut, bibir, pipi, alis, dan dahi amoy Sri Lestari.

Ah indahnya!. Sebuah percumbuan tanpa banyak bicara, tapi komunikasi antar nafsu terus berjalan. Paginya aku membeli dua bar coklat Swiss di hotel, aku minta dibungkus sebagai bingkisan, dan aku berikan padanya. Dia tahu, itu ucapan terima kasihku. Satu batang coklat berwarna coklat tua kehitaman, satunya batang yang berwarna putih susu. Itulah simbol pembauran kami melalui birahi yang indah.

Dalam perjalan di pesawat, Tari bersikap biasa saja. Begitu juga dalam trip selanjutya, hingga kami kembali ke Jakarta. Pada hari-hari berikutnya kami tidak kencan. Setiap kali press conference Tari bersikap biasa, seolah tidak pernah ada apa-apa di antara kami. Aneh juga ya. Tapi biarin ajalah. Yang pasti setiap kali melihat dia berdiri, berjalan, atau presentasi, dengan rok mini ketat dan jas hitam, serta stocking hitam, aku langsung membayangkan apa saja yang ada di balik semua penutup itu, maka akupun jadi ereksi.

Aku dan Ratih


Ratih adalah adik kelasku. Dia angkatan 96 sementara aku sendiri adalah angkatan 94. Aku berkenalan dengannya ketika saat itu kita bersama menjadi panitia disebuah pameran. Ratih sebenarnya tidak terlalu cantik, tapi cukuplah manis. Kulitnya agak sawo matang. Tingginya sekitar 165-an cm. Bertubuh padat, payudaranya tidak terlalu besar malah cenderung kecil tapi berputing besar, perutnya liat dan pinggulnya OK banget, pantatnya gedhe dan penuh padat. Selangkangannya empuk, hangat dan berambut agak jarang sehingga lipatan-lipatan daging vaginanya terlihat jelas bergelambiran menutupi lubang vaginanya yang dalam dan penuh dengan denyutan- denyutan kuat. Klitorisnya besar dan tampak menonjol merah tua berkilat jika bibir-bibir yang menutupinya dijembeng. Secara umum aku telah berteman dengannya nggak terlalu lama, tapi sikap permisifnya telah membawaku 'merasakan' kehebatan tubuhnya. Aku bahkan nggak harus berpacaran dengannya untuk bisa merasakan betapa ketat dan liatnya tubuhnya. Kejadiannya terjadi pada suatu malam sekitar jam 20.00-an di kamar mandi suatu gedung pertemuan yang besar dikotaku. Ketika itu Ratih memintaku untuk mengantarnya pulang karena dia sedang menjaga pameran disana. Aku datang disana sekitar jam 19:45-an dan melihat pengunjung pamerannya begitu banyak. Selain Ratih disana sebenarnya masih ada 4 orang yang lain yang juga bertugas menjaga pameran. Sampai suatu saat Ratih memintaku untuk mengantarnya kekamar mandi dibagian lain dari bangunan itu. Maklum selain area itu besar, juga terkenal katanya agak angker. Kami berdua menuruni tangga yang menuju tempat pameran. Dan berjalan berduaan menuju bagian belakang dari bangunan itu. "Rat, katanya disini angker ya!" Aku menggodanya sambil menunjuk sebuah bangunan yang berbentuk seperti rumah kecil dengan pintu-pintu seperti sel penjara. "Ih Mas Ari, nggak ah!" Dia mendekat dan mencubitku dan kami berdua berjalan terus sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sampailah kami dikamar mandinya. Lampunya mati semua aku mencari semua saklar dan akhirnya ketemukan sebuah yang menyalakan lampu kecil diatas dua kamar mandi yang terpisah dinding setinggi sekitar 2 meteran. "Tuh lampunya udah nyala, sana gih!" Ratih masuk kamar mandi dan sebentar kemudian aku mendengar suara seperti mendesis atau seperti kran yang ditutupi separuh lubangnya dengan tangan sehingga airnya memancar. Itulah bunyi cewek kalo lagi kencing. Karena gelap suara itu terdengar jelas sekali. Sebentar kemudian suara siraman-siraman air terdengar dan tak berapa lama kemudian Ratih keluar dari kamar kecil itu. Entah kenapa suara desisan air tadi membuat kontolku agak menegang. Bayanganku suara mendesis seperti hanya keluar dari lubang yang sangat sempit. Nah unsur sangat sempit inilah yang membuatku tegang. Padahal sempitnya lubang kencing cewek khan belum tentu menandakan sempitnya lubang vaginanya. Ratih mendorong punggungku dari belakang karena aku menunggunya didepan pintu ruangan kamar mandi itu dan melihat kedepan. "Kalo dari sini bagus banget yo itu!" aku berkata sambil menunjuk bangunan utama menara apartemen yang baru dibangun yang diberi lampu- lampu kecil diatas tiap jendelanya. "Bagus apa?" katanya menggodaku sambil mendorongku tapi karena aku tetap diam ditempat, dia jadinya memelukku dari belakang, sebentar saja, kemudian dia memisahkan diri. Dan berdiri dibelakangku. "Udah?" "Udah" "Suaranya keras banget!" "Ih ngeres, nggak-nggak-nggak!" aku tertawa perlahan. "Keras banget, bener!" "Yaa.. gimana lagi, emang dari sononya kayak gitu!" Katanya sambil mencubitku. "Rat, kita mbaliknya kesana nanti aja ya. Disini dulu saja sebentar!" "Ngapain disini, bau!" "Ala cuek aja!" Aku menarik tangannya perlahan sehingga dia berada disebelahku. Kami terdiam beberapa saat demi menyaksikan pemandangan yang memang indah justru dikegelapan malam. "Mas katanya kalo berduaan dikegelapan kayak gini, pihak ketiga adalah setan!" "Iya, setannya bisa kayak aku atau kayak kamu!" "Apa iya? Setan kok manis kayak gini!" Aku melihatnya dikegelapan malam, tingginya hanya sebahuku lebih sedikit, tersenyum manis (emang manis bener kalo Ratih tersenyum). Entah kenapa tiba-tiba aku merangkulkan tanganku kepinggulnya dan menariknya mendekat kearahku. Tubuhnya menempel ketubuhku dan aku merasakan hangat tubuhnya dipinggul menembus kain-kain pakaian kami (setidaknya empat lapis, celana dalamnya, celana jeansnya, celana pantalon dan celana dalamku). "Tuh setannya Mas Ari khan?" "Apa iya, masak gini aja setan?" "Ya iya, kalo didiemin nanti kemana-mana" "Apanya?" "Tanganmu itu!" "Lho emangnya tanganku ngapain?" "Nggak!" "Ratih-ratih, kamu memang manis!" "Gombal!" "Ya udah, kami nggak manis tapi muanis banget!" Sambil tertawa kecil aku semakin merapatkan pinggulnya kearahku. Sesekali aku merasakan daging pantatnya yang empuk tapi liat dan hangat. "Nggg...!" Dia merengek manja dan merapatkan punggungnya kedadaku sehingga sekarang dia berada didepanku. Kali ini aku merangkulkan tanganku sehingga telapak tangannya berada diatas perutnya sehingga otomatis pantatnya tepat mendarat empuk didepan selangkanganku. Kadangkala dalam situasi seperti itu aku bisa menahan diri untuk tidak ereksi sehingga tidak terlihat bernafsu, sehingga kehangatan pantat besarnya itu tidak bisa membuat kontolku bangkit meskipun tadi sempat terbangkit juga. Aku menggerakkan tanganku satunya sehingga keduanya berada diatas perutnya. Ada sedikit kerutan lemak, tetapi secara umum Ratih seksi sekali. "Nggak ngganjel khan?" "Apanya?" "Ini" sambil berkata aku menekankan pinggulku sehingga terasa keempukan pantatnya mengalirkan kehangatan dibatang kontolku. "Kok masih empuk mas?" Pertanyaan lugas tapi akibatnya sedikit merangsangku sehingga akhirnya kontolku mulai bergerak membesar. Aku masih merangkul perutnya. "Siapa bilang, tunggu aja sebentar lagi, kalo marah doi nakutin lho!" "Takut apaan? Aku khan mahasiswa. He..he nggak ada hubungannya ya mas!" Sambil berkata-kata Ratih bergerak-gerak kekiri dan kekanan sehingga otomatis seperti mengelus-elus batang kontolku yang segera bangkit dengan cepat dan tak berapa lama kemudian udah mengeras dibalik celana dalamku. Untung tadi posisinya bener sehingga tidak terasa sakit karena tepat berada diantara belahan pantatnya itu. Tapi terasa sekali keras, ditambah lagi celana kain yang aku pakai semakin mengalirkan 'kekerasan' itu. Beberapa saat kami berdua terdiam demi merasakan sesuatu telah mengalir diantara kami. Aku merasakan empuk dan hangat pantatnya 'menakup' batang kontolku. Entah apa yang dirasakan Ratih, merasakan silinder panjang dan keras diantara bongkahan pantatnya. "Mas Ari, udah pernah begituan?" "Begituan apa? Lari lintas alam!" "Sst... nggak seneng aku!" "Kalau nggak seneng, ya udah putus aja!" "Iya khan, sukanya bercanda melulu!" "Aku memang anggota Srimulat kok!" Aku menggerakkan tangan kananku perlahan keatas sehingga berhenti tepat dibawah payudara kanannya. Sementara tangan kiriku aku gerakkan kebawah sedikit sehingga mungkin pas di ujung area jembutnya. Ratih kurasakan agak menempelkan tubuhnya lebih erat kedadaku. Aku merasakan punggungnya yang lebar menempel hangat didadaku, rambutnya yang sebahu tercium harum sekali dihidungku. Aku merasakan adanya peningkatan dari detak jantungnya terasa ditangan kananku. "Mas...!" "Apa?" "Nggak!" "Kamu kok sukanya gitu, ngomong terus nggak diterusin, jadinya khan nggantung" "Anu..... tangannya dinaikin dikit dong!" Pasti yang dimaksudkannya adalah tangan kananku yang berada pas dilembah payudaranya. "Nggak ah, aku takut ketinggian!" "Tu khan, serius dong!" Belum selesai dia mengucapkan kalimatnya, tangan kananku aku tangkupkan pas diatas payudaranya. Emang kecil karena hanya terasa seperti gundukan kecil saja. Dengan gerakan seperti tidak sengaja aku menggerakkan tanganku kebawah sehingga mengelusnya secara perlahan. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit seperti tergial. Dia memegang tangan kiriku. "Kecil ya mas!" suaranya berbisik perlahan nyaris terdengar seperti mendesah. "He-eh, tahu sebabnya. Karena jatahnya dipake buat nggede'in ini!" Sambil berkata itu aku menggoyangkan pinggulku kekiri dan kekanan sehingga batang kontolku yang mulai kehilangan 'tegangan' kembali menegang demi ditekan kearea diantara dua bongkahan besar pantatnya itu. "Hhhh.... ini khan buatan yang diatas sana!" "Heeh, kamu harus bersyukur!" Sambil terus bercakap-cakap aku terus melakukan rabaan-rabaan dipayudaranya itu. Sementara tangan kiriku mulai berani mendekat ke area venusnya yang menggunduk meskipun dia dalam posisi berdiri, tanpa ada hambatan sedikitpun darinya. Detak jantungnya terasa semakin cepat saja. Sebentar kemudian terdengar sesekali suara nafas tertahannya. "Rat?" "He eh?" "Kamu udah pernah begituan?" "Belum pernah, cuman udah pernah ngrasa'in enaknya" "Kok bisa?" "Pake ini!" Sambil berkata dia mengangkat tangannya dan jemari tengahnya diangkat sehingga aku tahu maksudnya. "Emang bisa enak?" "Tinggal gimana caranya khan!" suaranya mulai keluar nada-nada manja yang erotis. "Jadi kamu udah nggak...?" "He-eh, kenapa keberatan? Mas Ari pasti juga udah nggak toh?" "Iya" "Pake ini juga?" Katanya sambil mengangkat tangannya lagi dan membentangkan jemarinya. "Enggak!" "Lha pake apa?" "Pake ini!" Sambil berkata tersebut aku menggerakkan tangan kiriku dan menyapu kehangatan selangkangannya. Ratih merapatkan tubuhnya demi merasakan elusan diarea vaginanya. Aku nggak hanya menyapunya sekali tapi menggerakkan jemariku menggeranyanginya dan kira-kira pas diarea diatas klitorisnya aku mengucek-nguceknya perlahan. Sementara tangan kananku aku selipkan diantara sweaternya dan segera menyentuh perutnya yang hangat dan keatas terus sampai kutemukan kain bra-nya dan jemariku mencari-cari celah dibawahnya dan segera ketika ketemu segera semua jemarinya menyelinap masuk dan menemukan daging yang empuk walaupun kecil tapi dihiasi oleh daging liat seukuran batang rokok yang terasa keras dan mengacung. Aku menjepitnya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan memutar-mutarnya perlahan. Aku merasakan tubuh Ratih mengejang demi merasakan rabaanku. Kontolku untuk kesekian kalinya menegang keras sekali dan aku merasakan nafsuku semakin memuncak demi merasakan getaran tubuhnya disekujur tubuhku. "Rat, kita matiin lampunya yuk!" "He..hh!" suaranya he-ehnya terdengar begitu manja. Efeknya dari telinga langsung seperti menggosok kepala penisku sehingga seperti mengedutkan aliran darah dalam penisku. Aku mematikan saklar dan menariknya masuk kekamar mandi tersebut. Karena gelap aku pikir tak perlu menutup pintu sehingga dari dalam ruangan yang gelap terlihat ruangan luar yang agak lebih terang. Aku menariknya dan mendorongnya ketembok sehingga tangannya menumpu pada tembok pada posisi berdiri. Perlahan-lahan aku membuka kancing celana jeansnya dan menarik resluitingnya kebawah. Aku menariknya kebawah sampai kira-kira sepuluh centimeter dari lutut. Sekarang terasa kain lembut celana dalamnya ditanganku sedikit terasa lembab, mungkin karena air. Aku menariknya perlahan-lahan juga sehingga sekarang Ratih tidak memakai apa-apa lagi dibawah. Perlahan-lahan sekali aku menggerakkan tanganku keselangkangannya dan menemukan segerumbulan rambut yang halus tapi nggak terlalu lebat. Sehingga pada elusan pertama langsung kurasakan daging bibir vaginanya, rasanya sebagian halus seperti bagian dalam bibir, basah dan licin, sebagian lain seperti kulit di sisi bagian luar siku tangan. Aku menyeruakkan jemariku kedalam ketebalan bibir-bibir vaginanya itu dan menemukan kelicinan akibat mulai keluarnya cairan vaginanya (bagi cowok yang belum pernah merasakan licinnya cairan itu, coba deh kalian masturbasi atau rangsang penis kalian sampai keluar cairan bening - bukan sperma lho - dari ujung penis kalian, nah kira- kira seperti itulah cairan vagina itu cuman lebih kental lagi dan berbau khas yang tak sanggup aku deskripsikan dengan baik sampai sekarang). Ratih semakin menempelkan tubuhnya ditubuhku dan aku bisa merasakan langsung betapa dahsyatnya pantatnya sampai mendorongku kebelakang. Aku terus mengelus-elus vaginanya sampai aku merasa Ratih betul-betul udah naik. Aku sendiri sebenarnya udah nggak kuat banget. "Mas Ari!" "Apa, sayang!" "Pelan-pelan ..ya...mas!" Aku betul-betul udah nggak kuat lagi. Aku mendorong punggungnya sehingga dia menungging. Nggak perlu bersudut 90 derajat untuk membuat vaginanya menghadapku, baru sekitar miring 45 derajat pantatnya telah mendongakkan vaginanya tepat setinggi penisku berada. Aku mengeluarkan penisku dari dalam celana dan merasakan kebebasan ketika batangnya menjulur keluar dengan bebas dan segera aku mengarahkannya kevaginanya didalam kegelapan. Aku menggerak- gerakkannya sehingga terasa berada diantara cekungan bibir-bibir vaginanya. "Udah....pas belum?" aku bertanya nyaris berbisik. "He..eh!" Aku mendorongnya perlahan-lahan. Terasa seperti mendorongnya kedaging masif saja, tidak ada kemajuan yang berarti. Rasanya kepala penisku masih tetap ditempatnya, tidak ada celah yang terbelah. "Rat, buka paha kamu dikit dong! .............. Nggak bisa masuk nih" aku berbisik dalam keadaan terangsang berat. Ratih menggerakkan kakinya membuka tapi hanya selebar celananya yang mengikat kedua pahanya. Aku kembali mendorongkan pinggulku mendorong 'ujung tombakku' untuk masuk. Kembali terasa mentok. Aku mengambil posisi lagi. "Kayaknya nggak pas deh mas!" sambil berkata demikian Ratih merenggut kepala batangku, meremasnya sebentar kemudian mengarahkannya kevaginanya. Kali ini nafsuku semakin memuncak demi merasakan kepala batangku mulai terasa terjepit. Aku terus mendorongnya perlahan sehingga seluruh kepala penisku mulai menancap, perlu usaha keras untuk melakukannya. Tangan kananku memegangi bagian luar pantatnya dan tangan kiriku memegangi pangkal batangku untuk menjaganya agar tidak terlepas dari jalurnya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan mendorongnya perlahan-lahan kembali. Ratih menumpukan tubuhnya dengan dua tangannya didinding kamar mandi itu. Kembali rasanya seperti menemukan tembok daging yang liat. "Terus mas!" Ratih berbisik mesra membuatku terus bertenaga untuk menaklukkannya. Aku mendorongnya sedikit kuat dan kali berhasil memasukkan sekitar 5 cm lagi sehingga ditambah panjang kepala batangnya maka lebih dari separuh batangku telah masuk kedalam vaginanya. Lagi-lagi ini perlu usaha keras karena daya cengkeramnya ternyata jauh lebih kuat lagi. Bukan jepitan yang pasif tapi seperti mengalirkan denyutan darah dan urat-uratnya keseluruh batang penisku yang masuk, sehingga seperti gerak peristaltik dalam ilmu biologi. "Ratih .. sayang!" "Mas Ari!" Dengan genjotan terakhir, akhirnya berhasil pula seluruh batangku masuk. Aku terdiam beberapa saat demi merasakan tubuhku seperti dipancangkan oleh cengkeram dahsyat lubang vaginanya. Perlahan lahan aku memasangkan kedua tanganku memegangi pantatnya dan mulai menggunakannya sebagai tumpuan untuk menarik penisku keluar. Perlahan- lahan tapi pasti penisku mulai bergerak keluar dari cengkeramannya dan ketika seluruh batangku mulai terasa bebas dari jepitannya aku mendorongnya lagi. Kali ini tidak seketat tadi, mungkin karena ototnya telah mengembang. Aku mulai bergerak dengan teratur dengan tempo yang lambat sekali sehingga dapat kurasakan setiap inci permukaan lubang vaginanya yang seperti daging ikan cumi yang masih mentah tapi hangat. Setiap dua atau tiga kali tusuk dan tarik, aku berhenti sejenak demi merasakan akan ejakulasi. Demikian seterusnya mungkin sampai sekitar 5 menitan, entah berapa kali aku menusukkan batang kontolku kedalam vaginanya, yang jelas setiap kali kulakukan, rasa nikmatnya semakin bertambah saja dan pas dekat-dekat ejakulasi aku menggerakkan batang kontolku menusuk-nusuknya dengan sedikit cepat. Aku mendengar suara sesekali seperti bunyi kecipak yang keluar akibat benturan buah pelirku dengan selangkangannya atau akibat letupan jepitan daging vaginanya dikepala kontolku yang menimbulkan getaran suara itu. Rasanya merangsang sekali. Jika kita menyenggamai seseorang dan mendengar kecipak bunyi divaginanya akibat dari gerakan kita, rasanya seperti menegaskan bahwa vagina seseorang itu udah layak untuk kita senggamai. Apalagi jika dipadukan dengan bunyi rengekannya dibibirnya dan gerakan-gerakan tak terkontrolnya setiap kali bunyi itu terdengar. Ketika sampai waktunya aku menarik batang kontolku keluar dan berjalan tertatih-tatih kepinggiran tembok disebelah Ratih yang masih menungging dan mengocoknya dengan cepat dan ketika keluar aku merasakan seperti seluruh cairan didalam tubuhku tersedot mengalir melalui saluran dalam kontolku dan menyembur keluar dengan kuat. Setiap semburannya mengejangkan tubuhku, pantatku terasa seperti kaku, lututku gemetaran dan dadaku berdetak cepat sekali. Aku segera mencari pegangan ditembok, kalo tidak aku bisa terjatuh dilantai. Sampai beberapa saat aku masih berpegangan ditembok dan merasakan kontolku mulai melemas. Aku menoleh dan melihatnya dalam kegelapan telah merapikan pakaiannya. Aku pun dengan tangan yang masih gemetar merapikan pakaianku lagi. Tanpa membersihkannya aku memasukkan penisku kedalam celana dalam dan merapikan celana kainku lagi. Aku mencuci tanganku yang berlepotan sperma dan bau dari vaginanya. Dan menuntunnya keluar ruangan. "Kamu hebat, sayang!" "Mas Ari jahat, aku belum nyampai! Hutang lho!" dia merengek dan meletakkan tangannya dan dahinya dibahuku. "Janji!" aku memeluknya Meskipun rasanya lama sekali aku melakukan itu, ternyata kami keluar tidak lebih dari 20 menit dari tempat pameran itu yang ketika kami kembali telah mulai ditutupi pintunya. "Ratih tadi kemana toh? Dicari pak Bambang tadi!" "Aku nyari boneka di Hero sama mas Ari!" Bisa juga dia menjawab sekenanya. Dalam hati aku berkata 'udah dapat khan Rat! Boneka yang bisa nyemprot!'. Aku berusaha tetap dinaungan kegelapan agar tidak terlihat wajahku yang pasti berantakan sekali. Tapi tidak demikian dengan Ratih, karena wajahnya sehari-hari memang begitu. Wajahnya khas wajah erotis, yang cenderung kayak baru bangun tidur atau sedang nggantung atau sedang nafsu. Malam itu kami berdua pulang agak malam, karena aku mengajaknya makan dilesehan dan ngobrol disertai perasaan baru tentang apa yang terjadi antara kami. Beberapa hari kemudian 'terpaksa' aku harus menyelesaikan tugasku tadi. Kami melakukannya dengan liar bagaikan dua ekor kuda yang sedang menyalurkan birahi.
Aku dan Ratih (2) Seminggu kemudian baru aku sempat menelponnya. "Halo" "Halo, bisa bicara dengan Ratih?" "Sebentar ya!" terdengar suara memindahkan pesawat, ada suara musik sebentar. Kost-kostnya cukup besar. Bentuknya mirip-mirip motel tapi ada pagarnya dimana masing-masing kamar menghadap keluar/ ketaman. Ada carport untuk masing-masing kamar. Kamarnya cukup luas, mungkin sekitar 4x5-an meter berkamar mandi sendiri. Antara satu kamar dengan kamar lain dipisah oleh semacam tembok sehingga seperti tersekat- sekat. "Halo!" "Ratih?" "Iya, mas Ari ya?" "He-eh, apa kabar?" "Jahat!" "Apanya?" "Katanya janji!" "Sorry lagi sibuk banget nih! Masih nggantung?" "He eh!" "Nggak kamu selesaiin sendiri?" "Nggak, khan itu tanggungan kamu mas!" "Iya ya! Besok malam?" "Aduh, aku ada janji! Lusa aja gimana?" "Iya deh! Dimana?" "Terserah mas Ari. Gimana kalo disini?" "Ok, ya udah deh!" Itulah yang selalu terjadi antara aku dan Ratih. Langsung dan tanpa tedeng aling-aling. Pernah nggak kamu mbayangin lagi enak-enaknya nyantai tiba-tiba seorang cewek duduk disebelah kamu dan langsung berkata 'mas tahu nggak aku tadi pagi nyobain begini' sambil berkata begitu dia menggesekkan jari tengah dan telunjuknya mengelus-elus telapak tangannya menirukan gerakan mengesek klitoris. Atau tiba-tiba seseorang bertanya 'mas, itunya cowok itu ada tulangnya nggak sih? Atau cuman otot?' atau 'mas, punyamu agak miring kekiri tuh!'. Nah seperti itulah hubunganku dengan Ratih meskipun dia bukan pacarku. Yang terjadi dulu, memang berkesan bagiku. Selama ini aku melihatnya sebagai teman aja, jadi sah aja kalo kadang-kadang emang pas ngelamun atau bahkan pas onani wajahnya terbayang atau pantatnya yang OK, kadang malah kalo biasanya pas onani agak lama, begitu wajah dan tubuhnya melintas diotakku, sebentar kemudian ejakulasilah aku. Malah aku pernah menscan fotonya dan mengolahnya dengan Photoshop dan menempelkannya kegambar-gambar cewek berpose telanjang atau lagi beradegan senggama difoto. Satu karyaku dengan cara itu pernah kusimpan sampai berbulan-bulan dan hanya kugunakan pas onani. Nah, dengan kondisi seperti itu, janjian untuk nyelesaiin 'tugas berat' itu memang sangat merangsangku. Berarti nanti khan kedatanganku ke kostku pasti dengan persiapan memang untuk begituan. Kusebut tugas berat karena aku nggak yakin aku bisa membuatnya orgasme jika kemampuan vaginanya seperti itu. Aku sendiri udah pernah begituan beberapa kali dengan pacarku yang dulu yang jika kuingat-ingat nggak pernah bisa lebih lama dari 10 menitan. Padahal ketika aku melakukan dengan pacarku itu, doi udah nggak perawan lagi dan vaginanya udah longgar nggak seketat milik Ratih. Seringkali aku bisa mengatur irama nafsuku jika pas onani kadang sampai lebih dari satu jam (rekorku hampir dua jam). Tetapi dengan vagina beneran emang lain banget, karena yang berperan bukan hanya jepitan dan cengkeraman nikmat di kontol kita, tapi juga desahan nafas, hangat perut, paha, payudara dan punggungnya. Apalagi jika doi orangnya 'interaktif', yang nggak hanya telentang mengangkang pasif nungguin kita nyemprot, tapi terus menerus melakukan 'body language' setiap kali 'ditusuk' (tahu nggak teman- teman cowok? salah satu gerakan di senam body language kayak di ANTeve tiap pagi itu - yang gerakannya berupa gerakan mendorong area pinggul kedepan disertai mengempiskan otot perut - bisa membuat otot-otot vagina bergerak menyempit sehingga menjepit dan mengenyot apa saja yang ada didalamnya). Pertama kali begituan, aku bahkan udah ejakulasi ketika pacarku itu baru memegang batang kontolku saja. Belum dikocok apalagi dimasukkan kevaginanya. Dengan kondisi lagi 'nggantung' kayak gitu, Ratih pasti nanti akan lebih agresif lagi. Aku segera mempersiapkan diri dengan baik. Tiap malam sebelum pertemuan itu aku selalu menelan telur setengah matang, paling tidak dua butir. Tiap mandi aku selalu mencuci kontolku dengan sangat bersih, jembut yang nggak beraturan aku rapiin. Celana dalam yang bersih aku siapin, nggak tanggung-tanggung aku beli beberapa yang baru. Juga nggak lupa aku beli sebungkus kondom Durex, buat jaga-jaga. Aku pikir begituan pake kondom pasti nggak enak karena hangatnya alat vital masing-masing nggak bisa tersalurkan dengan baik. Emang mungkin aku akan lebih tahan lama pake kondom, tapi aku nggak yakin apakah Ratih mau ngerasain plastik divaginanya. Tibalah hari yang kutunggu-tunggu. Sore itu aku bersiap diri sekitar jam 19.00 sore, pake celana dalam baru untuk membungkus benda kesayanganku itu, jembutnya udah rapi, nggak terlalu lebat tetapi juga nggak habis-habis amat, batang dan pelirnya aku sabun sampai bersih habis. Aku semprotin sedikit Polo Aqua agar ada nuansa harum, terus pake celana jeans dan kaos, terus pake jaket. Aku masukin kondom kedalam dompet. Dan segera naik motor dan meluncur ketempat kost Ratih. Sampai disana sekitar 19.20-an, aku langsung masuk kehalaman kostnya dan parkir motor didepan kamarnya. Aku ketuk pintu perlahan. "Ratih, ini aku!" "Sebentar!" terdengar suaranya dari dalam kamar. Aku tunggu sebentar dan pintu terbuka. Yang pertama kulihat wajahnya yang manis tersenyum dan menarik tanganku masuk. Aku ikut saja. Pintu ditutup dibelakangku dan belum sempat berkata apa-apa dia mendorongku kepintu dan meraih pundakku dan melumat habis bibirku. Agak beberapa lama aku merasakan betapa ganas bibirnya melumat bibirku. Aku memegangi pinggulnya dan merasakan hangat tubuhnya mengalir lewat tanganku. Didadaku terasa ada dua tonjolan kecil yang keras dari putingnya yang menembus bajunya, dia nggak pake BH. Aku pun nggak merasakan pinggiran celana dalamnya ditanganku. Jadi tubuhnya hanya terpisah oleh kain tipis denganku. Aku menggerakkan kedua tanganku turun dan menakupkan telapak tanganku dipantatnya dan meremasnya. Terasa gerakan mengejang perlahan. Sementara itu kontolku udah langsung in dengan tegak dan keras didalam celana dalamku. "Sebentar, sabar ah!" aku menarik bibirku dari lumatannya dan memandanginya lembut. "Jahat kamu mas!" "Ini aku udah disini" "Ayo kekamar!" Aku mendorong tubuhnya dan tertahan tangannya yang sedang mengunci pintu. "Motorku" "Biarin aja!, nggak ada yang perduli kok!" Aku mendorong tubuhnya dan merangkulnya sambil berjalan perlahan masuk kekamarnya. Kamarnya cukup bersih, ranjangnya berseprei warna biru bermotif kotak-kotak kecil warna putih. Disandaran ranjangnya tersampir beberapa dalemannya. "Langsung?" aku bertanya perlahan. "Iya, mas Ari lepas dulu deh bajunya!" Tak ada pilihan lain, aku lepas celana, terus kaos dan jaket, sehingga hanya bercelana dalam saja. Tampak batangnya udah mengeras miring. Ratih tertawa kecil melihatku. "Udah keras ya mas?" "Iya, udah dari kemarin lho! Kamu sih" Ratih mendekatiku dan merangkul bahuku perlahan sehingga perlahan-lahan tubuhnya merapat kedada telanjangku. Terasa ketika pinggulnya merapat ketubuhku ada sesuatu yang memisahkannya yaitu batang kontolku. Aku meletakkan kedua tanganku dipunggungnya melewati dibawah ketiaknya. Aku mencium bibirnya perlahan dan mulai melumatnya. Bibir bawahnya agak tebal sehingga enak banget dikulum, dimain-mainin. Sementara itu tanganku mulai menggeranyanginya, aku temuin resluitingnya dan aku tarik kebawah sehingga tanganku merasakan hangat punggungnya. Aku tarik terus resluitingnya sehingga mentok kebawah pas diarea dekat ujung pantatnya. Aku telusupin tanganku masuk kebawah pakaiannya dan langsung meremas pantatnya itu dan menariknya keatas dan kebawah sambil meremas-remasnya. Perlahan-lahan aku merasakan kain pakaiannya meluncur turun kelantai ketika tangannya dibahuku ia turunkan sehingga perlahan-lahan batas diantara kami mulai terbuka. Tangannya langsung mencari kontolku dan tanpa tunggu waktu menarik celana dalamku kebawah sehingga tiba-tiba kurasakan udara dingin AC serta hangat perutnya dibatang kontolku. Dia menarik tubuhnya dari dekapan dan meletakkan telapak tangannya dibatang kontolku dan menggerakkannya seperti meremas yang berakibat kepala batangku terasa mentok besarnya. Tiba-tiba dia menarik tubuhnya kebawah dan berlutut didepanku sehingga batang kontolku pas berada didepan wajahnya. Aku memandangi wajahnya dan berkata. "Kamu mau?" nggak aku terusin karena konteks kita sama sehingga nggak perlu selesain kalimatku untuk menunjukkan apa yang kumau. "Kok wangi? Habis dilulur ya?" "Nggak kok, cuman tadi barusan dari salon, untuk dimasker!" "Punya kamu mantap banget deh mas, baru kali ini aku lihat sedekat ini" "Oh ya?" sambil berkata begitu aku menggerakkan tubuhku sehingga mendekatkan kepala kontolku dalam genggamannya itu kebibirnya. Dia tidak menghindar, sehingga aku berpikir dia mau melakukan fellatio kepadaku. Ratih masih menggenggam batang kontolku dengan kuat, tapi dia tidak juga mendekatkan bibirnya kepadanya. Dia malah mengangkat batangnya keatas sehingga kepala kontolku mengarah kerambutnya. Aku memegangi kepalanya perlahan dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Ayo Rat, tunggu apa lagi?" kataku sambil mendesakkan pinggulku lebih dekat lagi kewajahnya. Ratih menggerakkan batang kontolku kebawah lagi sehingga kepala kontolku lagi-lagi menghadap pas dibibirnya. Dia kemudian mengeluskan kepala batangku kepipinya sehingga aku bisa merasakan kehalusan kulit pipinya disekujur kepala kontolku. Akibatnya kepala kontolku menjadi semakin mengeras seiring dengan gesekan halus disekujur kulit penisku yang kasar berkerut-kerut. Aku melihat matanya terpejam, adegannya mirip-mirip iklan sabunnya Lidya Kandow yang mengeluskan sabun kepipinya, tapi sabunnya digantikan oleh kontolku. Bukan itu saja, Ratih menggesekkan pipinya maju mundur sehingga kepala penisku sampai ke daun telinganya dan sebagian rambut yang menutupinya. Sementara itu bibirnya jadi mendekat kearea jembutku. Dia mendongak masih dengan kontolku dipipinya. "Aku suka yang rambutnya jarang-jarang kayak gini lho mas, kesannya bersih tapi masih macho! Mirip-mirip dagunya Brad Pitt!" "Jadi doi mirip Brad Pitt dong?" Ratih melihat kontolku dan berkata "Iya ya, tapi Brad Pitt pasti lebih alus kulitnya!" sambil dia menggerakkan tangannya keatas sehingga mengelus batang kontolku yang penuh urat. Rasanya greng banget merasakan elusannya itu. "Tapi sama-sama berototnya khan?" kataku sambil agak sedikit tergial. Sementara itu Ratih terus menggerakkan tangannya mengocok batang kontolku. Setiap gerakannya ikut menarik kulit kontolku, mungkin itu dikarenakan dulu aku sering sekali onani tanpa pakai pelumas, hanya menggocok secara 'garingan', sehingga lama-kelamaan seakan-akan seperti memisahkan antara kulit penis dan batang didalamnya (meskipun secara fisik kontol yang kayak gini nggak menyenangkan untuk dilihat karena terkesan kendor, tapi secara seksual rasanya enak sekali, karena kulit-kulitnya yang menggelambir menjadi penggesek yang nikmat bagi dinding-dinding lubang vagina. Jadi teman-teman cowok yang punya adik laki-laki yang udah mulai gede, ajarin deh onani secara 'garingan' ini, dijamin bahagia hidup pasangannya kelak...he...he...becanda nih!").. "Mas?" "Iya .... He emm?" "Kamu sering ngocok ya?" "Dulu iya, sekarang kalo perlu aja!" "Oh begitu ya? Kalo kamu lagi begituan suka bayangin siapa sih?" "Kamu!" "Yang bener?" "Ya kadang-kadang kamu, Desy, Bu Ika, sama yang lain-lain. Tapi kamu yang paling sering, nggak percaya?" "Nggak! Apa coba yang dibayangin dari aku?" "Aku suka bayangin kamu tidur telanjang bulat nggak pake baju sama sekali, terus kamu menggeliat sehingga ..... begitu seterusnya deh! Malu nyeritainnya!" "Ada yang bener nggak?" "Ternyata banyak" "Misalnya?" "Ternyata kamu emang bener-bener hebat, bukan hanya dikhayalan aja" "Oh iya?" "Sumpah!" Ratih terus mengelus-elus batang kontolku sehingga mulai kurasakan selangkanganku mengedut setiap kali tangannya bergerak mentok kepangkal penisku yang menarik seluruh kulit batang penisku dan mengeraskan kepala kontolku sepenuhnya serta membersitkan cairan bening diujung lubangnya. Aku mengira dia akan segera memasukkannya kedalam bibirnya ketika dia mengarahkan kepala kontolku pas didepan bibirnya sehingga aku pun mendesakkan pinggulku maju secara agak memaksa karena nafsu yang udah memuncak. Tapi ternyata aku salah, ketika aku mendesak maju dia malah mengangkat kepala batangku sambil sedikit menjerit sehingga wajahnya menabrak bagian bawah batang kontolku dan bibirnya menabrak pas dipangkal batangnya. "Ayo Rat, lakukan deh!" "Apa mas?" "Ayo masukin kemulut kamu deh, aku udah nggak kuat lagi nih!" "Nggak mau!" "Ayo dong Rat, cobain deh!" "Nggak mau, jijik!" "Nggak apa apa kok, bener!" "Sekali nggak tetap nggak, Ratih pake cara Ratih sendiri aja ya?" "Sekali aja deh Rat, please!" "Kita nggak jadi begituan deh" Ada wajah ngambek diwajahnya. Aku panik, kalo dia emang bener-bener berubah pikiran, khan sayang banget. Vagina sedahsyat itu masa harus dilepaskan. Akhirnya dengan menghilangkan keinginan untuk dioral, aku berkata. "OK, deh!" "Nah gitu dong! Mas Ari nikmati aja ya, biarkan Ratih beraksi!" Sambil berkata begitu dia menarik kontolku sehingga otomatis seluruh tubuhku ikut tertuntun dan berdiri membelakangi ranjang, terus dia mengangkat kontolku keatas sehingga seluruh tubuhku ikut tertekuk kebelakang terus hingga akhirnya aku berbaring terlentang di pinggir ranjang, separuh tubuhku diatas ranjang separuhnya lagi menjuntai dilantai. Batang kontolku mengacung tegak keatas masih dalam genggamannya. Aku nggak punya ide apa yang akan dilakukan Ratih terhadapnya. Aku hanya bisa memandanginya dan merasakan tonjolan putingnya keras dan hangat dipaha bagian dalamku. "Ayo Rat, kamu mau ngapain tadi? Udah nggak sabar nih!" "Pertama kali Ratih mau bikin api, Mas Ari rasain aja ya!" sambil berkata begitu dia menakupkan kedua telapak tangannya dan menjepit seluruh kepala dan sebagian batang kontolku diantaranya. Perlahan- lahan dia menggerakkan kedua tangannya seperti layaknya gerakan membuat api dari kayu (tahu khan gerakannya, jangan ditiru lho!). Aku tiba-tiba merasakan rasa yang aneh, bukan nikmat tapi aneh. Kepala penisku rasanya seperti sedang dikucek. Beberapa lama Ratih melakukannya semakin lama semakin cepat. Lama kelamaan bagiku rasanya udah mengganggu. "Kok rasanya nggak enak, Rat?" "Ya, ini khan baru permulaan, pokoknya Mas Ari rasain aja, enak atau nggak enak?" "Mending kamu gigit aja deh, Rat!. Sekalian!" "Tuh khan, maksa deh, dibilangin nggak mau! Nanti juga masuk, tenang aja deh kamu mas!" "Iya deh, terus sekarang mau diapain lagi?" "Sekarang bikin api lagi tapi caranya beda!" "Terserah kamu deh Rat!" Ratih mengusap kepala penisku sambil bergerak mengocok perlahan, sehingga akibatnya keluar cairan bening yang banyak sekali dari lubangnya membasahi (tepatnya: melumasi) telapak tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya digenggamkannya mantap kesekujur batang kontolku tepat diarea sebelum kepalanya. Sementara itu tangan kanannya terbuka kearah bawah dan mulai bergerak memutar sehingga mengosok kepala kontolku dengan pelumas dari cairan tadi. Pertama-tama rasanya geli, terus lama-kelamaan emang mulai terasa panas yang enak, mungkin akibat gesekan itu. Aku mulai merasakan pantatku mengetat, pahaku mengejang dan menjepit tubuh hangat diantaranya. Aku pun mulai mendesah merasakan aktivitasnya itu. Ternyata permainan kedua Ratih ini terasa luar biasa. Aku seperti terasa akan kencing tapi bukan oleh air kencing, seperti sesuatu sedang berputar-putar diselangkanganku. Sebagian adalah rasa nikmat, sebagiannya lagi rasa panas, sisanya aku tidak tahu. Aku mulai sedikit bangkit dan menjamah rambutnya, wajahnya sedang serius menggerakkan tangannya dengan konstan. "Kamu....... kok...... tahu ....sih?" "Dari website!" (buat teman-teman cowok yang ingin nyobain, ini aku nemuin alamat www.jackinworld.com. Pertama sih mau nyari metode masturbasi untuk cewek, eh nggak tahunya pengin juga nengok yang buat cowok, ternyata berguna banget!) "Aduh, Rat!" tanpa bisa kukontrol aku menjatuhkan tubuhku kembali ke ranjang. Sementara itu Ratih terus mengesek ujung kepala penisku dengan telapak tangannya dengan konstan. Waktu berlalu dan hampir dua menit itu terjadi, aku mulai merasakan sesuatu mendesak-desak naik. Pasti Ratih merasakannya ditangan kirinya yang menggenggam batang kontolku, terbukti dengan gerakannya turun dan cengkeramnya sekarang berada dipangkal batangku. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak cepat dan semakin cepat berputar-putar menimbulkan energi panas dan energi seksual yang luar biasa dimulai dari kepala kontolku dan mengalir disaluran batang kontolku dan menyebar keseluruh area selangkanganku, menimbulkan rasa kejang dipaha dan perutku, menggelitik pantat dan akhirnya...... "Rat,........... aku keluar!" "Udah tahu, idih mas Ari ah!" Ratih mungkin merasakan otot mengedut dan paha mengejang yang biasanya mendahului ejakulasi seorang pria, sehingga dia dengan pas menjepitkan dengan kuat tangan kirinya dipangkal batang kontolku sehingga ketika pas orgasme dan ejakulasi, kontolku hanya berkedut-kedut saja, tidak menyemprotkan cairan karena tertahan oleh jepitan kuat Ratih di pangkal batangnya. Jepitan itu juga menyebabkan kepala kontolku membesar maksimal sampai berwarna merah keras. Sementara Ratih terus memutar-mutarkan telapak tangan kanannya mengalirkan kenikmatan tiada tara tanpa ejakulasi kepadaku. Aku sendiri hanya bisa melenguh kuat ketika mengalami itu semua, pahaku kujepitkan ketubuh hangatnya, ada rasa hangat ketiaknya yang dibagian atas pahaku. "Ratih, ..... OOOHHHH.....!" aku melenguh sejadi-jadinya ketika puncak yang datang itu seperti berputar balik ketika menemui hambatan dari dipangkal batang kontolku dan mengoyak-ngoyak bagian dalam tubuhku terutama di area selangkanganku. Ketika Ratih melepaskan putarannya tangan kanan dikepala kontolku, aku menyaksikan batang kesayanganku itu memerah dan membesar maksimal. Tampak warna licin disekujur ujungnya, lubangnya tampak terbuka sedikit. Yang terlihat sekali adalah denyutannya yang terlihat dengan bergeraknya perlahan-lahan secara berkala. Sementara tangan kirinya masih mantap menggenggam dan menjepit lubang dipangkal batangnya. Aku merasakan campuran antara rasa nikmat yang aneh karena tidak dibarengi dengan ejakulasi dan rasa panas akibat gesekan telapak tangannya tadi. Ternyata kontolku tidak sekuat yang aku kira. Dibawah jepitan tangan kirinya yang terus kuat aku mulai menyaksikannya melemas, ukurannya mulai mengecil dan beberapa saat kemudian tampak lunglai digenggaman tangan kirinya. Aku bangkit sehingga terduduk, sementara kedua pahaku masih menjepit tubuhnya yang mulai terasa berkeringat, meskipun ruangan itu dingin oleh AC. Aku pegang kepalanya perlahan dengan lembut dan mengelus-elus rambutnya. Tangan kirinya ia lepaskan dari kontolku. Ketika dilepaskan, sedikit kedutan lembut mengiringi keluarnya sedikit cairan putih dari ujung lubangnya. Aku sedikit tergial karenanya. Aku menarik tangannya sehingga dia berdiri didepanku diantara kedua pahaku. Aku melihat payudaranya yang kecil dihiasi putingnya yang besar tampak mengacung dengan kuat. Meskipun warna kulitnya nggak putih-putih amat, tapi terawat sekali sehingga halus terasa. Didepanku pas tersaji perutnya yang sedikit berlemak tapi sintal sekali. Pusarnya tampak sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan membentuk aliran kebawah dan semakin tampak ketika bersambung dengan bulu-bulu yang lebih tebal dibawahnya. Ya, jembutnya meskipun tak terlalu lebat tapi terlihat sekali kontras dengan kulit diarea selangkangannya itu. Aku meletakkan kedua tanganku memegang pantatnya yang memang padat sekali dilihat dari dekat. Ratih meletakkan kedua tangannya dipundakku, wajahnya udah mulai terlihat jauh lebih nge-seks dibandingkan beberapa saat tadi. Sepertinya keceriaannya yang selalu bisa menutupi kondisinya yang nyata, tak bisa lagi ditutupinya saat itu. Matanya menatapku dengan penuh harap. Aku yang masih dalam kondisi setengah matang karena orgasme garingan tadi, mulai mencoba melakukan sesuatu. "Kamu duduk disini gih!" Aku menuntunnya menduduki pahaku. Ratih dengan perlahan membuka pahanya dan meletakan tubuhnya menduduki pahaku. Aku merasakan sesuatu yang panas tapi basah diselangkangannya menempel dipahaku yang penuh bulu. Ratih bergerak-gerak demi merasakan bulu-bulu pahaku menyentuh daging vaginanya. Aku tersenyum memandanginya dan mendekati wajahnya sambil berkata perlahan menggoda. "Udah panas?" "He eh!" "Aku pulang dulu deh kalo gitu!" "He ..... jahat!" kali ini nadanya penuh dengan kemanjaan nyaris seperti rengekan. Aku tertawa kecil dan mencubit perutnya. Dia bergerak-gerak atau mungkin tepatnya menggerak-gerakkan pinggulnya menggesek-gesekkan vaginanya ke pahaku. Lagi-lagi aku tertawa. "Udah nggak kuat lagi?" "Ayo dong mas!" Aku menarik tubuhnya hingga berdiri dan merebahkannya di tempat tidur. Separuh tubuhnya aku biarkan dipinggiran ranjang. Begitu berbaring, tak perlu lagi bantal dibawah pantatnya untuk membuat selangkangannya menggunduk setinggi itu. Pantatnya sendiri udah mengganjal gundukan vaginanya menjadi setinggi itu. Sekarang gantian aku yang berlutut diantara pahanya. Aku buka keduanya lebar-lebar, yang kiri aku bentang kearah kiri sementara satunya aku angkat tinggi-tinggi kearah kanan. Ketika terbuka, tercium segera bau khas itu semerbak memenuhi ruangan. Aku melihat pemandangan didepanku dan terpesona. Gerumbulan rambut jembutnya berakhir diarea sebelum vaginanya dan tumbuh memutarinya dikiri dan kanan vaginanya. Beberapa helai berkelompok terkena cairan bening. Ditengahnya tampak sekumpulan daging yang hangat itu. Warnanya coklat tua sewarna dengan kulit ujung sikunya tapi lebih gelap lagi. Diantaranya terlihat warna-warna licin kemerahan sewarna dengan bagian dalam mulutnya. Kontolku yang tadi melemas mulai terasa tegang lagi. Aku agak takjub karena itu terjadi hanya kurang dari semenit setelah orgasme tadi. Aku membuka perlahan-lahan bagian itu dan menemukan helai-helai bibir- bibir vaginanya. Aku menjembengnya perlahan dan menemukan warna daging basah kemerahan didalamnya. Diujung helaian itu tampak sebentuk bulat klitorisnya yang tampak merah tua. Aku dekatkan wajahku dan mencoba menjilat bentuk itu. Perlahan sekali dengan gerakan dari bawah keatas aku merasakan halus permukaan klitorisnya yang sudah dilumuri cairan bening itu dipermukaan lidahku. Rasanya seperti ......... coba deh teman-teman cowok cari buah klengkeng bergaris tengah kecil saja, terus kupas kulitnya dan coba jilat buahnya itu perlahan, kira-kira kayak gitu deh cuman yang ini lebih empuk dan agak berbau. Seirama dengan gerakan lidahku itu aku merasakan otot bagian dalam pahanya mengejang, begitu juga dengan selangkangannya sehingga sekilas terbentuk tulang-tulang selangkanya menonjol dari tubuhnya yang sintal. Aku coba membuat lagi gerakan dari bawah ke atas seperti tadi, juga dengan perlahan-lahan tapi kali ini dengan lebih menekannya lagi. Lagi-lagi aku merasakan kejangan seperti tadi. Aku angkat wajahku dan mencoba menengok wajahnya. Ratih sedang memandangi langit-langit kamarnya. Mulutnya terbuka sebagian, kedua tangannya terangkat keatas sehingga menampakkan kulit ketiaknya yang bersih dari bulu. Putingnya tampak tegak lurus keatas seperti stupa candi Borobudur. Aku tersenyum dan menggodanya. "Ngliatin apa mbak?" Dia melirikku dengan sudut matanya dan tersenyum masam, sambil berbisik "Hngggg .... ah mas Ari. Hayo terusin dong ...... mas!" Dengan masih memandangi wajahnya, aku menjembeng vaginanya dengan tangan kananku dan dengan jari telunjuk dan tengahku aku mencoba menggosok klitorisnya lagi perlahan sekali. Wajahnya langsung berubah seketika, matanya terpejam, dari mulutnya keluar suara mendesah halus. Kaki kanannya yang tadi terangkat keatas tiba-tiba menghantam bahuku ketika gosokan jemariku terpeleset oleh licinnya pelumas dipermukaan klitorisnya. Aku sendiri merasakan paha kirinya disebelah tubuhku bergetar karenanya. Lagi-lagi aku tertawa kecil, dan mencoba menggodanya lagi. "Rat!" Ratih membuka matanya kembali dan memandangiku. "Berapa 24 dikali 54?" Hitungan yang sulit tentu saja bagi seseorang yang lagi terangsang berat macam begitu. Teman-teman bisa coba deh, tanyain tuh cewek atau cowok kamu pas lagi gituan sama kamu dengan pertanyaan semacam itu, dijamin pasti nggak bisa jawab. Kali ini bukan suara merajuk lagi yang keluar dari bibirnya tapi udah merengek minta dimasuki. Tak perlu pemanasan lagi bagi kontolku demi mendengar suara merdu nan merangsang itu. Doi langsung tegak lurus mendongak keatas. Aku segera mengatur posisi diatas tubuhnya diantara pahanya. Aku buka pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul 'welcome'. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas 'pintu'nya yang berupa celah yang diapit oleh dua bibir-bibir yang bergelambiran. Pantesan yang pertama dulu sulit dimasuki, barangkali saat itu aku mendorong kontolku sehingga melipat bibir labianya menutupi lubang masuknya. Kali ini aku pastikan aku tidak akan mengalami kesulitan serupa. Dengan dua tangan aku buka lipatan bibirnya itu dan dapat kulihat celahnya itu tampak penuh cairan licin. Aku dorongkan saja pinggulku sehingga kontolku pas menumpang diatasnya. Dengan satu tangan aku menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan kepalanya pas berada didepan celah lubangnya itu. Dengan satu sentakan perlahan aku dorongkan kepala kontolku memasukinya. Sekian centi memang lancar saja kepalanya masuk, tapi pas sekitar 4 atau 5 cm kedalamannya tiba-tiba lubangnya menyempit sehingga seperti mengerem masuknya kontolku. Kali ini aku yang tergial demi merasakan sedikit demi sedikit kontolku mulai terjepit oleh himpitan lubangnya itu. Hebatnya meskipun sempit, kontolku maju terus meskipun perlahan, mungkin karena licinnya cairan yang keluar tersebut. Yang berubah hanya akibat yang ditimbulkannya bagi tubuhku. Sampai setengah panjangnya aku menyodokkannya dengan perlahan-lahan. Begitu melewati 'cincin' sempit tadi, aku mendesakkannya dengan kuat sehingga batangku masuk seluruhnya diiringi rasa nikmat yang teramat sangat. Aku sempat merebahkan dadaku diatas perutnya demi merasakan nikmat itu. Begitu juga dengan Ratih, kakinya menegang kuat, tangannya menggapai kepalaku dan menjambak rambutku kuat-kuat. "Maaasss....!!!! hhhggg!" Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda perlahan-lahan. Aku merasakan bahwa beberapa tusukan lagi akan bisa membuatku ejakulasi dan aku nggak ingin meninggalkan Ratih kembali dengan ketidaktuntasan. Ketika mulai reda aku mencoba menariknya perlahan. Tidak ada bedanya antara cepat atau lambat, masing-masing mempunyai sensasi berbeda tapi dengan rasa yang sama-sama nikmat. Ketika tinggal kepalanya saja yang terjepit aku kembali diam merasakan sesuatu mengalir mendesak selangkanganku. Kayaknya aku nggak akan sanggup membuatnya orgasme dengan kontolku saja. "Rat!" Ratih menengok dan memandangi penuh harap. "Kayaknya aku akan keluar deh, kalau aku masukin lagi!" Terpaksa aku berterus terang daripada nanti malu. Ratih memandangiku mencoba mencerna perkataanku. Beberapa saat kemudian dia berkata.
"Mas Ari....... langsung cepet ....aja.. ya ...!" Kayaknya dia udah nggak tahan lagi dan nggak punya pilihan lain. Terpaksa, keluar cepet atau tidak, aku tarik tubuhnya kepinggir ranjang sehingga area vaginanya pas dipinggir ranjang. Kakinya masih terangkat sendiri keatas sehingga semakin mendongakkan selangkangannya. Aku dorongin lagi kontolku kuat-kuat menghunjam ke kedalaman vaginanya dan berhenti. Aku letakkan tanganku diantara kedua ketiaknya terus aku luruskan kakiku sehingga tubuhku lurus membentuk sudut dengan kontolku pas menghunjam vaginanya pada sudut yang sesuai. Kakinya terus kurasakan dijepitkannya kepinggulku. Aku menghitung satu...dua...tiga... dan mulai menarik kontolku dan menghunjamkannya kembali dengan sekuat tenaga dan tanpa menghentikannya di setiap gerakan. Tidak terlalu cepat karena hambatan dari daya cengkeram vaginanya tapi cukup kuat dan konstan. Aku menghitung gerakanku seperti saat melakukan aerobic. Satu ... dua ... tiga ... empat .... lima ... enam ... tujuh ... delapan .... satu ... dst. Setiap kali dengan gerakan menghentak yang semakin kuat. Ternyata nasehatnya boleh juga. Meski masih merasakan nikmat itu, aku tidak lagi merasakannya sekuat tadi. Aku terus bersemangat menggenjot. Entah udah berapa kali hitungan satu sampai delapan aku lakukan. Aku hanya merasakan tubuhku mulai memanas dan keluar keringat, demikian juga Ratih yang kurasakan basah dibagian dalam pahanya. Untungnya ranjangnya ternyata bagus juga konstruksinya sehingga tak terlalu bersuara kecuali sedikit suara duk- duk-duk setiap kali pinggulku menghunjam dalam-dalam menghantam bagian selangkangannya. Cuman suara Ratih jadi berisik sekali, demikian juga suara vaginanya yang mulai berkecipakan 'riang' memenuhi kamarnya itu. "Nggak.....ada.... yang..... dengar .... ya? ..... hhhhh ..... kamu.... berisik.... banget!" sambil bergerak aku mencoba berkata- kata, jadinya agak sedikit tergagap-gagap. Sambil memandangiku, wajahnya yang bergerak-gerak seirama dengan gerakanku, menggeleng- geleng. Kembali beberapa saat kemudian suaranya berisik. "Ssssss....hhhh....ooohhhh.....!" Hangat nafasnya memenuhi wajahku yang udah mulai memerah. Sedikit demi sedikit diantara gerakanku aku merasakan kontolku mulai terasa panas. Mungkin produksi pelumasnya udah mulai berkurang. Tapi karena itu juga rasa nikmatnya jadi melonjak tinggi-tinggi, sehingga bagiku terasa jelas dibagian mana aku berada. Hanya sekian saja dari puncak membuatku terus dengan sisa-sisa tenaga menggenjotnya kuat. Tanpa kusadari waktunya, tiba-tiba Ratih mencengkeramkan tangannya dibagian samping dadaku sehingga kurasakan kukunya menggores kulitku kuat, aku rasakan perih tiba-tiba. Yang dahsyat, lubang vaginanya tiba-tiba kurasakan menjepit penisku kuat-kuat, bukan sekali tapi seperti gerakan tangan suster yang sedang memompa alat pengetes tekanan darah (tahu khan?), beberapa kali dengan sangat kuat, dengan timing yang tepat pula, yaitu setiap gerakan mengempis pas dengan gerakanku menarik. Jadinya seperti memijat-mijat dengan kuat. "Mas......hhhhh...OOOOOHHHHH!!!" Suaranya yang keluar tak kalah dahsyatnya. Mungkin karena sifat kelembaman, gerakan tubuhku tidak terhenti oleh kejadian itu. Jadi terus aku terus menggenjot ditengah- tengah orgasmenya itu. Apalagi kurasakan puncak udah dekat sekali. Kurasakan tubuhnya yang menegang sekian lama diantara genjotanku yang semakin kuat saja menyambut puncak yang semakin dekat. Tiga ...... Empat .... lima.... 6.7.8.9.10......... Aku tiba-tiba merasakan aliran spermaku tanpa bisa kutahan menyemprot kuat kedalam liang vaginanya mengiringi rasa nikmat luar biasa yang kudapat. Tiba- tiba pula denyutan vaginanya yang baru saja sekian detik yang lalu kurasakan, kini kurasakan lagi seiring dengan mengalirnya semprotan spermaku didalam tubuhnya. Tampaknya Ratih mengalami lagi orgasme, semacam orgasme bayangan yang biasanya menyertai sekian detik setelah yang pertama terutama jika terjadi jeda sekian detik saja dengan orgasme sang pria dan orgasme yang pertama belum lagi reda, biasanya karena rasa hangat akibat sperma menyentuh dinding-dinding rahim atau karena gerakan menyentak yang biasa dilakukan dengan sangat kuat oleh pihak pria yang sedang ejakulasi (peristiwa ini bukan karangan, ini pernah kualami, rasanya luar biasa karena lebih lama dan terasa diseluruh tubuh dibandingkan yang pertama). Aku terus menggenjot dengan kuat menghabiskan 'cadangan amunisi' yang aku punya sampai aku merasakan kontolku udah seperti kehilangan tegangan. Aku langsung ambruk menimpa tubuhnya, kontolku masih menancap penuh, kakiku langsung berlutut. Tubuhku udah basah kuyup oleh keringat. Mungkin orgasme dengan berkeringat seperti itu memang jauh lebih nikmat karena setelahnya ada perasaan gerah tapi lega. Yang tiba-tiba baru kusadari, aku merasakan tubuh Ratih tegang. Kakinya bahkan masih tegang menekuk meskipun udah merebah tertimpa tubuhku. Mungkin saja dia mengalami ekstase. Dengan sisa-sisa tenaga aku bangkit sehingga penisku tercabut. Mudah saja karena udah lemas. Aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Ratih terlentang, tangannya terangkat keatas dua-duanya. Wajahnya terangkat keatas, matanya terbuka sedikit dan memandang dengan kosong kelangit-langit, bibirnya terbuka sedikit, dadanya naik turun dengan agak cepat tapi teratur. Kakinya bahkan tak menutup, terbuka lebar kekiri dan keatas sehingga selangkangannya yang udah nggak karuan bentuknya, penuh cairan dan rambut-rambutnya bergumpal-gumpal lengket, terlihat jelas, tampak merah tua dan masih merangsang. Bekas genjotan kontolku tadi terlihat dari masih terbukanya celah lubang vaginanya, nggak lebar tapi menampakkan kedalamannya. Aku menggariskan kuku telunjukku mulai dari lutut menelusuri bagian dalam pahanya yang basah sampai kearea dekat vaginanya. Benar juga, aku merasakan tubuhnya bergetar cepat diiringi suara lenguhan perlahan. Kakinya perlahan sekali bergerak menutup, tapi hanya sedikit gerakan terus berhenti lagi, sehingga selangkangannya masih terbuka lebar. Aku menggariskan lagi kukuku memutari area vaginanya. Kembali tubuhnya bergetar cepat. Aku pernah membaca bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi ekstase seperti itu, rangsangan biasa akan terasa luar biasa dan bisa memperlama ekstasenya, bahkan usapan halus rambut diputing bisa membuatnya bergetar hebat oleh rasa nikmat. Ekstase sendiri itu adalah kondisi orgasme yang grafiknya bukan seperti gunung (naik tinggi terus langsung turun), tapi seperti bentuk lunas perahu dibalik (naik terus berhenti dipuncak ketinggiannya sampai beberapa lama baru turun). Aku ingin betul-betul memberinya kepuasan terhebat dalam hidupnya, jadi selama Ratih masih 'belum sadar' dari ekstase-nya itu aku ingin memberinya sensasi-sensasi. Dengan mengabaikan awut-awutannya area selangkangannya, aku membuka kembali bibir-bibir labianya dan menemukan klitorisnya berwarna merah gelap, jauh lebih gelap dari tadi. Aku menjilatnya perlahan-lahan dan kembali merasakan getaran hebat seperti menggigil dipahanya, membuatku terus memutar-mutar lidahku dan kadang-kadang mencucukkannya secara kontinyu dan konstan ke klitorisnya. Getaran-getaran menggigilnya terasa kuat diselingi gerakan menggelinjang tak terkontrol. Aku ingin menyodokkannya kontolku kembali kedalam liang vaginanya, tapi apa daya doi udah tergolek lemas, meskipun aktivitasku mulai membangkitkan lagi gairahku. Akhir kata, malam itu aku sanggup mempertahankan ekstasenya sampai hampir satu jam. Keesokan harinya aku tidur semalam suntuk, nggak kuliah. Ketika lusa harinya aku mencoba menelponnya, aku dapat kabar bahwa Ratih masuk rumah sakit, katanya doi mengalami shock. Aku jadi was-was jangan-jangan terjadi sesuatu dan itu karena perbuatan kami kemarin, walaupun pas aku pulang kemarin Ratih masih sanggup mengantarku sampai pintu gerbang kostnya. Ternyata Ratih hanya mengalami penurunan tensi saja, dan kata dokter itu akibat aktivitas yang melelahkan. Sambil menceritakan itu Ratih sesekali tersenyum sambil melirikku. Kejadian itu adalah yang terakhir antara aku dan Ratih karena beberapa minggu kemudian pacar Ratih telah kembali kekota kami. Sesekali kami saling kontak lewat email atau telpon, tapi tak satupun pernah mengungkit-ngungkit peristiwa hebat itu. ----- Demikianlah teman-teman karanganku, mohon maaf jika ada deskripsi atau uraian yang salah. Cuman emang sensasional sekali membayangkan apa yang dirasakan oleh pasangan kita ketika sedang bersenggama dengan kita. Untuk diketahui, setelah menulis cerita ini habis-habisan aku menghabiskan tenagaku untuk ...... ah enggak enak kalo diceritain. Ini ada advis untuk kamu-kamu yang cowok untuk membuat pasangan kamu bahagia. Kalo kamu lagi senggama dan pas timingnya seperti tadi, yaitu kamu orgasme duluan atau malah belum sama sekali, sedangkan cewek kamu udah sampai (kamu pasti bisa ngerasainnya khan?). Sebelum dia selesai dari orgasmenya segera cabut penis kamu (artinya saat itu dia sedang meneruskan rasa nikmatnya tanpa penis kamu) terus coba rangsang secara manual (jangan dengan penis), misalnya kayak tadi goreskan kuku kamu dibagian dalam pahanya dari arah lutut ke arah vaginanya, atau langsung gosok klitorisnya perlahan-lahan, jangan lakukan itu dengan cepat karena akan mempercepat selesainya orgasmenya. Nah ceritanya mungkin saja cewek kamu itu tipenya yang kalo orgasme dan ditengah- tengahnya rangsangannya dihentikan, dia tidak dapat menyelesaikan sendiri orgasmenya, tapi rasa nikmatnya berhenti dititik dimana dia mendapatkannya tadi. Saat itu rasanya seperti nggantung tapi oleh rasa nikmat yang tinggi. Rangsangan dari kamu yang pelan-pelan akan mempertahankan rasa nikmatnya tadi pada titik yang konstan tapi tinggi. Seberapa lama dia mampu bertahan di'ketinggian' itu, tergantung seperti apa cewek kamu itu. Jadi bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang. Advis ini datang dari pengalaman pribadiku jadi kemungkinan berhasilnya amat besar. Kadang-kadang masalahnya justru apakah kamu sanggup berhenti ketika cewek kamu sedang orgasme yang biasanya saat itu kamu sendiri juga sedang 'megap-megap'. OK deh, Selamat berjumpa dilain cerita.
Aku dan Ratih


Ratih adalah adik kelasku. Dia angkatan 96 sementara aku sendiri adalah angkatan 94. Aku berkenalan dengannya ketika saat itu kita bersama menjadi panitia disebuah pameran. Ratih sebenarnya tidak terlalu cantik, tapi cukuplah manis. Kulitnya agak sawo matang. Tingginya sekitar 165-an cm. Bertubuh padat, payudaranya tidak terlalu besar malah cenderung kecil tapi berputing besar, perutnya liat dan pinggulnya OK banget, pantatnya gedhe dan penuh padat. Selangkangannya empuk, hangat dan berambut agak jarang sehingga lipatan-lipatan daging vaginanya terlihat jelas bergelambiran menutupi lubang vaginanya yang dalam dan penuh dengan denyutan- denyutan kuat. Klitorisnya besar dan tampak menonjol merah tua berkilat jika bibir-bibir yang menutupinya dijembeng. Secara umum aku telah berteman dengannya nggak terlalu lama, tapi sikap permisifnya telah membawaku 'merasakan' kehebatan tubuhnya. Aku bahkan nggak harus berpacaran dengannya untuk bisa merasakan betapa ketat dan liatnya tubuhnya. Kejadiannya terjadi pada suatu malam sekitar jam 20.00-an di kamar mandi suatu gedung pertemuan yang besar dikotaku. Ketika itu Ratih memintaku untuk mengantarnya pulang karena dia sedang menjaga pameran disana. Aku datang disana sekitar jam 19:45-an dan melihat pengunjung pamerannya begitu banyak. Selain Ratih disana sebenarnya masih ada 4 orang yang lain yang juga bertugas menjaga pameran. Sampai suatu saat Ratih memintaku untuk mengantarnya kekamar mandi dibagian lain dari bangunan itu. Maklum selain area itu besar, juga terkenal katanya agak angker. Kami berdua menuruni tangga yang menuju tempat pameran. Dan berjalan berduaan menuju bagian belakang dari bangunan itu. "Rat, katanya disini angker ya!" Aku menggodanya sambil menunjuk sebuah bangunan yang berbentuk seperti rumah kecil dengan pintu-pintu seperti sel penjara. "Ih Mas Ari, nggak ah!" Dia mendekat dan mencubitku dan kami berdua berjalan terus sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sampailah kami dikamar mandinya. Lampunya mati semua aku mencari semua saklar dan akhirnya ketemukan sebuah yang menyalakan lampu kecil diatas dua kamar mandi yang terpisah dinding setinggi sekitar 2 meteran. "Tuh lampunya udah nyala, sana gih!" Ratih masuk kamar mandi dan sebentar kemudian aku mendengar suara seperti mendesis atau seperti kran yang ditutupi separuh lubangnya dengan tangan sehingga airnya memancar. Itulah bunyi cewek kalo lagi kencing. Karena gelap suara itu terdengar jelas sekali. Sebentar kemudian suara siraman-siraman air terdengar dan tak berapa lama kemudian Ratih keluar dari kamar kecil itu. Entah kenapa suara desisan air tadi membuat kontolku agak menegang. Bayanganku suara mendesis seperti hanya keluar dari lubang yang sangat sempit. Nah unsur sangat sempit inilah yang membuatku tegang. Padahal sempitnya lubang kencing cewek khan belum tentu menandakan sempitnya lubang vaginanya. Ratih mendorong punggungku dari belakang karena aku menunggunya didepan pintu ruangan kamar mandi itu dan melihat kedepan. "Kalo dari sini bagus banget yo itu!" aku berkata sambil menunjuk bangunan utama menara apartemen yang baru dibangun yang diberi lampu- lampu kecil diatas tiap jendelanya. "Bagus apa?" katanya menggodaku sambil mendorongku tapi karena aku tetap diam ditempat, dia jadinya memelukku dari belakang, sebentar saja, kemudian dia memisahkan diri. Dan berdiri dibelakangku. "Udah?" "Udah" "Suaranya keras banget!" "Ih ngeres, nggak-nggak-nggak!" aku tertawa perlahan. "Keras banget, bener!" "Yaa.. gimana lagi, emang dari sononya kayak gitu!" Katanya sambil mencubitku. "Rat, kita mbaliknya kesana nanti aja ya. Disini dulu saja sebentar!" "Ngapain disini, bau!" "Ala cuek aja!" Aku menarik tangannya perlahan sehingga dia berada disebelahku. Kami terdiam beberapa saat demi menyaksikan pemandangan yang memang indah justru dikegelapan malam. "Mas katanya kalo berduaan dikegelapan kayak gini, pihak ketiga adalah setan!" "Iya, setannya bisa kayak aku atau kayak kamu!" "Apa iya? Setan kok manis kayak gini!" Aku melihatnya dikegelapan malam, tingginya hanya sebahuku lebih sedikit, tersenyum manis (emang manis bener kalo Ratih tersenyum). Entah kenapa tiba-tiba aku merangkulkan tanganku kepinggulnya dan menariknya mendekat kearahku. Tubuhnya menempel ketubuhku dan aku merasakan hangat tubuhnya dipinggul menembus kain-kain pakaian kami (setidaknya empat lapis, celana dalamnya, celana jeansnya, celana pantalon dan celana dalamku). "Tuh setannya Mas Ari khan?" "Apa iya, masak gini aja setan?" "Ya iya, kalo didiemin nanti kemana-mana" "Apanya?" "Tanganmu itu!" "Lho emangnya tanganku ngapain?" "Nggak!" "Ratih-ratih, kamu memang manis!" "Gombal!" "Ya udah, kami nggak manis tapi muanis banget!" Sambil tertawa kecil aku semakin merapatkan pinggulnya kearahku. Sesekali aku merasakan daging pantatnya yang empuk tapi liat dan hangat. "Nggg...!" Dia merengek manja dan merapatkan punggungnya kedadaku sehingga sekarang dia berada didepanku. Kali ini aku merangkulkan tanganku sehingga telapak tangannya berada diatas perutnya sehingga otomatis pantatnya tepat mendarat empuk didepan selangkanganku. Kadangkala dalam situasi seperti itu aku bisa menahan diri untuk tidak ereksi sehingga tidak terlihat bernafsu, sehingga kehangatan pantat besarnya itu tidak bisa membuat kontolku bangkit meskipun tadi sempat terbangkit juga. Aku menggerakkan tanganku satunya sehingga keduanya berada diatas perutnya. Ada sedikit kerutan lemak, tetapi secara umum Ratih seksi sekali. "Nggak ngganjel khan?" "Apanya?" "Ini" sambil berkata aku menekankan pinggulku sehingga terasa keempukan pantatnya mengalirkan kehangatan dibatang kontolku. "Kok masih empuk mas?" Pertanyaan lugas tapi akibatnya sedikit merangsangku sehingga akhirnya kontolku mulai bergerak membesar. Aku masih merangkul perutnya. "Siapa bilang, tunggu aja sebentar lagi, kalo marah doi nakutin lho!" "Takut apaan? Aku khan mahasiswa. He..he nggak ada hubungannya ya mas!" Sambil berkata-kata Ratih bergerak-gerak kekiri dan kekanan sehingga otomatis seperti mengelus-elus batang kontolku yang segera bangkit dengan cepat dan tak berapa lama kemudian udah mengeras dibalik celana dalamku. Untung tadi posisinya bener sehingga tidak terasa sakit karena tepat berada diantara belahan pantatnya itu. Tapi terasa sekali keras, ditambah lagi celana kain yang aku pakai semakin mengalirkan 'kekerasan' itu. Beberapa saat kami berdua terdiam demi merasakan sesuatu telah mengalir diantara kami. Aku merasakan empuk dan hangat pantatnya 'menakup' batang kontolku. Entah apa yang dirasakan Ratih, merasakan silinder panjang dan keras diantara bongkahan pantatnya. "Mas Ari, udah pernah begituan?" "Begituan apa? Lari lintas alam!" "Sst... nggak seneng aku!" "Kalau nggak seneng, ya udah putus aja!" "Iya khan, sukanya bercanda melulu!" "Aku memang anggota Srimulat kok!" Aku menggerakkan tangan kananku perlahan keatas sehingga berhenti tepat dibawah payudara kanannya. Sementara tangan kiriku aku gerakkan kebawah sedikit sehingga mungkin pas di ujung area jembutnya. Ratih kurasakan agak menempelkan tubuhnya lebih erat kedadaku. Aku merasakan punggungnya yang lebar menempel hangat didadaku, rambutnya yang sebahu tercium harum sekali dihidungku. Aku merasakan adanya peningkatan dari detak jantungnya terasa ditangan kananku. "Mas...!" "Apa?" "Nggak!" "Kamu kok sukanya gitu, ngomong terus nggak diterusin, jadinya khan nggantung" "Anu..... tangannya dinaikin dikit dong!" Pasti yang dimaksudkannya adalah tangan kananku yang berada pas dilembah payudaranya. "Nggak ah, aku takut ketinggian!" "Tu khan, serius dong!" Belum selesai dia mengucapkan kalimatnya, tangan kananku aku tangkupkan pas diatas payudaranya. Emang kecil karena hanya terasa seperti gundukan kecil saja. Dengan gerakan seperti tidak sengaja aku menggerakkan tanganku kebawah sehingga mengelusnya secara perlahan. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit seperti tergial. Dia memegang tangan kiriku. "Kecil ya mas!" suaranya berbisik perlahan nyaris terdengar seperti mendesah. "He-eh, tahu sebabnya. Karena jatahnya dipake buat nggede'in ini!" Sambil berkata itu aku menggoyangkan pinggulku kekiri dan kekanan sehingga batang kontolku yang mulai kehilangan 'tegangan' kembali menegang demi ditekan kearea diantara dua bongkahan besar pantatnya itu. "Hhhh.... ini khan buatan yang diatas sana!" "Heeh, kamu harus bersyukur!" Sambil terus bercakap-cakap aku terus melakukan rabaan-rabaan dipayudaranya itu. Sementara tangan kiriku mulai berani mendekat ke area venusnya yang menggunduk meskipun dia dalam posisi berdiri, tanpa ada hambatan sedikitpun darinya. Detak jantungnya terasa semakin cepat saja. Sebentar kemudian terdengar sesekali suara nafas tertahannya. "Rat?" "He eh?" "Kamu udah pernah begituan?" "Belum pernah, cuman udah pernah ngrasa'in enaknya" "Kok bisa?" "Pake ini!" Sambil berkata dia mengangkat tangannya dan jemari tengahnya diangkat sehingga aku tahu maksudnya. "Emang bisa enak?" "Tinggal gimana caranya khan!" suaranya mulai keluar nada-nada manja yang erotis. "Jadi kamu udah nggak...?" "He-eh, kenapa keberatan? Mas Ari pasti juga udah nggak toh?" "Iya" "Pake ini juga?" Katanya sambil mengangkat tangannya lagi dan membentangkan jemarinya. "Enggak!" "Lha pake apa?" "Pake ini!" Sambil berkata tersebut aku menggerakkan tangan kiriku dan menyapu kehangatan selangkangannya. Ratih merapatkan tubuhnya demi merasakan elusan diarea vaginanya. Aku nggak hanya menyapunya sekali tapi menggerakkan jemariku menggeranyanginya dan kira-kira pas diarea diatas klitorisnya aku mengucek-nguceknya perlahan. Sementara tangan kananku aku selipkan diantara sweaternya dan segera menyentuh perutnya yang hangat dan keatas terus sampai kutemukan kain bra-nya dan jemariku mencari-cari celah dibawahnya dan segera ketika ketemu segera semua jemarinya menyelinap masuk dan menemukan daging yang empuk walaupun kecil tapi dihiasi oleh daging liat seukuran batang rokok yang terasa keras dan mengacung. Aku menjepitnya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan memutar-mutarnya perlahan. Aku merasakan tubuh Ratih mengejang demi merasakan rabaanku. Kontolku untuk kesekian kalinya menegang keras sekali dan aku merasakan nafsuku semakin memuncak demi merasakan getaran tubuhnya disekujur tubuhku. "Rat, kita matiin lampunya yuk!" "He..hh!" suaranya he-ehnya terdengar begitu manja. Efeknya dari telinga langsung seperti menggosok kepala penisku sehingga seperti mengedutkan aliran darah dalam penisku. Aku mematikan saklar dan menariknya masuk kekamar mandi tersebut. Karena gelap aku pikir tak perlu menutup pintu sehingga dari dalam ruangan yang gelap terlihat ruangan luar yang agak lebih terang. Aku menariknya dan mendorongnya ketembok sehingga tangannya menumpu pada tembok pada posisi berdiri. Perlahan-lahan aku membuka kancing celana jeansnya dan menarik resluitingnya kebawah. Aku menariknya kebawah sampai kira-kira sepuluh centimeter dari lutut. Sekarang terasa kain lembut celana dalamnya ditanganku sedikit terasa lembab, mungkin karena air. Aku menariknya perlahan-lahan juga sehingga sekarang Ratih tidak memakai apa-apa lagi dibawah. Perlahan-lahan sekali aku menggerakkan tanganku keselangkangannya dan menemukan segerumbulan rambut yang halus tapi nggak terlalu lebat. Sehingga pada elusan pertama langsung kurasakan daging bibir vaginanya, rasanya sebagian halus seperti bagian dalam bibir, basah dan licin, sebagian lain seperti kulit di sisi bagian luar siku tangan. Aku menyeruakkan jemariku kedalam ketebalan bibir-bibir vaginanya itu dan menemukan kelicinan akibat mulai keluarnya cairan vaginanya (bagi cowok yang belum pernah merasakan licinnya cairan itu, coba deh kalian masturbasi atau rangsang penis kalian sampai keluar cairan bening - bukan sperma lho - dari ujung penis kalian, nah kira- kira seperti itulah cairan vagina itu cuman lebih kental lagi dan berbau khas yang tak sanggup aku deskripsikan dengan baik sampai sekarang). Ratih semakin menempelkan tubuhnya ditubuhku dan aku bisa merasakan langsung betapa dahsyatnya pantatnya sampai mendorongku kebelakang. Aku terus mengelus-elus vaginanya sampai aku merasa Ratih betul-betul udah naik. Aku sendiri sebenarnya udah nggak kuat banget. "Mas Ari!" "Apa, sayang!" "Pelan-pelan ..ya...mas!" Aku betul-betul udah nggak kuat lagi. Aku mendorong punggungnya sehingga dia menungging. Nggak perlu bersudut 90 derajat untuk membuat vaginanya menghadapku, baru sekitar miring 45 derajat pantatnya telah mendongakkan vaginanya tepat setinggi penisku berada. Aku mengeluarkan penisku dari dalam celana dan merasakan kebebasan ketika batangnya menjulur keluar dengan bebas dan segera aku mengarahkannya kevaginanya didalam kegelapan. Aku menggerak- gerakkannya sehingga terasa berada diantara cekungan bibir-bibir vaginanya. "Udah....pas belum?" aku bertanya nyaris berbisik. "He..eh!" Aku mendorongnya perlahan-lahan. Terasa seperti mendorongnya kedaging masif saja, tidak ada kemajuan yang berarti. Rasanya kepala penisku masih tetap ditempatnya, tidak ada celah yang terbelah. "Rat, buka paha kamu dikit dong! .............. Nggak bisa masuk nih" aku berbisik dalam keadaan terangsang berat. Ratih menggerakkan kakinya membuka tapi hanya selebar celananya yang mengikat kedua pahanya. Aku kembali mendorongkan pinggulku mendorong 'ujung tombakku' untuk masuk. Kembali terasa mentok. Aku mengambil posisi lagi. "Kayaknya nggak pas deh mas!" sambil berkata demikian Ratih merenggut kepala batangku, meremasnya sebentar kemudian mengarahkannya kevaginanya. Kali ini nafsuku semakin memuncak demi merasakan kepala batangku mulai terasa terjepit. Aku terus mendorongnya perlahan sehingga seluruh kepala penisku mulai menancap, perlu usaha keras untuk melakukannya. Tangan kananku memegangi bagian luar pantatnya dan tangan kiriku memegangi pangkal batangku untuk menjaganya agar tidak terlepas dari jalurnya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan mendorongnya perlahan-lahan kembali. Ratih menumpukan tubuhnya dengan dua tangannya didinding kamar mandi itu. Kembali rasanya seperti menemukan tembok daging yang liat. "Terus mas!" Ratih berbisik mesra membuatku terus bertenaga untuk menaklukkannya. Aku mendorongnya sedikit kuat dan kali berhasil memasukkan sekitar 5 cm lagi sehingga ditambah panjang kepala batangnya maka lebih dari separuh batangku telah masuk kedalam vaginanya. Lagi-lagi ini perlu usaha keras karena daya cengkeramnya ternyata jauh lebih kuat lagi. Bukan jepitan yang pasif tapi seperti mengalirkan denyutan darah dan urat-uratnya keseluruh batang penisku yang masuk, sehingga seperti gerak peristaltik dalam ilmu biologi. "Ratih .. sayang!" "Mas Ari!" Dengan genjotan terakhir, akhirnya berhasil pula seluruh batangku masuk. Aku terdiam beberapa saat demi merasakan tubuhku seperti dipancangkan oleh cengkeram dahsyat lubang vaginanya. Perlahan lahan aku memasangkan kedua tanganku memegangi pantatnya dan mulai menggunakannya sebagai tumpuan untuk menarik penisku keluar. Perlahan- lahan tapi pasti penisku mulai bergerak keluar dari cengkeramannya dan ketika seluruh batangku mulai terasa bebas dari jepitannya aku mendorongnya lagi. Kali ini tidak seketat tadi, mungkin karena ototnya telah mengembang. Aku mulai bergerak dengan teratur dengan tempo yang lambat sekali sehingga dapat kurasakan setiap inci permukaan lubang vaginanya yang seperti daging ikan cumi yang masih mentah tapi hangat. Setiap dua atau tiga kali tusuk dan tarik, aku berhenti sejenak demi merasakan akan ejakulasi. Demikian seterusnya mungkin sampai sekitar 5 menitan, entah berapa kali aku menusukkan batang kontolku kedalam vaginanya, yang jelas setiap kali kulakukan, rasa nikmatnya semakin bertambah saja dan pas dekat-dekat ejakulasi aku menggerakkan batang kontolku menusuk-nusuknya dengan sedikit cepat. Aku mendengar suara sesekali seperti bunyi kecipak yang keluar akibat benturan buah pelirku dengan selangkangannya atau akibat letupan jepitan daging vaginanya dikepala kontolku yang menimbulkan getaran suara itu. Rasanya merangsang sekali. Jika kita menyenggamai seseorang dan mendengar kecipak bunyi divaginanya akibat dari gerakan kita, rasanya seperti menegaskan bahwa vagina seseorang itu udah layak untuk kita senggamai. Apalagi jika dipadukan dengan bunyi rengekannya dibibirnya dan gerakan-gerakan tak terkontrolnya setiap kali bunyi itu terdengar. Ketika sampai waktunya aku menarik batang kontolku keluar dan berjalan tertatih-tatih kepinggiran tembok disebelah Ratih yang masih menungging dan mengocoknya dengan cepat dan ketika keluar aku merasakan seperti seluruh cairan didalam tubuhku tersedot mengalir melalui saluran dalam kontolku dan menyembur keluar dengan kuat. Setiap semburannya mengejangkan tubuhku, pantatku terasa seperti kaku, lututku gemetaran dan dadaku berdetak cepat sekali. Aku segera mencari pegangan ditembok, kalo tidak aku bisa terjatuh dilantai. Sampai beberapa saat aku masih berpegangan ditembok dan merasakan kontolku mulai melemas. Aku menoleh dan melihatnya dalam kegelapan telah merapikan pakaiannya. Aku pun dengan tangan yang masih gemetar merapikan pakaianku lagi. Tanpa membersihkannya aku memasukkan penisku kedalam celana dalam dan merapikan celana kainku lagi. Aku mencuci tanganku yang berlepotan sperma dan bau dari vaginanya. Dan menuntunnya keluar ruangan. "Kamu hebat, sayang!" "Mas Ari jahat, aku belum nyampai! Hutang lho!" dia merengek dan meletakkan tangannya dan dahinya dibahuku. "Janji!" aku memeluknya Meskipun rasanya lama sekali aku melakukan itu, ternyata kami keluar tidak lebih dari 20 menit dari tempat pameran itu yang ketika kami kembali telah mulai ditutupi pintunya. "Ratih tadi kemana toh? Dicari pak Bambang tadi!" "Aku nyari boneka di Hero sama mas Ari!" Bisa juga dia menjawab sekenanya. Dalam hati aku berkata 'udah dapat khan Rat! Boneka yang bisa nyemprot!'. Aku berusaha tetap dinaungan kegelapan agar tidak terlihat wajahku yang pasti berantakan sekali. Tapi tidak demikian dengan Ratih, karena wajahnya sehari-hari memang begitu. Wajahnya khas wajah erotis, yang cenderung kayak baru bangun tidur atau sedang nggantung atau sedang nafsu. Malam itu kami berdua pulang agak malam, karena aku mengajaknya makan dilesehan dan ngobrol disertai perasaan baru tentang apa yang terjadi antara kami. Beberapa hari kemudian 'terpaksa' aku harus menyelesaikan tugasku tadi. Kami melakukannya dengan liar bagaikan dua ekor kuda yang sedang menyalurkan birahi.
Aku dan Ratih (2) Seminggu kemudian baru aku sempat menelponnya. "Halo" "Halo, bisa bicara dengan Ratih?" "Sebentar ya!" terdengar suara memindahkan pesawat, ada suara musik sebentar. Kost-kostnya cukup besar. Bentuknya mirip-mirip motel tapi ada pagarnya dimana masing-masing kamar menghadap keluar/ ketaman. Ada carport untuk masing-masing kamar. Kamarnya cukup luas, mungkin sekitar 4x5-an meter berkamar mandi sendiri. Antara satu kamar dengan kamar lain dipisah oleh semacam tembok sehingga seperti tersekat- sekat. "Halo!" "Ratih?" "Iya, mas Ari ya?" "He-eh, apa kabar?" "Jahat!" "Apanya?" "Katanya janji!" "Sorry lagi sibuk banget nih! Masih nggantung?" "He eh!" "Nggak kamu selesaiin sendiri?" "Nggak, khan itu tanggungan kamu mas!" "Iya ya! Besok malam?" "Aduh, aku ada janji! Lusa aja gimana?" "Iya deh! Dimana?" "Terserah mas Ari. Gimana kalo disini?" "Ok, ya udah deh!" Itulah yang selalu terjadi antara aku dan Ratih. Langsung dan tanpa tedeng aling-aling. Pernah nggak kamu mbayangin lagi enak-enaknya nyantai tiba-tiba seorang cewek duduk disebelah kamu dan langsung berkata 'mas tahu nggak aku tadi pagi nyobain begini' sambil berkata begitu dia menggesekkan jari tengah dan telunjuknya mengelus-elus telapak tangannya menirukan gerakan mengesek klitoris. Atau tiba-tiba seseorang bertanya 'mas, itunya cowok itu ada tulangnya nggak sih? Atau cuman otot?' atau 'mas, punyamu agak miring kekiri tuh!'. Nah seperti itulah hubunganku dengan Ratih meskipun dia bukan pacarku. Yang terjadi dulu, memang berkesan bagiku. Selama ini aku melihatnya sebagai teman aja, jadi sah aja kalo kadang-kadang emang pas ngelamun atau bahkan pas onani wajahnya terbayang atau pantatnya yang OK, kadang malah kalo biasanya pas onani agak lama, begitu wajah dan tubuhnya melintas diotakku, sebentar kemudian ejakulasilah aku. Malah aku pernah menscan fotonya dan mengolahnya dengan Photoshop dan menempelkannya kegambar-gambar cewek berpose telanjang atau lagi beradegan senggama difoto. Satu karyaku dengan cara itu pernah kusimpan sampai berbulan-bulan dan hanya kugunakan pas onani. Nah, dengan kondisi seperti itu, janjian untuk nyelesaiin 'tugas berat' itu memang sangat merangsangku. Berarti nanti khan kedatanganku ke kostku pasti dengan persiapan memang untuk begituan. Kusebut tugas berat karena aku nggak yakin aku bisa membuatnya orgasme jika kemampuan vaginanya seperti itu. Aku sendiri udah pernah begituan beberapa kali dengan pacarku yang dulu yang jika kuingat-ingat nggak pernah bisa lebih lama dari 10 menitan. Padahal ketika aku melakukan dengan pacarku itu, doi udah nggak perawan lagi dan vaginanya udah longgar nggak seketat milik Ratih. Seringkali aku bisa mengatur irama nafsuku jika pas onani kadang sampai lebih dari satu jam (rekorku hampir dua jam). Tetapi dengan vagina beneran emang lain banget, karena yang berperan bukan hanya jepitan dan cengkeraman nikmat di kontol kita, tapi juga desahan nafas, hangat perut, paha, payudara dan punggungnya. Apalagi jika doi orangnya 'interaktif', yang nggak hanya telentang mengangkang pasif nungguin kita nyemprot, tapi terus menerus melakukan 'body language' setiap kali 'ditusuk' (tahu nggak teman- teman cowok? salah satu gerakan di senam body language kayak di ANTeve tiap pagi itu - yang gerakannya berupa gerakan mendorong area pinggul kedepan disertai mengempiskan otot perut - bisa membuat otot-otot vagina bergerak menyempit sehingga menjepit dan mengenyot apa saja yang ada didalamnya). Pertama kali begituan, aku bahkan udah ejakulasi ketika pacarku itu baru memegang batang kontolku saja. Belum dikocok apalagi dimasukkan kevaginanya. Dengan kondisi lagi 'nggantung' kayak gitu, Ratih pasti nanti akan lebih agresif lagi. Aku segera mempersiapkan diri dengan baik. Tiap malam sebelum pertemuan itu aku selalu menelan telur setengah matang, paling tidak dua butir. Tiap mandi aku selalu mencuci kontolku dengan sangat bersih, jembut yang nggak beraturan aku rapiin. Celana dalam yang bersih aku siapin, nggak tanggung-tanggung aku beli beberapa yang baru. Juga nggak lupa aku beli sebungkus kondom Durex, buat jaga-jaga. Aku pikir begituan pake kondom pasti nggak enak karena hangatnya alat vital masing-masing nggak bisa tersalurkan dengan baik. Emang mungkin aku akan lebih tahan lama pake kondom, tapi aku nggak yakin apakah Ratih mau ngerasain plastik divaginanya. Tibalah hari yang kutunggu-tunggu. Sore itu aku bersiap diri sekitar jam 19.00 sore, pake celana dalam baru untuk membungkus benda kesayanganku itu, jembutnya udah rapi, nggak terlalu lebat tetapi juga nggak habis-habis amat, batang dan pelirnya aku sabun sampai bersih habis. Aku semprotin sedikit Polo Aqua agar ada nuansa harum, terus pake celana jeans dan kaos, terus pake jaket. Aku masukin kondom kedalam dompet. Dan segera naik motor dan meluncur ketempat kost Ratih. Sampai disana sekitar 19.20-an, aku langsung masuk kehalaman kostnya dan parkir motor didepan kamarnya. Aku ketuk pintu perlahan. "Ratih, ini aku!" "Sebentar!" terdengar suaranya dari dalam kamar. Aku tunggu sebentar dan pintu terbuka. Yang pertama kulihat wajahnya yang manis tersenyum dan menarik tanganku masuk. Aku ikut saja. Pintu ditutup dibelakangku dan belum sempat berkata apa-apa dia mendorongku kepintu dan meraih pundakku dan melumat habis bibirku. Agak beberapa lama aku merasakan betapa ganas bibirnya melumat bibirku. Aku memegangi pinggulnya dan merasakan hangat tubuhnya mengalir lewat tanganku. Didadaku terasa ada dua tonjolan kecil yang keras dari putingnya yang menembus bajunya, dia nggak pake BH. Aku pun nggak merasakan pinggiran celana dalamnya ditanganku. Jadi tubuhnya hanya terpisah oleh kain tipis denganku. Aku menggerakkan kedua tanganku turun dan menakupkan telapak tanganku dipantatnya dan meremasnya. Terasa gerakan mengejang perlahan. Sementara itu kontolku udah langsung in dengan tegak dan keras didalam celana dalamku. "Sebentar, sabar ah!" aku menarik bibirku dari lumatannya dan memandanginya lembut. "Jahat kamu mas!" "Ini aku udah disini" "Ayo kekamar!" Aku mendorong tubuhnya dan tertahan tangannya yang sedang mengunci pintu. "Motorku" "Biarin aja!, nggak ada yang perduli kok!" Aku mendorong tubuhnya dan merangkulnya sambil berjalan perlahan masuk kekamarnya. Kamarnya cukup bersih, ranjangnya berseprei warna biru bermotif kotak-kotak kecil warna putih. Disandaran ranjangnya tersampir beberapa dalemannya. "Langsung?" aku bertanya perlahan. "Iya, mas Ari lepas dulu deh bajunya!" Tak ada pilihan lain, aku lepas celana, terus kaos dan jaket, sehingga hanya bercelana dalam saja. Tampak batangnya udah mengeras miring. Ratih tertawa kecil melihatku. "Udah keras ya mas?" "Iya, udah dari kemarin lho! Kamu sih" Ratih mendekatiku dan merangkul bahuku perlahan sehingga perlahan-lahan tubuhnya merapat kedada telanjangku. Terasa ketika pinggulnya merapat ketubuhku ada sesuatu yang memisahkannya yaitu batang kontolku. Aku meletakkan kedua tanganku dipunggungnya melewati dibawah ketiaknya. Aku mencium bibirnya perlahan dan mulai melumatnya. Bibir bawahnya agak tebal sehingga enak banget dikulum, dimain-mainin. Sementara itu tanganku mulai menggeranyanginya, aku temuin resluitingnya dan aku tarik kebawah sehingga tanganku merasakan hangat punggungnya. Aku tarik terus resluitingnya sehingga mentok kebawah pas diarea dekat ujung pantatnya. Aku telusupin tanganku masuk kebawah pakaiannya dan langsung meremas pantatnya itu dan menariknya keatas dan kebawah sambil meremas-remasnya. Perlahan-lahan aku merasakan kain pakaiannya meluncur turun kelantai ketika tangannya dibahuku ia turunkan sehingga perlahan-lahan batas diantara kami mulai terbuka. Tangannya langsung mencari kontolku dan tanpa tunggu waktu menarik celana dalamku kebawah sehingga tiba-tiba kurasakan udara dingin AC serta hangat perutnya dibatang kontolku. Dia menarik tubuhnya dari dekapan dan meletakkan telapak tangannya dibatang kontolku dan menggerakkannya seperti meremas yang berakibat kepala batangku terasa mentok besarnya. Tiba-tiba dia menarik tubuhnya kebawah dan berlutut didepanku sehingga batang kontolku pas berada didepan wajahnya. Aku memandangi wajahnya dan berkata. "Kamu mau?" nggak aku terusin karena konteks kita sama sehingga nggak perlu selesain kalimatku untuk menunjukkan apa yang kumau. "Kok wangi? Habis dilulur ya?" "Nggak kok, cuman tadi barusan dari salon, untuk dimasker!" "Punya kamu mantap banget deh mas, baru kali ini aku lihat sedekat ini" "Oh ya?" sambil berkata begitu aku menggerakkan tubuhku sehingga mendekatkan kepala kontolku dalam genggamannya itu kebibirnya. Dia tidak menghindar, sehingga aku berpikir dia mau melakukan fellatio kepadaku. Ratih masih menggenggam batang kontolku dengan kuat, tapi dia tidak juga mendekatkan bibirnya kepadanya. Dia malah mengangkat batangnya keatas sehingga kepala kontolku mengarah kerambutnya. Aku memegangi kepalanya perlahan dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Ayo Rat, tunggu apa lagi?" kataku sambil mendesakkan pinggulku lebih dekat lagi kewajahnya. Ratih menggerakkan batang kontolku kebawah lagi sehingga kepala kontolku lagi-lagi menghadap pas dibibirnya. Dia kemudian mengeluskan kepala batangku kepipinya sehingga aku bisa merasakan kehalusan kulit pipinya disekujur kepala kontolku. Akibatnya kepala kontolku menjadi semakin mengeras seiring dengan gesekan halus disekujur kulit penisku yang kasar berkerut-kerut. Aku melihat matanya terpejam, adegannya mirip-mirip iklan sabunnya Lidya Kandow yang mengeluskan sabun kepipinya, tapi sabunnya digantikan oleh kontolku. Bukan itu saja, Ratih menggesekkan pipinya maju mundur sehingga kepala penisku sampai ke daun telinganya dan sebagian rambut yang menutupinya. Sementara itu bibirnya jadi mendekat kearea jembutku. Dia mendongak masih dengan kontolku dipipinya. "Aku suka yang rambutnya jarang-jarang kayak gini lho mas, kesannya bersih tapi masih macho! Mirip-mirip dagunya Brad Pitt!" "Jadi doi mirip Brad Pitt dong?" Ratih melihat kontolku dan berkata "Iya ya, tapi Brad Pitt pasti lebih alus kulitnya!" sambil dia menggerakkan tangannya keatas sehingga mengelus batang kontolku yang penuh urat. Rasanya greng banget merasakan elusannya itu. "Tapi sama-sama berototnya khan?" kataku sambil agak sedikit tergial. Sementara itu Ratih terus menggerakkan tangannya mengocok batang kontolku. Setiap gerakannya ikut menarik kulit kontolku, mungkin itu dikarenakan dulu aku sering sekali onani tanpa pakai pelumas, hanya menggocok secara 'garingan', sehingga lama-kelamaan seakan-akan seperti memisahkan antara kulit penis dan batang didalamnya (meskipun secara fisik kontol yang kayak gini nggak menyenangkan untuk dilihat karena terkesan kendor, tapi secara seksual rasanya enak sekali, karena kulit-kulitnya yang menggelambir menjadi penggesek yang nikmat bagi dinding-dinding lubang vagina. Jadi teman-teman cowok yang punya adik laki-laki yang udah mulai gede, ajarin deh onani secara 'garingan' ini, dijamin bahagia hidup pasangannya kelak...he...he...becanda nih!").. "Mas?" "Iya .... He emm?" "Kamu sering ngocok ya?" "Dulu iya, sekarang kalo perlu aja!" "Oh begitu ya? Kalo kamu lagi begituan suka bayangin siapa sih?" "Kamu!" "Yang bener?" "Ya kadang-kadang kamu, Desy, Bu Ika, sama yang lain-lain. Tapi kamu yang paling sering, nggak percaya?" "Nggak! Apa coba yang dibayangin dari aku?" "Aku suka bayangin kamu tidur telanjang bulat nggak pake baju sama sekali, terus kamu menggeliat sehingga ..... begitu seterusnya deh! Malu nyeritainnya!" "Ada yang bener nggak?" "Ternyata banyak" "Misalnya?" "Ternyata kamu emang bener-bener hebat, bukan hanya dikhayalan aja" "Oh iya?" "Sumpah!" Ratih terus mengelus-elus batang kontolku sehingga mulai kurasakan selangkanganku mengedut setiap kali tangannya bergerak mentok kepangkal penisku yang menarik seluruh kulit batang penisku dan mengeraskan kepala kontolku sepenuhnya serta membersitkan cairan bening diujung lubangnya. Aku mengira dia akan segera memasukkannya kedalam bibirnya ketika dia mengarahkan kepala kontolku pas didepan bibirnya sehingga aku pun mendesakkan pinggulku maju secara agak memaksa karena nafsu yang udah memuncak. Tapi ternyata aku salah, ketika aku mendesak maju dia malah mengangkat kepala batangku sambil sedikit menjerit sehingga wajahnya menabrak bagian bawah batang kontolku dan bibirnya menabrak pas dipangkal batangnya. "Ayo Rat, lakukan deh!" "Apa mas?" "Ayo masukin kemulut kamu deh, aku udah nggak kuat lagi nih!" "Nggak mau!" "Ayo dong Rat, cobain deh!" "Nggak mau, jijik!" "Nggak apa apa kok, bener!" "Sekali nggak tetap nggak, Ratih pake cara Ratih sendiri aja ya?" "Sekali aja deh Rat, please!" "Kita nggak jadi begituan deh" Ada wajah ngambek diwajahnya. Aku panik, kalo dia emang bener-bener berubah pikiran, khan sayang banget. Vagina sedahsyat itu masa harus dilepaskan. Akhirnya dengan menghilangkan keinginan untuk dioral, aku berkata. "OK, deh!" "Nah gitu dong! Mas Ari nikmati aja ya, biarkan Ratih beraksi!" Sambil berkata begitu dia menarik kontolku sehingga otomatis seluruh tubuhku ikut tertuntun dan berdiri membelakangi ranjang, terus dia mengangkat kontolku keatas sehingga seluruh tubuhku ikut tertekuk kebelakang terus hingga akhirnya aku berbaring terlentang di pinggir ranjang, separuh tubuhku diatas ranjang separuhnya lagi menjuntai dilantai. Batang kontolku mengacung tegak keatas masih dalam genggamannya. Aku nggak punya ide apa yang akan dilakukan Ratih terhadapnya. Aku hanya bisa memandanginya dan merasakan tonjolan putingnya keras dan hangat dipaha bagian dalamku. "Ayo Rat, kamu mau ngapain tadi? Udah nggak sabar nih!" "Pertama kali Ratih mau bikin api, Mas Ari rasain aja ya!" sambil berkata begitu dia menakupkan kedua telapak tangannya dan menjepit seluruh kepala dan sebagian batang kontolku diantaranya. Perlahan- lahan dia menggerakkan kedua tangannya seperti layaknya gerakan membuat api dari kayu (tahu khan gerakannya, jangan ditiru lho!). Aku tiba-tiba merasakan rasa yang aneh, bukan nikmat tapi aneh. Kepala penisku rasanya seperti sedang dikucek. Beberapa lama Ratih melakukannya semakin lama semakin cepat. Lama kelamaan bagiku rasanya udah mengganggu. "Kok rasanya nggak enak, Rat?" "Ya, ini khan baru permulaan, pokoknya Mas Ari rasain aja, enak atau nggak enak?" "Mending kamu gigit aja deh, Rat!. Sekalian!" "Tuh khan, maksa deh, dibilangin nggak mau! Nanti juga masuk, tenang aja deh kamu mas!" "Iya deh, terus sekarang mau diapain lagi?" "Sekarang bikin api lagi tapi caranya beda!" "Terserah kamu deh Rat!" Ratih mengusap kepala penisku sambil bergerak mengocok perlahan, sehingga akibatnya keluar cairan bening yang banyak sekali dari lubangnya membasahi (tepatnya: melumasi) telapak tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya digenggamkannya mantap kesekujur batang kontolku tepat diarea sebelum kepalanya. Sementara itu tangan kanannya terbuka kearah bawah dan mulai bergerak memutar sehingga mengosok kepala kontolku dengan pelumas dari cairan tadi. Pertama-tama rasanya geli, terus lama-kelamaan emang mulai terasa panas yang enak, mungkin akibat gesekan itu. Aku mulai merasakan pantatku mengetat, pahaku mengejang dan menjepit tubuh hangat diantaranya. Aku pun mulai mendesah merasakan aktivitasnya itu. Ternyata permainan kedua Ratih ini terasa luar biasa. Aku seperti terasa akan kencing tapi bukan oleh air kencing, seperti sesuatu sedang berputar-putar diselangkanganku. Sebagian adalah rasa nikmat, sebagiannya lagi rasa panas, sisanya aku tidak tahu. Aku mulai sedikit bangkit dan menjamah rambutnya, wajahnya sedang serius menggerakkan tangannya dengan konstan. "Kamu....... kok...... tahu ....sih?" "Dari website!" (buat teman-teman cowok yang ingin nyobain, ini aku nemuin alamat www.jackinworld.com. Pertama sih mau nyari metode masturbasi untuk cewek, eh nggak tahunya pengin juga nengok yang buat cowok, ternyata berguna banget!) "Aduh, Rat!" tanpa bisa kukontrol aku menjatuhkan tubuhku kembali ke ranjang. Sementara itu Ratih terus mengesek ujung kepala penisku dengan telapak tangannya dengan konstan. Waktu berlalu dan hampir dua menit itu terjadi, aku mulai merasakan sesuatu mendesak-desak naik. Pasti Ratih merasakannya ditangan kirinya yang menggenggam batang kontolku, terbukti dengan gerakannya turun dan cengkeramnya sekarang berada dipangkal batangku. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak cepat dan semakin cepat berputar-putar menimbulkan energi panas dan energi seksual yang luar biasa dimulai dari kepala kontolku dan mengalir disaluran batang kontolku dan menyebar keseluruh area selangkanganku, menimbulkan rasa kejang dipaha dan perutku, menggelitik pantat dan akhirnya...... "Rat,........... aku keluar!" "Udah tahu, idih mas Ari ah!" Ratih mungkin merasakan otot mengedut dan paha mengejang yang biasanya mendahului ejakulasi seorang pria, sehingga dia dengan pas menjepitkan dengan kuat tangan kirinya dipangkal batang kontolku sehingga ketika pas orgasme dan ejakulasi, kontolku hanya berkedut-kedut saja, tidak menyemprotkan cairan karena tertahan oleh jepitan kuat Ratih di pangkal batangnya. Jepitan itu juga menyebabkan kepala kontolku membesar maksimal sampai berwarna merah keras. Sementara Ratih terus memutar-mutarkan telapak tangan kanannya mengalirkan kenikmatan tiada tara tanpa ejakulasi kepadaku. Aku sendiri hanya bisa melenguh kuat ketika mengalami itu semua, pahaku kujepitkan ketubuh hangatnya, ada rasa hangat ketiaknya yang dibagian atas pahaku. "Ratih, ..... OOOHHHH.....!" aku melenguh sejadi-jadinya ketika puncak yang datang itu seperti berputar balik ketika menemui hambatan dari dipangkal batang kontolku dan mengoyak-ngoyak bagian dalam tubuhku terutama di area selangkanganku. Ketika Ratih melepaskan putarannya tangan kanan dikepala kontolku, aku menyaksikan batang kesayanganku itu memerah dan membesar maksimal. Tampak warna licin disekujur ujungnya, lubangnya tampak terbuka sedikit. Yang terlihat sekali adalah denyutannya yang terlihat dengan bergeraknya perlahan-lahan secara berkala. Sementara tangan kirinya masih mantap menggenggam dan menjepit lubang dipangkal batangnya. Aku merasakan campuran antara rasa nikmat yang aneh karena tidak dibarengi dengan ejakulasi dan rasa panas akibat gesekan telapak tangannya tadi. Ternyata kontolku tidak sekuat yang aku kira. Dibawah jepitan tangan kirinya yang terus kuat aku mulai menyaksikannya melemas, ukurannya mulai mengecil dan beberapa saat kemudian tampak lunglai digenggaman tangan kirinya. Aku bangkit sehingga terduduk, sementara kedua pahaku masih menjepit tubuhnya yang mulai terasa berkeringat, meskipun ruangan itu dingin oleh AC. Aku pegang kepalanya perlahan dengan lembut dan mengelus-elus rambutnya. Tangan kirinya ia lepaskan dari kontolku. Ketika dilepaskan, sedikit kedutan lembut mengiringi keluarnya sedikit cairan putih dari ujung lubangnya. Aku sedikit tergial karenanya. Aku menarik tangannya sehingga dia berdiri didepanku diantara kedua pahaku. Aku melihat payudaranya yang kecil dihiasi putingnya yang besar tampak mengacung dengan kuat. Meskipun warna kulitnya nggak putih-putih amat, tapi terawat sekali sehingga halus terasa. Didepanku pas tersaji perutnya yang sedikit berlemak tapi sintal sekali. Pusarnya tampak sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan membentuk aliran kebawah dan semakin tampak ketika bersambung dengan bulu-bulu yang lebih tebal dibawahnya. Ya, jembutnya meskipun tak terlalu lebat tapi terlihat sekali kontras dengan kulit diarea selangkangannya itu. Aku meletakkan kedua tanganku memegang pantatnya yang memang padat sekali dilihat dari dekat. Ratih meletakkan kedua tangannya dipundakku, wajahnya udah mulai terlihat jauh lebih nge-seks dibandingkan beberapa saat tadi. Sepertinya keceriaannya yang selalu bisa menutupi kondisinya yang nyata, tak bisa lagi ditutupinya saat itu. Matanya menatapku dengan penuh harap. Aku yang masih dalam kondisi setengah matang karena orgasme garingan tadi, mulai mencoba melakukan sesuatu. "Kamu duduk disini gih!" Aku menuntunnya menduduki pahaku. Ratih dengan perlahan membuka pahanya dan meletakan tubuhnya menduduki pahaku. Aku merasakan sesuatu yang panas tapi basah diselangkangannya menempel dipahaku yang penuh bulu. Ratih bergerak-gerak demi merasakan bulu-bulu pahaku menyentuh daging vaginanya. Aku tersenyum memandanginya dan mendekati wajahnya sambil berkata perlahan menggoda. "Udah panas?" "He eh!" "Aku pulang dulu deh kalo gitu!" "He ..... jahat!" kali ini nadanya penuh dengan kemanjaan nyaris seperti rengekan. Aku tertawa kecil dan mencubit perutnya. Dia bergerak-gerak atau mungkin tepatnya menggerak-gerakkan pinggulnya menggesek-gesekkan vaginanya ke pahaku. Lagi-lagi aku tertawa. "Udah nggak kuat lagi?" "Ayo dong mas!" Aku menarik tubuhnya hingga berdiri dan merebahkannya di tempat tidur. Separuh tubuhnya aku biarkan dipinggiran ranjang. Begitu berbaring, tak perlu lagi bantal dibawah pantatnya untuk membuat selangkangannya menggunduk setinggi itu. Pantatnya sendiri udah mengganjal gundukan vaginanya menjadi setinggi itu. Sekarang gantian aku yang berlutut diantara pahanya. Aku buka keduanya lebar-lebar, yang kiri aku bentang kearah kiri sementara satunya aku angkat tinggi-tinggi kearah kanan. Ketika terbuka, tercium segera bau khas itu semerbak memenuhi ruangan. Aku melihat pemandangan didepanku dan terpesona. Gerumbulan rambut jembutnya berakhir diarea sebelum vaginanya dan tumbuh memutarinya dikiri dan kanan vaginanya. Beberapa helai berkelompok terkena cairan bening. Ditengahnya tampak sekumpulan daging yang hangat itu. Warnanya coklat tua sewarna dengan kulit ujung sikunya tapi lebih gelap lagi. Diantaranya terlihat warna-warna licin kemerahan sewarna dengan bagian dalam mulutnya. Kontolku yang tadi melemas mulai terasa tegang lagi. Aku agak takjub karena itu terjadi hanya kurang dari semenit setelah orgasme tadi. Aku membuka perlahan-lahan bagian itu dan menemukan helai-helai bibir- bibir vaginanya. Aku menjembengnya perlahan dan menemukan warna daging basah kemerahan didalamnya. Diujung helaian itu tampak sebentuk bulat klitorisnya yang tampak merah tua. Aku dekatkan wajahku dan mencoba menjilat bentuk itu. Perlahan sekali dengan gerakan dari bawah keatas aku merasakan halus permukaan klitorisnya yang sudah dilumuri cairan bening itu dipermukaan lidahku. Rasanya seperti ......... coba deh teman-teman cowok cari buah klengkeng bergaris tengah kecil saja, terus kupas kulitnya dan coba jilat buahnya itu perlahan, kira-kira kayak gitu deh cuman yang ini lebih empuk dan agak berbau. Seirama dengan gerakan lidahku itu aku merasakan otot bagian dalam pahanya mengejang, begitu juga dengan selangkangannya sehingga sekilas terbentuk tulang-tulang selangkanya menonjol dari tubuhnya yang sintal. Aku coba membuat lagi gerakan dari bawah ke atas seperti tadi, juga dengan perlahan-lahan tapi kali ini dengan lebih menekannya lagi. Lagi-lagi aku merasakan kejangan seperti tadi. Aku angkat wajahku dan mencoba menengok wajahnya. Ratih sedang memandangi langit-langit kamarnya. Mulutnya terbuka sebagian, kedua tangannya terangkat keatas sehingga menampakkan kulit ketiaknya yang bersih dari bulu. Putingnya tampak tegak lurus keatas seperti stupa candi Borobudur. Aku tersenyum dan menggodanya. "Ngliatin apa mbak?" Dia melirikku dengan sudut matanya dan tersenyum masam, sambil berbisik "Hngggg .... ah mas Ari. Hayo terusin dong ...... mas!" Dengan masih memandangi wajahnya, aku menjembeng vaginanya dengan tangan kananku dan dengan jari telunjuk dan tengahku aku mencoba menggosok klitorisnya lagi perlahan sekali. Wajahnya langsung berubah seketika, matanya terpejam, dari mulutnya keluar suara mendesah halus. Kaki kanannya yang tadi terangkat keatas tiba-tiba menghantam bahuku ketika gosokan jemariku terpeleset oleh licinnya pelumas dipermukaan klitorisnya. Aku sendiri merasakan paha kirinya disebelah tubuhku bergetar karenanya. Lagi-lagi aku tertawa kecil, dan mencoba menggodanya lagi. "Rat!" Ratih membuka matanya kembali dan memandangiku. "Berapa 24 dikali 54?" Hitungan yang sulit tentu saja bagi seseorang yang lagi terangsang berat macam begitu. Teman-teman bisa coba deh, tanyain tuh cewek atau cowok kamu pas lagi gituan sama kamu dengan pertanyaan semacam itu, dijamin pasti nggak bisa jawab. Kali ini bukan suara merajuk lagi yang keluar dari bibirnya tapi udah merengek minta dimasuki. Tak perlu pemanasan lagi bagi kontolku demi mendengar suara merdu nan merangsang itu. Doi langsung tegak lurus mendongak keatas. Aku segera mengatur posisi diatas tubuhnya diantara pahanya. Aku buka pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul 'welcome'. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas 'pintu'nya yang berupa celah yang diapit oleh dua bibir-bibir yang bergelambiran. Pantesan yang pertama dulu sulit dimasuki, barangkali saat itu aku mendorong kontolku sehingga melipat bibir labianya menutupi lubang masuknya. Kali ini aku pastikan aku tidak akan mengalami kesulitan serupa. Dengan dua tangan aku buka lipatan bibirnya itu dan dapat kulihat celahnya itu tampak penuh cairan licin. Aku dorongkan saja pinggulku sehingga kontolku pas menumpang diatasnya. Dengan satu tangan aku menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan kepalanya pas berada didepan celah lubangnya itu. Dengan satu sentakan perlahan aku dorongkan kepala kontolku memasukinya. Sekian centi memang lancar saja kepalanya masuk, tapi pas sekitar 4 atau 5 cm kedalamannya tiba-tiba lubangnya menyempit sehingga seperti mengerem masuknya kontolku. Kali ini aku yang tergial demi merasakan sedikit demi sedikit kontolku mulai terjepit oleh himpitan lubangnya itu. Hebatnya meskipun sempit, kontolku maju terus meskipun perlahan, mungkin karena licinnya cairan yang keluar tersebut. Yang berubah hanya akibat yang ditimbulkannya bagi tubuhku. Sampai setengah panjangnya aku menyodokkannya dengan perlahan-lahan. Begitu melewati 'cincin' sempit tadi, aku mendesakkannya dengan kuat sehingga batangku masuk seluruhnya diiringi rasa nikmat yang teramat sangat. Aku sempat merebahkan dadaku diatas perutnya demi merasakan nikmat itu. Begitu juga dengan Ratih, kakinya menegang kuat, tangannya menggapai kepalaku dan menjambak rambutku kuat-kuat. "Maaasss....!!!! hhhggg!" Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda perlahan-lahan. Aku merasakan bahwa beberapa tusukan lagi akan bisa membuatku ejakulasi dan aku nggak ingin meninggalkan Ratih kembali dengan ketidaktuntasan. Ketika mulai reda aku mencoba menariknya perlahan. Tidak ada bedanya antara cepat atau lambat, masing-masing mempunyai sensasi berbeda tapi dengan rasa yang sama-sama nikmat. Ketika tinggal kepalanya saja yang terjepit aku kembali diam merasakan sesuatu mengalir mendesak selangkanganku. Kayaknya aku nggak akan sanggup membuatnya orgasme dengan kontolku saja. "Rat!" Ratih menengok dan memandangi penuh harap. "Kayaknya aku akan keluar deh, kalau aku masukin lagi!" Terpaksa aku berterus terang daripada nanti malu. Ratih memandangiku mencoba mencerna perkataanku. Beberapa saat kemudian dia berkata.
"Mas Ari....... langsung cepet ....aja.. ya ...!" Kayaknya dia udah nggak tahan lagi dan nggak punya pilihan lain. Terpaksa, keluar cepet atau tidak, aku tarik tubuhnya kepinggir ranjang sehingga area vaginanya pas dipinggir ranjang. Kakinya masih terangkat sendiri keatas sehingga semakin mendongakkan selangkangannya. Aku dorongin lagi kontolku kuat-kuat menghunjam ke kedalaman vaginanya dan berhenti. Aku letakkan tanganku diantara kedua ketiaknya terus aku luruskan kakiku sehingga tubuhku lurus membentuk sudut dengan kontolku pas menghunjam vaginanya pada sudut yang sesuai. Kakinya terus kurasakan dijepitkannya kepinggulku. Aku menghitung satu...dua...tiga... dan mulai menarik kontolku dan menghunjamkannya kembali dengan sekuat tenaga dan tanpa menghentikannya di setiap gerakan. Tidak terlalu cepat karena hambatan dari daya cengkeram vaginanya tapi cukup kuat dan konstan. Aku menghitung gerakanku seperti saat melakukan aerobic. Satu ... dua ... tiga ... empat .... lima ... enam ... tujuh ... delapan .... satu ... dst. Setiap kali dengan gerakan menghentak yang semakin kuat. Ternyata nasehatnya boleh juga. Meski masih merasakan nikmat itu, aku tidak lagi merasakannya sekuat tadi. Aku terus bersemangat menggenjot. Entah udah berapa kali hitungan satu sampai delapan aku lakukan. Aku hanya merasakan tubuhku mulai memanas dan keluar keringat, demikian juga Ratih yang kurasakan basah dibagian dalam pahanya. Untungnya ranjangnya ternyata bagus juga konstruksinya sehingga tak terlalu bersuara kecuali sedikit suara duk- duk-duk setiap kali pinggulku menghunjam dalam-dalam menghantam bagian selangkangannya. Cuman suara Ratih jadi berisik sekali, demikian juga suara vaginanya yang mulai berkecipakan 'riang' memenuhi kamarnya itu. "Nggak.....ada.... yang..... dengar .... ya? ..... hhhhh ..... kamu.... berisik.... banget!" sambil bergerak aku mencoba berkata- kata, jadinya agak sedikit tergagap-gagap. Sambil memandangiku, wajahnya yang bergerak-gerak seirama dengan gerakanku, menggeleng- geleng. Kembali beberapa saat kemudian suaranya berisik. "Ssssss....hhhh....ooohhhh.....!" Hangat nafasnya memenuhi wajahku yang udah mulai memerah. Sedikit demi sedikit diantara gerakanku aku merasakan kontolku mulai terasa panas. Mungkin produksi pelumasnya udah mulai berkurang. Tapi karena itu juga rasa nikmatnya jadi melonjak tinggi-tinggi, sehingga bagiku terasa jelas dibagian mana aku berada. Hanya sekian saja dari puncak membuatku terus dengan sisa-sisa tenaga menggenjotnya kuat. Tanpa kusadari waktunya, tiba-tiba Ratih mencengkeramkan tangannya dibagian samping dadaku sehingga kurasakan kukunya menggores kulitku kuat, aku rasakan perih tiba-tiba. Yang dahsyat, lubang vaginanya tiba-tiba kurasakan menjepit penisku kuat-kuat, bukan sekali tapi seperti gerakan tangan suster yang sedang memompa alat pengetes tekanan darah (tahu khan?), beberapa kali dengan sangat kuat, dengan timing yang tepat pula, yaitu setiap gerakan mengempis pas dengan gerakanku menarik. Jadinya seperti memijat-mijat dengan kuat. "Mas......hhhhh...OOOOOHHHHH!!!" Suaranya yang keluar tak kalah dahsyatnya. Mungkin karena sifat kelembaman, gerakan tubuhku tidak terhenti oleh kejadian itu. Jadi terus aku terus menggenjot ditengah- tengah orgasmenya itu. Apalagi kurasakan puncak udah dekat sekali. Kurasakan tubuhnya yang menegang sekian lama diantara genjotanku yang semakin kuat saja menyambut puncak yang semakin dekat. Tiga ...... Empat .... lima.... 6.7.8.9.10......... Aku tiba-tiba merasakan aliran spermaku tanpa bisa kutahan menyemprot kuat kedalam liang vaginanya mengiringi rasa nikmat luar biasa yang kudapat. Tiba- tiba pula denyutan vaginanya yang baru saja sekian detik yang lalu kurasakan, kini kurasakan lagi seiring dengan mengalirnya semprotan spermaku didalam tubuhnya. Tampaknya Ratih mengalami lagi orgasme, semacam orgasme bayangan yang biasanya menyertai sekian detik setelah yang pertama terutama jika terjadi jeda sekian detik saja dengan orgasme sang pria dan orgasme yang pertama belum lagi reda, biasanya karena rasa hangat akibat sperma menyentuh dinding-dinding rahim atau karena gerakan menyentak yang biasa dilakukan dengan sangat kuat oleh pihak pria yang sedang ejakulasi (peristiwa ini bukan karangan, ini pernah kualami, rasanya luar biasa karena lebih lama dan terasa diseluruh tubuh dibandingkan yang pertama). Aku terus menggenjot dengan kuat menghabiskan 'cadangan amunisi' yang aku punya sampai aku merasakan kontolku udah seperti kehilangan tegangan. Aku langsung ambruk menimpa tubuhnya, kontolku masih menancap penuh, kakiku langsung berlutut. Tubuhku udah basah kuyup oleh keringat. Mungkin orgasme dengan berkeringat seperti itu memang jauh lebih nikmat karena setelahnya ada perasaan gerah tapi lega. Yang tiba-tiba baru kusadari, aku merasakan tubuh Ratih tegang. Kakinya bahkan masih tegang menekuk meskipun udah merebah tertimpa tubuhku. Mungkin saja dia mengalami ekstase. Dengan sisa-sisa tenaga aku bangkit sehingga penisku tercabut. Mudah saja karena udah lemas. Aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Ratih terlentang, tangannya terangkat keatas dua-duanya. Wajahnya terangkat keatas, matanya terbuka sedikit dan memandang dengan kosong kelangit-langit, bibirnya terbuka sedikit, dadanya naik turun dengan agak cepat tapi teratur. Kakinya bahkan tak menutup, terbuka lebar kekiri dan keatas sehingga selangkangannya yang udah nggak karuan bentuknya, penuh cairan dan rambut-rambutnya bergumpal-gumpal lengket, terlihat jelas, tampak merah tua dan masih merangsang. Bekas genjotan kontolku tadi terlihat dari masih terbukanya celah lubang vaginanya, nggak lebar tapi menampakkan kedalamannya. Aku menggariskan kuku telunjukku mulai dari lutut menelusuri bagian dalam pahanya yang basah sampai kearea dekat vaginanya. Benar juga, aku merasakan tubuhnya bergetar cepat diiringi suara lenguhan perlahan. Kakinya perlahan sekali bergerak menutup, tapi hanya sedikit gerakan terus berhenti lagi, sehingga selangkangannya masih terbuka lebar. Aku menggariskan lagi kukuku memutari area vaginanya. Kembali tubuhnya bergetar cepat. Aku pernah membaca bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi ekstase seperti itu, rangsangan biasa akan terasa luar biasa dan bisa memperlama ekstasenya, bahkan usapan halus rambut diputing bisa membuatnya bergetar hebat oleh rasa nikmat. Ekstase sendiri itu adalah kondisi orgasme yang grafiknya bukan seperti gunung (naik tinggi terus langsung turun), tapi seperti bentuk lunas perahu dibalik (naik terus berhenti dipuncak ketinggiannya sampai beberapa lama baru turun). Aku ingin betul-betul memberinya kepuasan terhebat dalam hidupnya, jadi selama Ratih masih 'belum sadar' dari ekstase-nya itu aku ingin memberinya sensasi-sensasi. Dengan mengabaikan awut-awutannya area selangkangannya, aku membuka kembali bibir-bibir labianya dan menemukan klitorisnya berwarna merah gelap, jauh lebih gelap dari tadi. Aku menjilatnya perlahan-lahan dan kembali merasakan getaran hebat seperti menggigil dipahanya, membuatku terus memutar-mutar lidahku dan kadang-kadang mencucukkannya secara kontinyu dan konstan ke klitorisnya. Getaran-getaran menggigilnya terasa kuat diselingi gerakan menggelinjang tak terkontrol. Aku ingin menyodokkannya kontolku kembali kedalam liang vaginanya, tapi apa daya doi udah tergolek lemas, meskipun aktivitasku mulai membangkitkan lagi gairahku. Akhir kata, malam itu aku sanggup mempertahankan ekstasenya sampai hampir satu jam. Keesokan harinya aku tidur semalam suntuk, nggak kuliah. Ketika lusa harinya aku mencoba menelponnya, aku dapat kabar bahwa Ratih masuk rumah sakit, katanya doi mengalami shock. Aku jadi was-was jangan-jangan terjadi sesuatu dan itu karena perbuatan kami kemarin, walaupun pas aku pulang kemarin Ratih masih sanggup mengantarku sampai pintu gerbang kostnya. Ternyata Ratih hanya mengalami penurunan tensi saja, dan kata dokter itu akibat aktivitas yang melelahkan. Sambil menceritakan itu Ratih sesekali tersenyum sambil melirikku. Kejadian itu adalah yang terakhir antara aku dan Ratih karena beberapa minggu kemudian pacar Ratih telah kembali kekota kami. Sesekali kami saling kontak lewat email atau telpon, tapi tak satupun pernah mengungkit-ngungkit peristiwa hebat itu. ----- Demikianlah teman-teman karanganku, mohon maaf jika ada deskripsi atau uraian yang salah. Cuman emang sensasional sekali membayangkan apa yang dirasakan oleh pasangan kita ketika sedang bersenggama dengan kita. Untuk diketahui, setelah menulis cerita ini habis-habisan aku menghabiskan tenagaku untuk ...... ah enggak enak kalo diceritain. Ini ada advis untuk kamu-kamu yang cowok untuk membuat pasangan kamu bahagia. Kalo kamu lagi senggama dan pas timingnya seperti tadi, yaitu kamu orgasme duluan atau malah belum sama sekali, sedangkan cewek kamu udah sampai (kamu pasti bisa ngerasainnya khan?). Sebelum dia selesai dari orgasmenya segera cabut penis kamu (artinya saat itu dia sedang meneruskan rasa nikmatnya tanpa penis kamu) terus coba rangsang secara manual (jangan dengan penis), misalnya kayak tadi goreskan kuku kamu dibagian dalam pahanya dari arah lutut ke arah vaginanya, atau langsung gosok klitorisnya perlahan-lahan, jangan lakukan itu dengan cepat karena akan mempercepat selesainya orgasmenya. Nah ceritanya mungkin saja cewek kamu itu tipenya yang kalo orgasme dan ditengah- tengahnya rangsangannya dihentikan, dia tidak dapat menyelesaikan sendiri orgasmenya, tapi rasa nikmatnya berhenti dititik dimana dia mendapatkannya tadi. Saat itu rasanya seperti nggantung tapi oleh rasa nikmat yang tinggi. Rangsangan dari kamu yang pelan-pelan akan mempertahankan rasa nikmatnya tadi pada titik yang konstan tapi tinggi. Seberapa lama dia mampu bertahan di'ketinggian' itu, tergantung seperti apa cewek kamu itu. Jadi bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang. Advis ini datang dari pengalaman pribadiku jadi kemungkinan berhasilnya amat besar. Kadang-kadang masalahnya justru apakah kamu sanggup berhenti ketika cewek kamu sedang orgasme yang biasanya saat itu kamu sendiri juga sedang 'megap-megap'. OK deh, Selamat berjumpa dilain cerita.

Aku dan regina

Ini adalah cerita tentang pengalamanku saat berhubungan seks dengan sahabat baikku, Regina H. Dharmawan. Pagi ini, aku kembali mendapat kuliah sore hari. Ah, daripada iseng, lebih baik aku ke rumah Regina. Sekalian dari sana pergi ke kampus bersama. Aku memarkir mobil di depan pintu pagar rumah Regina. Rumahnya tampak sepi. Jangan-jangan ia tak ada di rumah. Aku tekan bel pintu. Tak lama kemudian pembantunya keluar.

"Ada perlu apa, Non?" tanyanya.
"Ng... Gina ada, Mbak?"
"Ada, tunggu sebentar ya." Sang pembantu masuk ke dalam rumah kembali.
"Kata Non Gina, Non Irene disuruh langsung masuk saja. Non Gina lagi ada di kamarnya."
"Baiklah, Mbak."

Pembantu itu mengantarkan aku ke depan pintu kamar tidur Regina. Setelah pintu dibuka dari dalam aku segera masuk. Si pemilik kamar sedang duduk di atas tempat tidur seraya membaca buku. Astaga! Ia telanjang bulat. Tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh selembar benang pun. Tampaklah payudaranya yang montok dan padat. Ditengah-tengahnya terdapat puting susu yang tinggi, yang dikelilingi oleh lingkaran coklat, sementara bagian kemaluannya ditumbuhi rambut-rambut tipis. Pahanya yang putih dan mulus menantang setiap lelaki untuk menjamahnya.
"Ren, duduk di sini dong. Jangan bengong saja."
"Lho, kamu lagi ngapain, Gin?" tanyaku.
"Rasanya hari ini aku lagi malas kuliah nih, Ren."
"Kenapa?"
"Nggak tahu tuh. Pokoknya lagi malas."
"Tapi kamu nggak usah telanjang bulat kayak begitu dong," kataku sambil menyodorkan kaus singlet kepadanya. Regina bukannya menerima pemberianku, namun ia malah menyeret tanganku sehingga aku jatuh telentang di atas kasur. Tiba-tiba Regina mencium bibirku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang tidak begitu besar.
"Gin! Aduh, kok kamu begini sih?! Jangan ah!" kataku sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi Regina lebih kuat. Tubuhnya yang bugil menindih tubuhku. Akhirnya aku pasrah saja. Dengan perlahan-lahan Regina menanggalkan kaus oblong yang kukenakan. Ia menyelipkan tangannya ke balik mangkuk behaku lalu meremas payudaraku. Aku menggerinjal-gerinjal dibuatnya. Kemudian ia melepaskan beha yang kupakai sehingga terbukalah payudaraku yang kencang menantang.
"Ya ampun, Ren. Buah dada kamu bagus amat. Biar nggak besar, tapi kencang dan kenyal lho," kata Regina sambil mempermainkan puting susuku dengan jari-jemarinya yang lentik sehingga membuatku kegelian.

Aku hanya tersenyum saja. Lalu ia meremas-remas payudaraku. Terasa kenyal dan ketat baginya. Aku semakin menggerinjal-gerinjal. Setelah itu mulutnya menghisap, mengulum, dan menyedot payudaraku. Lidahnya pun mempermainkan puting susuku yang mulai menegang. Kemudian ia menghisap-hisapnya laksana seorang bayi yang kehausan air susu ibunya.

Setelah puas merambah payudaraku, Regina membuka celana panjangku. Tangannya meraba pahaku yang mulus. Lalu ia menurunkan celana dalamku, sehingga kami berdua bugil bagai dua orang bayi yang baru saja dilahirkan. Kemudian ia menyuruhku duduk. Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku dan aku menerimanya. Aku lumat payudara yang kenyal itu dengan mulutku, sedangkan lidahku yang menyambar-nyambar seperti lidah ular, bergoyang-goyang mempermainkan puting susunya yang tinggi menggiurkan. Aku hisap puting susu itu yang semakin lama semakin menegang saja. Regina semakin memelukku dengan erat.
"Ouuhh... Irene... ouuhh!"

Aku dan Regina saling berpelukan. Kedua pasang payudara kami saling bersentuhan. Sejenak ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku merasakan payudaranya yang kenyal. Demikian pula Regina yang merasakan payudaraku. Ia menggesek-gesekkan puting susunya ke puting susuku, sehingga kami berdua sama-sama mendesah.
"Ouuhh... ouuhh..." aku menjerit kecil tatkala lidah Regina mulai menjilati kemaluanku dan kemudian masuk menyusuri liang vaginaku. Ia menjilat-jilat bagian dalam "daerah terlarang"ku yang mulai basah itu. Aku menjerit lagi, ketika ujung lidahnya mempermainkan daging kecil yang menempel pada kewanitaanku itu. Lalu aku berdua berbuat serupa. Akhirnya kami berdua sama-sama kelelahan dan tergolek begitu saja di atas kasur.

Tak lama kemudian, Regina bangkit. Ia mengambil es jeruk yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia menuangkan es jeruk itu ke kemaluanku. Aku menjerit kecil kedinginan. Sementara ia juga menuangkan es jeruk yang tersisa ke dalam kemaluannya sendiri. Tubuh Regina menindihku. Kepalanya menghadap ke selangkanganku. Demikian pula kepalaku menghadap ke selangkangannya. Lidahnya mulai menjilati kemaluanku. Ia menikmati er jeruk yang sudah mulai masuk ke dalam liang vaginaku. Lidahnya mengikuti aliran air jeruk itu sampai masuk ke dalam "gua keramat"ku itu. Dijilatinya dinding vaginaku, membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian.
"Ouuhh... Gina... teruskan...!" desisku bernafsu. Regina melanjutkan penjelajahannya. Sementara itu di sisi lainnya, lidahku pun berbuat hal yang sama pada kemaluannya. Kami berdua dengan garang mempermainkan daging kecil yang berada di dalam liang kewanitaan lawan masing-masing. Kami berdua menggerinjal-gerinjal keras, sampai-sampai tubuh kami berdua jatuh ke lantai.

Beberapa detik kemudian, tubuh kami berdua tergeletak di lantai berdampingan dalam keadaan loyo. Lelah memang, namun penuh dengan kenikmatan yang tak terhingga. Regina tersenyum. Tiba-tiba tangannya kembali meraih tubuhku dan mendekapku. Kembali payudara kami bersentuhan, sementara mulut kami saling melumat satu sama lain. Kami berbaring berhadap-hadapan, dengan kedua kakiku dan kakinya saling berselisipan dan kedua selangkangan kami saling menempel. Kemudian Regina menggesekkan kemaluannya pada kemaluanku berulang-ulang hingga kami berdua puas.

AKU DAN TANTE-TANTE

Sebelumnya perkenalkan namaku Paramitha dan cukup panggil saja Mitha. Umurku 20 tahun. Aku masih kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta semester 5. Aku ingin menceritakan pengalamanku bercumbu untuk pertama kali dengan sesama wanita.

Kejadiannya dimulai pada suatu sore di akhir bulan Februari tahun 2000 lalu. Waktu itu kedua orang tuaku pergi keluar kota untuk beberapa hari. Kedua orang tuaku sudah meminta tolong kepada tante Layla untuk menemaniku. Sore itu tante Layla datang dengan temannya yang bernama tante Dewi yang berumur sekitar dua kali dari umurku.

Setelah berbasa-basi sebentar di ruang tamu, kupersilakan mereka untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Mereka berdua masuk ke kamar dan aku membereskan gelas minuman yang kusuguhkan kepada mereka.

Ketika aku melewati kamar mereka, kudengar suara tante Dewi, "Ayo kita mulai". Aku penasaran dengan perkataan tante Dewi sehingga aku sengaja mengintip melalui lubang kunci pintu kamar itu siapa tahu kelihatan. Memang benar kelihatan. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sedang saling berciuman dan saling melepas baju. Kulihat tante Dewi tidak mengenakan BH sedangkan tante Layla mengenakan BH. Mereka masih berciuman dan saling meremas payudara. Tante Dewi meremas kedua payudara tante Layla yang masih dilapisi BH sedangkan tante Layla dengan leluasa meremas kedua payudara tante Dewi yang sudah telanjang. Aku sudah terangsang dan tanganku tanpa sadar masuk ke kaos meremas kedua payudaraku sendiri.

Beberapa saat kemudian tante Layla menghentikan remasannya pada kedua payudara tante Dewi dan melepas BH-nya sehingga kedua payudara mereka yang lebih besar dari punyaku yang 36A sudah sama-sama telanjang. Mereka melanjutkan saling meremas serta saling mencium dan aku juga makin terangsang, ingin bergabung dalam permainannya.

Tiba-tiba kedua payudara mereka sedikit demi sedikit sudah saling menempel dan mereka berpelukan. Adegan selanjutnya aku tidak melihatnya karena posisi mereka bergeser dari lubang kunci pintu kamar yang aku intip.

Aku kemudian pergi ke kamarku dan melupakan hal tersebut. Aku pergi ke kamar mandi dan ketika aku tinggal melepas CD pintu kamar mandi diketuk oleh seseorang. Aku meraih handukku dan melilitkannya di tubuhku. Kubuka pintu dan kulihat tante Dewi hanya dengan memakai kimono.
"Kamu dipanggil tante"
Pikiranku kembali ke adegan yang kulihat dari lubang kunci sehingga kujawab, "Tapi saya baru mau mandi" Dengan harapan tante Dewi terangsang melihat keadaan tubuhku terlilit handuk kemudian mencumbuku. Ternyata tidak.
"Terserah kamu mau mandi. Tapi aku cuma disuruh"
Dia kemudian pergi dari hadapanku. Aku lalu masih berselimutkan handuk lalu masuk ke kamar tante Layla dan kulihat dia sedang tengkurap di tempat tidur hanya dengan memakai CD saja.

"Ada apa tante?"
"Kamu bisa mijit kan"
"Bisa"
Disuruhnya aku untuk duduk di atas tubuhnya dan aku mulai memijit. Aku memijit sambil membayangkan adegan yang kulihat dari lubang kunci. "Handuknya dilepas saja" Aku menoleh dan kulihat tante Dewi melepas kimononya. Dia yang juga memakai CD saja kemudian naik ke tempat tidur dan menarik handuk yang masih kupakai.

Sekarang kami bertiga sudah sama-sama setengah telanjang. Tante Dewi duduk di belakangku dan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Digesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggungku dan tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudaraku. Aku semakin berani dan tanganku yang memijit punggung tante Layla lalu turun ke bawah meremas kedua payudara tante Layla.

Setelah beberapa menit, tante Dewi lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Layla juga turun dan berdiri di belakang tante Dewi. Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Layla dari belakang meremas kedua payudara tante Dewi. Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Dewi yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu.

Sekarang mereka sudah saling berhadapan dan berpelukan sambil berciuman serta saling meremas pantat. Jari tante Dewi dimasukkan ke pantat tante Layla begitu pula sebaliknya. Mereka serentak melepaskan ciumannya dan mendesah bersama-sama. Tante Dewi melepaskan pelukan tante Layla dan menyuruhku untuk tiduran. Dia kemudian mencium bibirku dan aku membalasnya. Lidahku masuk ke mulutnya dan saling menjilat. Tangannya meremas kedua payudaraku dan perlahan-lahan kemudian turun ke bawah. Dia menerima sesuatu dari tante Layla. Kulihat penis buatan ada di tangannya. Kemudian penis buatan yang besar itu perlahan-lahan dimaukkan ke vaginaku.

Pertama hanya dimasukkan 2 cm, kemudian ditariknya lagi. Lalu dikeluar-masukkan lagi lebih dalam sampai 7 cm. Dan dikocoknya vaginaku sedangkan mulutnya menghisap payudara kiriku. Aku menikmati perlakuan tante Dewi dan kulihat tante Layla ikut bergabung. Dia mulai mencium bibirku, kemudian turun ke bawah menghisap payudara kananku sedangkan tangannya yang juga memegang penis buatan memasukkannya ke mulutku dan dikeluar-masukkan.

Beberapa saat kemudian tante Dewi menghentikan mengocok vaginaku tetapi penis buatan itu ditinggalkannya. Tante Layla juga berhenti mengeluar-masukkan penis buatan ke mulutku. Tante Layla lalu tengkurap di atasku sambil penis buatan yang masih ada di vaginaku dimasukkannya ke vaginanya kemudian dia naik turun. Seolah-olah aku adalah laki-laki dengan penis besar.

Setelah beberapa menit dia terlihat lemas kemudian tidur di atasku. Kedua payudara kami saling menempel. Kurangsang dia dengan ciuman di bibirnya. Dia mulai terangsang dan memelukku sambil pindah posisi. Tante Layla di bawah dan aku di atas. Aku merasakan ada sesuatu masuk ke lubang pantatku. Ternyata tante Dewi telah tidur di atasku dengan penis buatan di vaginanya yang dimasukkan ke pantatku. Permainan ini berlanjut sampai tengah malam secara bergantian. Aku dengan tante Dewi, aku dengan tante Layla, tante Dewi dengan tante Layla, serta kami bertiga bercumbu bersama-sama. Kami bertiga sangat menikmati permainan ini terutama aku yang baru pertama kali melakukannya.

Demikian pengalamanku bercumbu untuk pertama kali dengan sesama wanita. Pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita ini berlanjut di "AKU DAN CHINTYA".
AKU DAN CHINTYA

Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.

Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan handuk.

Waktu itu aku sudah lupa dengan kejadian yang kuceritakan di "AKU DAN TANTE-TANTE". Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya. Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.

Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya. Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya. Dia membalasnya dengan lembut.

Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya. Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya. Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan melepaskan diri dari pelukanku.

Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.

Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya. Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.

Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.

Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH. Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.

Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD, dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.

Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya melepas CD-nya sendiri.

Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami terkulai lemas.

Demikian pengalamanku bercumbu dengan Chintya meskipun kemudian dia tidak mau lagi bercumbu denganku. Dia katanya mau hidup normal dan hanya menganggapku sebagai teman. Pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita ini masih berlanjut di "AKU, AMBAR DAN ULLY".
AKU, AMBAR DAN ULLY
[ Score: 5.28, Vote: 64 ] -
Setelah percumbuanku dengan Chintya, dia hidup normal dan hanya menganggapku sebagai teman. Sehingga aku kehilangan tempat untuk memenuhi hasrat seksualku. Sejak itu aku sering mengkhayal sedang bercumbu dengan artis-artis nasional yang mempunyai payudara sensual. Yang paling aku senangi adalah berkhayal bercumbu dengan Cut Keke di kamar mandi.

Suatu hari di awal bulan Juli tahun 2000 lalu di rumahku kebetulan sepi. Sore itu ibuku sedang pergi ke luar kota dan ayahku sedang kerja di kantornya. Kuundang kedua temanku yang juga sering kukhayalkan bercumbu denganku. Ambar dan Ully. Mereka berdua sama-sama mempunyai payudara yang sama besarnya dengan punyaku. Kami lalu bertiga menonton VCD yang sengaja kuputar film porno yang kupinjam dari sebuah rental. Kami bertiga duduk berdampingan di kursi sofa. Ambar di sebelah kiriku dan Ully di sebelah kananku.

Pada waktu adegan kedua baru mulai vaginaku sudah terasa basah dan tanganku masuk ke celana jeans pendek ketatku. Kebetulan aku sengaja tidak memakai CD sehingga jariku langsung masuk ke vaginaku dan menggeseknya. Ambar melihat perbuatanku dan tangannya juga ikut masuk ke vaginanya sendiri. Tanganku lalu meremas kedua payudaranya yang masih dilapisi kaos oblong yang dikenakannya. Dia tidak menolak dan bibirnya mencium bibirku serta tangannya meremas juga kedua payudaraku. Kami saling meremas dan lidah kami saling menjilat di dalam kehangatan ciuman. Ully yang berada di belakangku bergabung dengan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Lalu Ambar kutidurkan dan kulepas kaos yang kukenakan.

Setelah itu kutindih dia sambil kuciumi wajahnya. Ully melepas BH-ku dari belakang sehingga aku melepaskan ciuman dari wajah Ambar. Aku akan membalik untuk mencium Ully, tetapi dia dari belakang meremas kedua payudaraku yang sudah telanjang dan tangan Ambar melepas retsluiting celana jeans pendek ketatku. Jarinya berusaha masuk ke vaginaku yang bertambah basah.

Tiba-tiba telepon yang ada di rumahku berdering. Aku tanpa memakai pakaian yang tadi dilepas bangkit ke meja telepon. Ternyata telepon dari ayahku yang mengabarkan bahwa dia tidak pulang karena ada urusan. Aku merasa senang dan berencana mengajak Ambar dan Ully menginap di rumahku. Aku meletakkan gagang telepon dan menuju ke kursi sofa. Kulihat Ambar dan Ully sudah sama-sama hanya memakai pakaian dalam saling berciuman dan mencoba melepas BH yang dikenakan. Kukejutkan mereka dan kukatakan bahwa pemainan ini terpaksa harus berhenti sementara. Mereka kuminta pulang dulu dan kusuruh datang pukul 8 malam untuk melanjutkan permainan. Mereka setuju.

Malamnya Ully datang pertama kali. Karena aku tidak sabar begitu dia masuk dan aku menutup pintu, aku memeluknya dari belakang dan kuremas kedua payudaranya. Kudengar bel pintu. Aku melepaskan pelukanku dan kusuruh Ully langsung ke kamar. Aku membuka pintu dan ternyata Ambar telah datang. Langsung saja kami masuk kamar. Kulihat Ully sudah tinggal memakai pakaian dalam saja sedang tiduran di tempat tidur. Kusuruh Ambar untuk mencumbunya dulu. Ambar langsung melepas pakaiannya dan ternyata dia tidak mengenakan BH hanya memakai kaos singlet dan CD.

Dia lalu menghampiri Ully dan mendudukkannya. Dia lalu mencium Ully dan tangannya melepas BH yang dikenakan Ully. Sedangkan Ully melepas kaos singlet yang dikenakan Ambar dan aku yang berdiri hanya memakai gaun tidur tanpa pakaian dalam langsung terangsang. Kulepas gaun tidurku. Ambar yang melihatku langsung turun dari tempat tidur diikuti Ully. Ambar mendorongku sampai ke tembok lalu mencium bibirku dan meremas payudara kiriku. Sedangkan Ully jongkok di samping kakiku dan kaki Ambar lalu menjilati vaginaku yang basah sambil tidak lupa tangan kirinya meremas kedua payudara Ambar dan tangan kanannya meremas payudara kananku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada duanya.

Setelah beberapa menit Ambar dan Ully menjamah tubuhku dan aku sudah merasakan lemas, mereka berdua saling berpelukan dan saling menempelkan vaginanya. Mereka mendesah bersama-sama. Setelah itu Ambar melepas pelukannya dan lalu naik ke tempat tidur. Dia tidur telentang dan Ully menindihnya sambil menciumnya. Tangannya masuk ke vagina Ambar dan mengocoknya perlahan-lahan. Mulutnya perlahan-lahan turun ke vaginanya. Sambil jarinya mengocok vagina Ambar mulutnya juga menjilatinya. Aku yang sudah bergairah lagi ikut bergabung dengan mencium bibirnya yang kelihatannya akan mengeluarkan desahan. Kucium dan kujilat lidahnya. Dia membalas sambil tangannya menarik tanganku agar meremas kedua payudaranya. Kuremas kedua payudaranya dan tangannya juga meremas kedua payudaraku. Ambar ternyata dapat bertahan lebih lama dariku dari jamahanku dan Ully.

Sekarang giliran Ully. Ully tidur telentang dan payudara kirinya dihisap oleh Ambar dan payudara kanannya kuhisap. Dia mendesah dan kedua tangannya juga membalas dengan meremas kedua payudaraku dan kedua payudara Ambar secara bergantian. Jariku dan jari Ambar lalu masuk ke vagina Ully dan mengocoknya perlahan-lahan. Ully ternyata akan mendesah lebih keras lagi sehingga bibirku dan bibir Ambar berebutan untuk menahannya. Bibir kami berdua akhirnya berciuman sambil jari kami berdua kami keluarkan dari vagina Ully dan naik ke atas berebutan kedua payudara Ully. Kami berdua meremas kedua payudara Ully dan ciuman kami turun ke bawah dan menjilati vagina Ully. Ully ternyata kalah dariku dalam bertahan.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkannya lagi. Aku tidur di tengah berhadapan dengan Ully dan Ambar berada di belakangku. Kami mulai lagi dari awal dan tidak lupa bergantian posisi tengah, depan, belakang. Kami bercumbu sampai sekitar pukul 3 dini hari. Setelah itu kami tertidur pulas karena kelelahan. Dengan posisi aku dipeluk Ambar dari depan dan Ully dari belakang.

Pagi harinya aku terbangun dan kulihat Ambar dan Ully sudah tidak ada di tempat tidur. Kudengar desahan-desahan dari dalam kamar mandi. Aku bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Kulihat Ambar dan Ully duduk berhadapan di bath tub yang penuh dengan busa sabun. Mereka berdua yang tubuhnya penuh dengan busa sabun sedang saling meremas kedua payudara mereka. Aku lalu berdiri di bawah pancuran dan kuhidupkan kran. Ambar bangkit dari bath tub dan menutup kran pancuran. Dia lalu berdiri dibelakangku dan mengambil body shower. Diusapkannya body shower ke kedua payudaraku dari belakang dan kemudian meremas-remas kedua payudaraku. Aku membalik tubuhku dan membalas meremas kedua payudaranya.

Dia lalu meratakan body shower ke seluruh tubuhku kemudian memeluk tubuhku. Kemudian tangannya membuka kran pancuran lagi. Kami berdua saling melepaskan pelukan dan saling membilas tubuh kami dan juga meremas kedua payudara serta beberapa bagian tubuh yang lain. Setelah kami berdua bersih dari sabun dan busanya, Ambar mematikan kran pancuran dan keluar dari kamar mandi sambil menggaet handuk. Aku masih berdiri dan melihat Ully yang tidur di bath tub yang airnya sudah kering tinggal busa sabun yang menempel di tubuhnya. Kulihat kedua payudaranya dan lalu kuremas. Setelah itu kutindih tubuhnya dan kami pindah posisi. Aku sekarang di bawah dia di atas dan duduk dengan posisi kedua vagina kami saling menempel. Dia meremas-remas kedua payudaraku. Kemudian dia mengusap seluruh tubuhku dengan busa sabun yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia menindihku dan membuka kran bath tub. Kami berdua saling membilas tubuh kami dan juga meremas kedua payudara serta beberapa bagian tubuh yang lain.

Setelah itu aku lebih dulu keluar dari kamar mandi setelah menghanduki tubuhku. Aku keluar dengan telanjang karena handuknya dipakai oleh Ully. Ambar ternyata tidak berada di kamar. Aku keluar dan kulihat Ambar dengan melilitkan handuk di tubuhnya sedang berjalan ke arahku sambil membawa secangkir kopi. Kusongsong dia dan kucium dia sambil tanganku meraih cangkir dari tangannya. Kuletakkan cangkir ke meja yang ada di sebelah kami berdiri dan tanganku lalu melepas handuk yang dikenakan Ambar. Kupeluk dia bersamaan dengan pelukan Ully dari belakang. Aku ingin mulai dari awal lagi tetapi kudengar klakson mobil. Kami bertiga berhamburan cepat-cepat memakai kembali pakaian. Ternyata ayahku yang datang.

Hari itu kami tidak melanjutkan percumbuan karena ayahku seharian di rumah. Ambar dan Ully juga pulang ke kostnya masing-masing. Tetapi di hari-hari selanjutnya kami bertiga bercumbu kembali. Entah di rumahku pada saat sepi atau di tempat kost Ambar atau di tempat kost Ully. Tapi sejak awal bulan Agustus tahun 2000 lalu Ully telah mempunyai pasangan cewek baru yang masih muda dan memutuskan berpisah denganku dan Ambar. Perpisahan dirayakan dengan bercumbu semalam suntuk antara aku, Ambar, Ully dan ceweknya. Sejak itu aku hanya bercumbu dengan Ambar. Begitulah pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita.

Aku diperkosa tiga orang gadis


Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran. Walau sebenarnya banyak juga gadis-gadis yang mau jadi pacarku.
Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.
Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.
Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.
"Lagi ada yang ditunggu?", tegurnya tiba-tiba.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.
"Tidak..., Eh, kamu sendiri..?",aku balik bertanya.
"Sama, aku juga sendirian", jawabnya singkat.
Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.
"Jalan-jalan yuk...", ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
"Kemana?", tanyaku ikut berdiri.
"Kemana saja, dari pada bengong di sini", sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.
Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.
"Eh, nama kamu siapa...?", tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
"Angga", sahutku.
"Akh.., kayak nama perempuan", celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
"Kalau aku sih biasa dipanggil Ria", katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
"Nama kamu bagus", aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
"Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku,"· katanya meminta.
Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.
"Eh, bubur ayam disana enak lho. Mau nggak...?", ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam.
"Boleh", sahutku.
Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya enak sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai membuat suasana jadi akrab.
Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.
"Mobilku di parkir disana...", katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
"Kamu bawa mobil...?", tanyaku heran.
"Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum", katanya beralasan.
"Kamu sendiri...?"
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
"Ikut aku yuk...", ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan memaksaku untuk singgah.
"Ayo..", Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
"Tunggu sebentar ya...", kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.
Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.
Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.
"Aku dulu..., Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini", kata Ria tiba-tiba sambil melepaskan baju kaosnya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.. Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
"Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian...?", aku membentak kaget.
Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.
Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.
Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.
Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan merjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita penyakit hypersex, tapi juga bisex. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.
Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi aku berteriak tertahan. Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.
Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.
Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak dibatangan penisku..
Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.
Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini...?
Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan terlentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.
Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.
Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka?. Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.
Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.
Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.
Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.
"Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan", katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.
Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.
"Bapak ini siapa?", tanyaku
"Saya pengurus rumah ini", sahutnya.
"Lalu, ketiga gadis itu..", tanyaku lagi.
"hh..., Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak...", katanya dengan nada sedih.
"Bapak kenal dengan mereka?", tanyaku.
"Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi", katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.
Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.
Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.

5 komentar:

  1. Tentang “Pernikahan, Pria & Wanita”

    1. Orang yang membujang adalah orang yang belum menemukan penghibur duka dan dia baru memperolehnya dengan perkawinan.

    2. Suami adalah orang yang mencari kebahagiaan hidup dengan menghilangkan sebagian kemerdekaannya.

    3. Wanita menghadapi banyak permasalahan; sebagian teratasi dengan kawin dan sebagian yang lain teratasi setelah ia masuk liang kubur.

    4. Mata yang paling indah tetapi juga harus diwaspadai adalah mata kaum wanita.

    5. Jangan menyalahkan perasaan istri anda karena perasaannya yang terbaik ialah ketika ia menerima anda sebagai suami.

    6. Perawan tua ialah wanita yang kehilangan kesempatan menyusahkan seorang pria.

    7. Yang diinginkan seorang gadis dari dunia ini hanyalah seorang suami, dan apabila ia sudah memperolehnya, ia menginginkan segala-galanya.

    8. Wanita bisa memaafkan suatu pengkhianatan suaminya, tetapi dia tidak bisa melupakannya.

    9. Kecantikan wanita tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan
    perilakunya.

    10. Sebelum kawin, wanita hafal seluruh jawaban dan sesudah kawin, ia hafal seluruh
    pertanyaan.

    11. Barangsiapa mengawini wanita karena hartanya, maka dia telah menjual kemerdekaannya.

    12. Wanita adalah bintang dan pelita bagi pria. Tanpa pelita, pria bermalam dalam kegelapan.

    13. Wanita lebih cepat daripada pria dalam menangis dan dalam mengingat peristiwa yang menyebabkan dia menangis.

    14. Wanita tertawa bila ia mampu dan menangis apabila ia menginginkansesuatu.

    15. Sirnalah kebahagiaan seorang wanita jika ia tidak mampu menjadikansuaminya kawan yang termulia.

    16. Wanita sangat berlebihan dalam mencintai dan membenci, dan tidakmengenal
    pertengahannya.

    17. Wanita selalu tergolong manusia halus dan lembut sampai saat diakawin.

    18. Tidak mungkin seorang pria hidup berbahagia tanpa didampingi olehistri yang mulia.

    19. Wanita hidup untuk berbahagia dengan cinta, sementara pria mencintai untuk hidup berbahagia.

    20. Kejeniusan wanita terletak di dalam hatinya.

    21. Seorang wanita yang bijaksana menambahkan gula pada kalimatnya setiap kali berbicara dengan suaminya, dan mengurangi garam pada ucapan suaminya.

    22. Cincin kawin adalah cincin termahal di dunia, sebab mengharuskan pemberinya mencicil harganya setiap bulan tanpa henti.

    23. Sesungguhnya tidak ada wanita yang sangat cantik, yang ada ialah kaum pria yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan.

    24. Bagi pria, yang terakhir kali mati ialah jantungnya dan bagi wanita adalah lidahnya.

    25. Wanita tidak diciptakan untuk dikagumi semua pria tetapi sebagai sumber kebahagiaan seorang suami.

    26. Pada waktu bertunangan, lelaki banyak berbicara dan perempuan mendengarkan. Pada saat perkawinan, perempuan berbicara dan pengantin lelaki mendengarkan.
    Sesudah perkawinan, suami dan istri banyak berbicara dan para tetangga mendengarkan.

    27. Setiap wanita mempunyai dua mata. Adapun wanita yang cemburu berlebihan mempunyai tiga mata. Satu di sebelah kanan, satu di sebelah kiri dan yang ketiga diarahkan kepada suami.

    28. Wanita pada umumnya takut akan tiga hal : tikus, munculnya uban dan wanita-wanita cantik yang menjadi saingannya.

    29. Istri yang bersikap jujur dan setia kepada suami meringankan setengah beban kehidupan suaminya.

    30. Seorang wanita menghadapi kesulitan apabila ia berada diantara pria yang dicintainya dan yang mencintainya.

    BalasHapus
  2. http://pisangbesar.blogspot.com

    BalasHapus